Tuesday, November 30, 2004

Hidup...

Sebuah mimpi dicari
sejumput ragu menyerbu
sejengkal tekad dipahat
selangkah patah menerpa

ah..

hidup
manis engkau
getir di lidah beku

Tuesday, November 09, 2004

Yaa... Balik deh...

Hikz...
Liburan yang cuma dua minggu ternyata musti berakhir juga
bahkan kudu disiapin buat diakhiri sebelum jatah usai ...
tapi bingung euy ... blom ada tiket buat balik =(


kangen Bandung,
Kumaha? Damang sadaya??

GeRBoNG


Tak pernah aku sangka
sepotong gerbong bisa jadi begitu bermakna
dari rahimnya, beribu harap bermuara
ibu tua mendulang sepiring nasi
kakek bungkuk ngamen tanpa bunyi
sejoli berpisah mengukir janji ..

...... continued

Tuesday, November 02, 2004

Pulaaaaaaang ....

Pulkam Seriez

Alhamdulillah ,
akhirnya dapat tiket juga,
walaupun dapatnya di hari yang mefeeet... (sst... ada yang mau tukeran nggak ??)
walaupun harus bolos hari terakhir kuliah
Mana ada UTS pula ..

Tapi,
pokokna mah .. di bawa seneng wae
pulang pulang ..
rumah rumah..
hehe

Saturday, October 30, 2004

Merepih Kisah

Selasa, 1 Juni 2004

/* Prasasti Sebuah Pencarian dalam Pelarian

Tahu enggak apa yang aku lihat dalam perjalanan pulangku ini? Banyak ! Banyaaaak banget! Bahkan sebelum berangkat aja, udah ‘aneh’. Aku hampir-hampir ketinggalan kereta karena kelamaan ngenet.. .
Lagi-lagi aku duduk bersebelahan dengan seorang ibu muda. Kali ini dengan anaknya yang masih berumur dua tahunan. Lucu banget.
Kereta meninggalkan stasiun Bandung tepet pukul 17.00 WIB (tumben !). Yup ! Itu yang pertama. Langit cerah. Sekelompok awan putih menggumpal, memanjang laksana naga yang membelitkan ekornya ke bukit. Di bagian langit yang lain, awan gelap tak malu-malu membentuk fraksi baru, mengusung warna jingga .. Kelam … Membuat ngilu yang memandang, namun indah..
Kereta bergerak amat perlahan, sampai-sampai aku tidak merasa kalau dia berjalan. Baru setelah jauh meninggalkan stasiun, goncangan mulai membuat badan tak nyaman. Tapi langitnya indah sekali.. Biru terang. Ada seribu layang-layang dimainkan bocah-bocah, menghias keluasan yang seolah tanpa batas. Ladang terhampar. Batang padi yang lembut baru ditanam. Rapi berbaris, seperti prajurit perwira yang siap menuju medan laga. Dan waktu pun berjalan..
Kereta kian memisahkan diri dari padatnya Bandung. Aku terkejut ketika tiba-tiba mataku menumbuk bola kristal yang menggantung di langit tanpa tali. Bulan perak belum bulat sempurna, tapi cukup bulat seperti bola kristal para penyihir. Padahal hari masih terang, tapi bulan itu sudah tak sabar menantang malam. Sedikit demi sedikit, tanpa aku sadari, suasana semakin kelam hingga jurang maupun sungai yang membayang di bawah nampak gelap menakutkan. Tapi keren juga, membentuk siluet lembut. Bunga kemuning yang tadinya nampak mencolok di tebing-tebing bukit kini tak nampak lagi, digantikan butir-butir bintang yang berkelip malu-malu. Aku jadi ingat syair lagunya ‘Air’ … Bintang di langit kerlip engkau di sana, memberikan cahaya di setiap insan. Malam yang dingin kuharap engkau datang membawa kerinduan di sela mimpi-mimpinya.. Oh bintang tolonglah.. terangi langkahku malam ini.. Yup, begitulah. Jendela kereta yang terbuka membuatku tak sabar untuk tidak mengintip para penjaga langit. Aku biarkan tanganku menggapai keluar lewat celah-celah jendela. Angin menghalau kalor dengan cepat, menciptakan kesejukan khas yang telah lama aku rindukan. .
Kenapa aku milih naik kereta daripada naik bus malam yang jelas lebih aman dan nyaman ( di luar pertimbangan harga tiketnya yang hanya 2/3 nya tiket bus) adalah karena kereta lebih sakti daripada bus !! Lihat saja, kalo kereta lewat, semua pada diem, berenti dulu. Rasanya keren juga kalo orang-orang pada pada berenti nungguin kita lewat .. hehe. Sebelnya, kipas anginnya ga dinyalain, udah itu ada yang ngerokok lagi. Bikin kesel.. ga bisa nafas.
Kereta berhenti di stasiun <>. Terdengar gedoran peminta-minta di jendela, juga teriakan para penjual asongan. Aku tak tahu ini tepatnya jam berapa, yang jelas malam sudah larut. Tapi, di luar masih kulihat anak-anak berlarian menyongsong kereta, mengharap sekeping dua keping koin… Sudah semalam ini !! Tiba-tiba aku merasa malu, dengan ketidakbersyukuranku selama ini. Sementara orang-orang yang kurang beruntung itu terus menawarkan dagangannya. Ibu-ibu penjual nasi bungkus, bapak-bapak yang mengusung setumpuk hasil kerajinan tangan, mas-mas yang menjajakan suaranya.. Ehm, tapi ada yang aneh! Oh, aku baru sadar kalau mereka hanya berani berteriak-teriak dari luar jendela dan sambungan kereta, tanpa bisa masuk atau berkeliaran ke dalam gerbong. Kenapa ya? Di satu sisi aku senang, suasana jadi lebih aman, tidak terganggu pedagang-pedagang yang suka seenaknya menawarkan dan menaruh dagangannya. Tapi di sisi lain, aku tidak tega melihatnya.. Pendapatan mereka yang sejak awal sudah kecil pasti akan lebih berkurang lagi, karena transaksi hanya dilakukan lewat jendela.. Ah, entah apa yang memberi mereka kekuatan untuk tetap melawan arus hidup ini. Apa yang memberi mereka harapan untuk terus dan terus berteriak.. melawan kebosanan mereka sendiri .. Energi mereka yang … subhanallah… seolah tanpa batas..sedang aku yang lebih beruntung dari mereka lebih sering mengeluh ..
Aku jadi ingat kejadian di kampusku. Mulai hari ini, 1 Juni 2004 pada pedagang kaki lima dilarang berjualan di kampus maupun area sekitar kampus, dengan alasan ketertiban, keindahan, bla bla bla.. Tadi saat aku berangkat, ada aksi di depan rektorat untuk menentang kebijakan ini.
Suara beban kereta yang beradu dengan rel membentuk keriuhan khas yang timbul tenggelam. Susah payah aku berusaha menggoreskan pensilku untuk menuliskan setiap yang aku lihat, mengikuti badan yang sebentar-sebentar oleng ke kanan dan ke kiri, terbawa guncangan kereta.
Aku teringat wajah gadis cilik di stasiun tadi, ia menengadahkan tangan mungilnya. Aku yakin, dia tidak sendiri. Mungkin ada belasan, atau malah puluhan anak-anak sebayanya yang juga tengah merampok keluguannya. Menukarnya dengan recehan. Atau gedoran kesal di jendela, plus umpat maki. sinar lampu kuning berkelebatan menerangi catatan ini, memendarkan warna kekuningan. Barisan mobil dan kendaraan lainnya tampak memanjang, terlihat dari lampunya yang membnetuk barisan panjang. Bapak setengah umur dan istrinya (kurasa) yang duduk di bangku depanku nampak sibuk membenahi selimutnya. Derap kereta terdengar lebih lembut, tanpa goncangan (nyaris!). Bocah cilik yang duduk di sebelahku sibuk dengan saputangannya, entah miliknya sendiri atau punya ibunya. Tadinya ia membaca bukunya Enid Blyton yang aku pinjamkan. Tapi ia nampak bosan, lalu dikembalikannya. Ia juga menolak saat aku tawari Donal Bebek. Buku Berkawan Matahari yang sejak tadi hanya kupegang-pegang saja, tanpa bisa kubaca akhirnya aku masukkan juga dalam tas. Malas. Ah.. tiba-tiba aku tergerak untuk meneruskan catatan ini. Maka jadilah..! Awalnya aku tergelitik untuk membandingkan fenomena-fenomena di atas. Ada nggak ya pedagang kayak gitu di Jepang? Kereta lagi-lagi berhenti. Wah.. kali ini pedagang-pedagang itu bisa masuk dengan leluasa. Sementara jendela pun tak luput dari gedoran-gedoran. Memaksa dan menakutkan..
Aku melihat energi hidup yang sebenarnya. Lagi-lagi aku merasa malu dengan segala kepengecutanku, kemalasanku, dan… ku. Aku berdiri. Kulihat keragaman penghuni gerbong ini. Pedagang asongan berkeliaran, mengais rezekinya. Tak bosan-bosannya menawarkan koran, air, hiasan .. ah entah apalagi. Layaknya pasar berjalan saja. Irama khas stasiun kembali berdentang menandakan kereta akan kembali diberangkatkan. Mereka menawarkan dagangannya untuk terakhirkalinya. Ah.. seperti gelombang yang datang dan pergi saja mereka itu.
Hawa tidak terasa dingin, tidak gerah juga, hanya sesak oleh asap rokok. Aku benci sekali. Dari kursi ke dua di depanku tampak asap mengepul, seperti isyarat suku indian saja. Menyebalkan. Tak peduli ada anak kecil yang mau tak mau harus menyimpan karsinogen dalam paru-parunya yang masih bersih. Dua orang petugas berkeliling mengambil uang sewa bantal dan selimut. Ehm, kalo di bus sih gratis (hehe.. nggak gratis juga sih, udah termasuk biaya). Tapi, kalo di bus ga bisa lihat tukang jual kacang, de el el. Kalau aku amati, minuman botol yang dijual pedagang asongan itu sekitar Rp 2.000,- Bandingkan dengan air minum yang aku beli di minimarket yang harganya Rp.1100,-an. Mereka toh nggak bakalan kaya dengan mengambil untung 80% itu.

Rabu, 2 Juni 2004

Yup! Matahari yang bulat kemerahan menambah indah suasana pagi yang berkabut. Tanpa kusadari, ketika aku menatap ke langit lagi, matahari sudah sangat garang. Kereta melambat, dan…
“ Ha..?? Gubeenggg?? “ . Aku pun terkejut. Harusnya aku turun di stasiun Wonokromo. Nggak tahu apa akunya yang ketiduran, atau keretanya yang tak berhenti di sana, yang jelas kereta dah nyampe Gubeng jam 6.30 WIB (tumben juga, lumayan on time). Yup, aku keluar dari stasiun. Untunglah calo-calo tidak terlalu ‘ganas’ , cukup dengan satu kata tidak mereka sudah menyerah. Biasanya sih..
Bingung aku, nggak tahu what to do. Nggak tahu arah. Dulu sudah pernah ke sini sih, tapi lewat sisi yang satunya lagi. Tapi seperti biasanya kalau aku nyasar, menenangkan diri dulu. Jadi aku menenangkan diri dulu yah..Bye... Hehe.. To be continued, InsyaAlloh

dua es em es

PULKAM SERIES
Ah, senangnya…

(Pfuuuh… Lagi-lagi pulang jauh di atas Isya’. Capek? Sedikit. Gerah? Iya banget. Perasaan-perasaan nggak nyaman coba aku pinggirkan. Pengen aku lempar ke kantong sampah yang dah ndut karena gak dibuang-buang, andai bisa. Kamar jadi tujuan pertama. Fyuh, buang nafas… Blug!!! Aku lempar tasku ke atas dipan. Heh.. kaget aku pas tau-tau ada yang duduk ngebelakangi. Sapa yah? Kan semua lagi sholat tarawih (hikszzzz.. aku ga jamaah!) Hm, ow.. baru aku inget kalo tadi di sini ada acara. Ternyata “sisa-sisa” formaters masih nyempil di sini.

