Friday, October 02, 2009

Resensi: Contact

Membaca novel ini membuat saya cemburu; pada tokoh utamanya yang seorang fisikawan wanita itu.. (haha! Kayak anak eSDe aja, iri-irian.. da’ tapi ya begitulah si cebong ini!) hmm, harus diakui, sampai sejauh ini kiprah wanita dalam bidang fisika memang belum banyak yang menonjol (apa akunya aja yang nggak tau ya..? ah, dodol.. selain Madam Currie, saya belum tau nama laen lagi..)

Ini buku terakhir dari sederet buku yang ingin saya lahap waktu itu.
Begitu beres baca, rasanya pengen segera bikin resensinya (dirasain mulu, nggak dikerjain.. huehhehe.. sami mawon dengan dodol). Jadilah nih resensi dibuat saat ini 29/09/2009 1:02:49 (*itu juga karena ngga bisa tidur aja, bukan nyengaja ya bong? Weks.. Padahal jadinya ‘curhat buku’ ya? Bukan resensi, weks.. *)

Ya, ditaruh di list terakhir, karena setelah membaca ‘koper’nya, asa tuuut gitu deh.. ilfil ingat cerita-cerita ETI (*bukan tentang penjual jamu gendong bernama mbak yu Eti yang mati lalu bangkit lagi.. bukan.. eta mah pelem Indonesia biasanya..*) buatan Beros Warner yang gitu itu (*nggak masup akal; bikin pengen nendang udel sutradara dan penulis se-kena-rio-nya*). Ditambah lagi, pas skimming page ending (weeh?) asa udah pernah baca cerita pendek yang miriiiiiiiiiip banget sama itu. (*hehe, daku bacanya di Annida, pas jaman kuliah ngampar terlantar di basement perpus pusat terkapar setelah mabok jurnal.. hayah.. *). Ya, pastinya tanpa membandingkan tahun terbit novel dengan cerpen itu pun, alam bawah sadar saya sudah tahu yang mana yang lebih original (*plok plok plok.. salah satu hal keren yang dimiliki cebong..! ck ck ck.. selain kemampuan bertransformasi dari cebong-bebek-cicak-cebong..*). Tapi tetap saja. Sudah kadung timbul prejudice tidak sedap akan novel ini. Padahal, sejujurnya (*dari hurup pertama juga jujur kan bong? Kok pake ‘sejujurnya’ segala.. hmm… jujur mah always atuh lah..*), saya lumayan tergoda saat ‘baca’ bab satu-nya. I knew this is gonna be a deep and long and ‘scary’ story. Dan saya tidak perlu meralat komentar saya itu, memang.

Deep, karena banyak pergulatan batin yang diulas di sana. Bagaimana seorang anak hawa (*hehe..*) menjadikan dirinya sebuah anak tangga (*hus, bukan mejik ala The Master.. ini metafora aja*) yang ingin selapis lebih tinggi mengenal hidup (*ya, fisika adalah segala tentang yang mati untuk menjelaskan yang hidup, bukan?*); sedikit membuka rahasia langit dan keagungannya yang mencengangkan. Keyakinannya bahwa Tuhan akan ‘berbicara’ sendiri padanya, telah membawanya pada perjalanan yang membawanya ‘kembali’. Gugatan-gugatannya atas keberagamaan, pada akhirnya harus berhadapan dengan kekerdilannya sebagai manusia. (*fyuuh.. inilah beda ‘penemuan’ novel ini dengan cerpen yang tadi saya bilang, yang tentunya bernafaskan islam. Hmm, inilah jalan amalmu menuju surga, wahai ilmuwan.. bahkan Ibrahimpun bertanya, bukan? Li-yathmainna qolbiy…*)

Long, banyak konflik (*motif kekuasaan, ketergila-gilaan pada pengetahuan, makna keluarga*), juga banyak kepentingan (*ambisi menjadi negara digdaya, bangsa terdepan, dendam tak berkesudahan, nama besar dan kekayaan*). Semua dibingkai apik dalam plot sederhana tapi menguras pikiran dibumbui ironi yang menghentak (*juga permenungan; betapa manusia-manusia bisa bertingkah konyol dan edan: begitu jugakah saya?*).

Scary, karena di sini saya bertemu contoh banyak hal dalam kelokan hidup ini yang siap memberi kita kejutan; yang kadang mematahkan perhitungan dan perencanaan seorang manusia. Kematian orang yang kita sayangi, rencana-rencana matang yang toh tidak mulus, kesalahan yang kita buat semata karena kita manusia (Bukan scary yang horror).

Ya, begitulah. Sekarang cebong tidur dulu 29/09/2009 2:26:10 not a bad one and half an hour.

Naon seeeh..? Udah nyampe sini tapi dari tadi isinya curhatan tentang pendapat cebong mengenai buku ini, ngga ada sama sekali resume jalan kisah sesungguhnya (*kan bukan resensi, sesuka saya dong! Makanya baca sendiri..*) biar bisa kenalan sama mBak Ellie dan maen bareng setilah-setilah fisikanya yang bikin ‘kaya’.

Eh, tapi ini saya tulis (*tanpa barang bukti*) dua bulanan setelah saya baca novelnya, jadi yang tersisa adalah kesan super-subjektif cebong (bahkan siapa penulisnya pun sementara ini saya lupa.. halah!). Tapi percayalah, ini buku layak konsumsi dan koleksi.. Percayalah!




Note: semua yang ada di antara tanda bintang adalah bagian yang (sejatinya) kena sensor mBah Dukun. Demikian, semoga dapat dipercaya dan tidak menularkan gila.


Note ngga penting part two: another thing that make me feel the ‘scary’ atmosphere is the correction wrote by the owner (editor, err...) of this book; somewhat made me think like: aarrrgghhh.. I’m nowhere near this level of addiction towards ‘reading’ (yet!).

2 comments:

muhramla said...

Heuheu, reseni apa re-sensi... (-:

(Hmm, kayaknya pernah baca, tapi udah lupa ceritanya. Mo baca ulang, tapi m*l*s.)

KeCeBoNg said...

muhramla; betul.. hehe.. (*sayangnya memang lebih suka re-sensi daripada resensi*)
daripada mules baca, mungkin memang lebih baik nulis saja..