Friday, October 02, 2009

Resensi: NEXT

Judul Novel : NEXT

Penulis : Michael Crichton

Genre : Fiksi Ilmiah

Alih Bahasa : Gita Yuliani K.

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tempat/ Tahun Terbit : Jakarta, April 2009

Jumlah Halaman : 488 halaman



Pernahkah Anda berpikir bahwa suatu saat Anda bisa mendapat kesulitan besar hanya gara-gara menyumbangkan beberapa mili darah Anda? Mungkin hal itu masih jauh dari angan-angan Anda saat ini, namun setelah Anda membaca novel ini, saya jamin Anda pasti berpikir setidaknya dua kali sebelum merelakan setiap mili jaringan Anda jatuh ke tangan orang lain. Bagaimana tidak? Saat bioteknologi sudah berkembang sedemikian maju, setiap bagian dari tubuh kita adalah sebuah aset data yang bisa dimanfaatkan, bahkan dimanipulasi, demi kepentingan tertentu. Sebutlah uji DNA untuk identifikasi jati diri seseorang, identifikasi gen-gen pembawa sifat tertentu yang bisa jadi digunakan sebagai dasar bukti kasus hukum, dsb. Semua ini akan Anda temukan dalam rajutan kisah NEXT yang menawan.

Bayangkanlah langit yang biasa kita berwarna biru atau kelabu, suatu saat nanti akan dihiasi awan berwarna-warni yang membentuk logo atau nama perusahaan tertentu. Muncul di saat tertentu, lalu menghilang lagi untuk muncul di bagian langit yang lain dengan pendaran warna yang lain pula. Hal ini bisa dibuat dengan menebar nano partikel di udara, dikombinasikan dengan bakteri tertentu, lalu direkayasa dengan mengatur aspek cuaca lainnya. Sekarang, mari bayangkan dunia iklan yang lain lagi: ikan berenang di samudra, zebra dan jerapah berkeliaran di sabana, burung-burung terbang di alam liar; semua dengan sisik, sirip, dan bulu yang membentuk logo atau nama perusahaan tertentu. Menarik bukan? Pertanyaannya kemudian, bagaimana jika hal ini dihadapkan dengan aspek moral dan psikologikal manusia. Lebih dari sekedar hambatan kelembaman masyarakat untuk menerima hal-hal baru, rekayasa dan eksploitasi terhadap alam oleh industri kapitalis semacam ini bisa saja membawa bencana bagi kelestarian hayati. Mereka bisa saja berdalih bahwa mereka membuat hubungan saling menguntungkan dengan lingkungan: mereka menyumbangkan dana yang tadinya untuk promosi menjadi dana penyelamatan lingkungan. Tapi benarkah itu sebanding?

Isu keberadaan Orang Utan Sumatra yang bisa bicara yang diduga hasil rekayasa genetika makhluk hybrid antara manusia dengan primata, disinggung juga oleh novel ini. Adanya keterikatan geografis tentunya menjadi daya tarik tersendiri bagi kita, orang Indonesia. Hal ini, di sini lain, membuat saya tergelitik, mengapa justru orang lain yang lebih cekatan mengeksplorasi kekayaan sumber cerita alam liar negeri kita. Kapan kiranya akan lahir karya-karya anak bangsa yang bertopang pada kekayaan hayati kita yang didukung daya kreativitas asli, bukan sekedar kisah tragis yang kelewat dieksploitasi (ambil contoh kisah Manohara).

Bioteknologi adalah sebuah Kotak Pandora yang membuat semua orang penasaran lalu ingin membukanya. Sebagian terlalu larut dalam euphoria berharap pada mukjizat ilmu pengetahuan, sebagian terlalu paranoid menafikan segala peluang yang terbuka bagi kesejahteraan. Namun yang dijanjikan oleh alam adalah dua mata uang yang sudah ‘sepaket’. Untung rugi adalah sebuah kepastian. Demikian juga dengan bioteknologi yang membuka kemungkinan-kemungkinan baru dalam bidang pengobatan penyakit yang sementara ini dianggap tak bisa disembuhkan, juga pengadaan sumber daya pangan. Tentu saja ini adalah hal yang sangat baik dan dinanti-nantikan. Namun efek dominonya sudah bisa diramalkan: angka harapan hidup meningkat tentunya akan diikuti pula oleh peningkatan kebutuhan akan pangan dan perumahan, kelangkaan sumber daya, perubahan lanskap bisnis pengelolaan dana pensiun; pendeknya masalah baru bagi pemerintah. Keadaan ini pada gilirannya akan mengubah tata wajah dunia. Akan baik atau burukkah pada akhirnya? Sepertinya kita harus menunggu beberapa dasawarsa lagi untuk mengetahui jawabannya, karena novel ini adalah sebuah insight yang mendahului masanya.

Sayang, bila dibandingkan dengan buku Michael Crichton yang lain seperti Prey atau Sphere, novel ini bisa dibilang kurang fokus. Begitu banyaknya masalah yang disorot berefek pada kurang tajamnya penokohan dan adanya beberapa fragmen cerita yang belum mendapatkan kepastian penyelesaian. Dengan mengesampingkan beberapa kesalahan minor pada penulisan, karya terakhir Michael Crichton ini sangat layak untuk dibaca dan dikoleksi, terlebih bagi Anda yang berkecimpung di bidang ilmu hayat atau yang tertarik dengan ilmu genetika. Tentu saja, sebagai sebuah karangan fiksi, buku ini menyisakan banyak ruang perdebatan. Namun, dengan adanya sembilan halaman bibliografi (yang secara khusus dikomentari oleh sang penulis, memberi kita gambaran umum pustaka tersebut) tentunya menjadi jaminan bahwa novel ini bukanlah sebuah fiksi ilmiah yang main-main.

6 comments:

muhramla said...

Nah, ini baru resensi (beneran). Jadi pengen baca euy (tapi masih m*l*s).

KeCeBoNg said...

muhramla; hmm, sebenernya kepanjangan.. seharusnya maksimum 200 kata..
mangga dibaca,jangan mules mulu.. minum obat makanya..

muhramla said...

Justru kalu mules saya jadi "rajin" baca (coz to*l*t is my fav reading room...)

KeCeBoNg said...

muhramla; sekarang sudah tamat dong.. selamat :) ditunggu resensinya..

muhramla said...

Tamat gimananya? Sy kan ga mules, tp m*l*s (-:

KeCeBoNg said...

(-: