Thursday, August 30, 2007

Mesin Ketik Setia

Bosan sih sebenernya nulis tentang rumah mulu. tapi yang datang justru ilham-ilham tentang rumah, jadi yasud..

selain silaturrahim, agenda saat pulang kampung adalah mengurus surat-surat pengantar dari desa. berhubung saat itu sang Bapak sedang ampek sama salah seorang personel kantor desa yang resek, maka berangkatlah saya dengan segenap kemampuan yang ada. membesar-besarkan hati (*takut trauma kebagian petugas yang resek) dan membangun pikiran positif (*toh sampai hari ini selalu ada 'orang baik' di antara orang-orang resek tadi). Sudah jam 9, hari Jum'at, (*artinya tinggal dua jam sebelum kantor tutup) tapi sama-sekali belum ada petugas. Duh, masak gara-gara Carik mantu seluruh personel ikutan libur.. Budaya kita memang menggumunkan..

Syukurlah, beberapa saat menanti, datanglah juga salah seorang oknum kantor desa itu. Langsung diserbu para penunggu surat sakti, syukurlah saya dapat giliran pertama (*secara saya datang yang pertama kali, yeah!). Dan mulailah bapak asisten carik (*entah apa jabatan yang sebenarnya) itu mewawancarai saya, sambil menyiapkan kertas (*ya ampun, berapa gsm tuh? tipis bangeed!) dan mesin KETIK MANUAL! Gila, benar saja, lima belas menit belum beres juga ketak-ketok tuts mesin ketik tuwir eta! Hayah, padahal kalau pake komputer, cukup bikin satu template untuk tiap jenis surat, tak-tik-tak-tik beres isi form-nya, klik print, dhok.. kasih tanda tangan dan cap. Jadi nggak sabar. Tapi inilah kenyataannya. Sang Tukang Ketik dengan tampang mantan militer dan tangan yang penuh dihiasi macam-macam tato terus mencap aksara satu persatu, beberapa kali memakai tipe-ex yang dia perlakukan seolah-olah tongkat sakti nan tiada tara.


Akhirnya beres sudah. Sekilas kulihat Pak Nari yang berperan sebagai kurir sekaligus tetangga pengertian itu mengedikkan mata, isyarat agar aku langsung pergi. Tapi jiwa penasaran menggerakkan lidahku pada Bapak Pengetik: "Biaya administrasinya berapa, Pak?". Rupanya Pak Nari belum menyerah, tepat sebelum kalimat saya mencapai tanda tanya, beliau sudah menyibukkan Bapak Pengetik dengan job berikutnya. Hehe, padahal kan saya mau tahu, benarkah yang dibilang Bapak saya, sebagai bagian dari lubang-lubang tikus birokrasi, Bapak Pengetik yang dikenal tanggap money ini akan tetap meminta bayaran meskipun sudah ada peraturan tidak boleh ada pungutan untuk pembuatan surat semacam yang saya minta ini. Makasih deh, Pak. Kebetulan saya memang cuman bawa tiga ribeng.. Padahal kalau Bapak Pengetik benar-benar minta, nggak akan cukup tuh. Walaupun saya prihatin untuk kerja keras yang harus dilakukan jari-jari para carik desa, toh saya tetap nggak mau terjebak lubang birokrasi. Semoga Alloh saja yang membalas, kudoakan cepat ada yang menyumbang seperangkat komputer untuk desa itu. pentium dua saja sudah memadai. Tapi, saya ragu mereka akan bisa mengoperasikannya. Oalah..

2 comments:

Anonymous said...

saat login ke bloggie semakin susah,,
dan TAnTAngan semakin menyilaukan mata,,
maka aku katakan padamu, peTToku:
hati-hati di rumah
kalau lapar, kunjungi saja blog tetangga..
pasti ada banyak makanan hati di sana
karena saya mau bertapa dulu,
peT, dua bulan ini kamu aku LOCK saja!
huhuhu, aku blom off tapi sudah kangen ngeblog..
bubye bubbye semua

[rada gelo posting dikomen]
iistea

syiddat said...

No Comment....:P