Tuesday, March 04, 2008

Bara no Nai Hanaya part II: Pelajaran tentang Cermin

4:11 AM 3/4/2008

Jika saat ini yang kita lihat sinema Indonesia masih asyik mencungkil sisa-sisa mimpi 'menjadi' megah atau mencecap remah-remah Cinderella complex, dorama Jepang pun nyatanya tengah mencari melting point untuk masyarakatnya sendiri. Ya, film dan musik adalah produk budaya yang merepresentasikan masyarakat produsen budaya itu sendiri, yang pada satu titik tertentu justru menawarkan antitesis bagi budaya yang tengah mapan. Produk seni mempengaruhi manusia, manusia mensintesa seni. Dua hubungan yang selalu berkaitan.


Persis seperti yang dibilang Anis Matta dalam Membentuk Karakter cara Islam,bahwa dunia kini telah memisahkan individu dari masyarakatnya. Individu tak lagi melihat masyarakat sebagai tempatnya melebur, karenanya tidak lagi merasa hidup untuk masyarakatnya. Ia hidup untuk dirinya sendiri. Kehilangan nurani sosial, dan menemukan dorongan fatalisme sebagai gantinya. Berhenti mempercayai orang lain. Alih-alih persahabatan, manusia kian nyaman dengan keterasingan. Inilah yang dirasakan manusia-manusia di dunia industri dewasa ini. Kehilangan makna kemanusiaannya sebagai makhluk sosial. Inilah yang diderita mayoritas komunitas di Nippon sana. Maka muncullah melting pot para perindu kehidupan baru yang bersandar pada nilai-nilai kepercayaan hubungan antar manusia: dorama (GTO, DS, GS, HYD, BntB, HznKe, dll), manga (Naruto, HxH, RK, FB, dll), mungkin juga bentuk-bentuk lain yang saat ini masih dalam proses kreasi. Pencerahan ini disusul dengan penguatan nilai sebuah ikatan keluarga (DYmMwA, HYtP, BnNH, HnH, dll). Nilai-nilai yang kian langka di negeri itu.


KAGAMI

People are like mirrors. When someone treats us nicely, it makes us feel like doing the same in return. Kindness will reflect kindness. When someone treats us coldly, or bad mouths us, you'll be like "I want to do the same thing back!". It's make you feel terrible. Like the reflection in a mirror. Itulah yang dikatakan Ibu Shuzuku. Dan itu pula yang dilakukan Papa Shuzuku. Sebuah langkah kecil sesederhana mengirimkan e-mail ucapan terima kasih akan membuahkan relasi yang baik di kemudian hari, katanya.

Jadi, jika suatu waktu tiba-tiba kita menerima suatu 'efek buruk' yang ditimpakan oleh orang lain, mari kita berintrospeksi: jangan-jangan kita duluan yang memulai merefleksikan ketidakbaikan kepada orang tersebut. Entah dalam niat yang tersembunyi di hati, lintasan pikiran, ataupun lisan yang tidak terjaga. Lihatlah teman-teman kita, jika mereka adalah orang-orang yang baik, berharaplah kita juga mendapat limpahan berkah kebaikannya. Jika mereka belum bisa dikategorikan orang-orang shalih, lihatlah diri kita. Pastilah kita belum menjadi orang yang shalih dan menshalihkan! Benar, bukahkah harus ada yang memulai menyalakan lilin sebelum cahaya lilin itu dipantulkan para cermin? Mengapa bukan kita yang memulai. Karena satu kebaikan akan membawa kita pada kebaikan yang lebih besar, kata orang-orang 'alim. (***mentrigger diri sendiri***)

1 comment:

KeCeBoNg said...

aLhamdulillah udah dapet sambungannya ampe eps.8 :D
tinggal nyedot yg ke-9