“Udahan Teh acaranya? Ilang semua dong yah datanya… Kan dah di Format !!” Hehe.. Iseng aku nyapa Si Teteh. Dan Teh Tita yang kalem cuma senyum-senyum aja. Udah pada pulang, kata beliau. Yup, dan mataku pun beralih ke si imut perak yang lagi direcharge. Ehm, rupanya dia juga perlu ‘makan’ abis ngelaksanain tugasnya ngejarkom… teuing ah.. berapa orang. Yang jelas daftarnya puanjaang…

“ Abis berapa Teh, ngejarkomnya?”, aku memang gak bisa merelakan kamarku sepi, so sapa pun yang mampir ke kamar asrama paling pojok ini kudu rela dikulik-kulik. “ Eh, iya nih.. Aneh lho, dari tadi nggak berkurang sama-sekali. Malah dapet bonus Rp 750 coba! Kayaknya memang lagi bonus pulsa, apa memang free SMS sesama IM3 ya?” Semangatnya Teh Tita.. Kalo yang gratis-gratisss aja… hehe..

“Ati-ati lho Teh.. sapa tahu cuma diutangin aja.. Besok-besoknya tahu-tahu pulsanya ngurang ..” Aku mencoba membongkar pengalaman yang aku dapat dari cerita teman-teman.
“Iya sih, tapi kayaknya memang cuma gratis sesama IM3 kok”, Jawab beliau sambil ngambil .. apa tuh? Wow.. jeruuuuk !! mau mau mau !! (Dasar aku tukang makan).
“Wah, boleh bagi-bagi pulsa dong nih… ehehehehe.. “ (Yupz.. ujung-ujungnya!)
“Dua aja Teh, yah? Buat temen di Malang? Boleh yakz? Hehe..” dengan pantang menyerah aku membujuk Teh Tita, yang sebenernya tanpa dibujuk pun pasti bakal merelakan Hpnya buat anak manis kayak aku ini (apaan seeh .. karena ngeri ngkali!!)

Yup, dan begitulah. Si imut perak yang lagi direcharge itu pun berpindah tangan. Klak klik tut tut.. lama juga, karena aku gak lincah ngetik di keyboard mini itu. After perjuangan setengah panjang, aku senyum senyum sendiri, ngebayangin temenku bakal kaget nerima SMS tanpa ID ku itu. Aku hanya memberi sedikit clue diujung rentetan kata-kata dan salam Ramadhan itu. Klik, tombol send dah kepencet. Your message status is delivered, si imut bilang. Sebentar kemudian, terdengar bip tanda ada sms masuk. Dan.. si tengil heboh temenku nun jauh di ujung timur Jawa Dwipa ini malah nanya balik, ini sapa?!? Huiks, huiks, huiks… Kezzel.. masak dah dikasih clue sejelas itu masih nggak inget juga? Nggak inget temen baik sendiri.. Pengen ngejitak deh!!! Aku klik reply, pengen aku marahin abis-abisan.. Emangnya temenmu yang Geulis dan nyasar ke Bandung ada berapa biji.. Baru berhasil mencetak dua-tiga aksara, lagi-lagi biiip.. message masuk lagi. ‘Aku tau.. aku tau.. nggak usah direply pertanyaan yang tadi.. pasti si Iis jelek..’ Wuikz… jelek lagi dia bilang!! Hehe.. tapi seneng juga ternyata dia masih keinget sama aku. Aku klik reply, (sayang kalo gak dimanfaatin..dah minta dua pulsa juga..) Nerusin yang tadi, menyublimkan kangen lewat kata. Komennya yang jail, jayuz bikin pengen pulang cepetan.. balik ke masa-masa SMA.. saat kita masih satu sekolahan. And tak lupa pula aku nitip salam buat sobat karib kami yang lain (dulu kami bikin genk!). Belum lama aku send, dah ngantri message balasannya. Satu nanyain kapan aku balik. Baru kemaren dia rasan-rasan sama Heni, teman SMP kami. Dah kuangen puol, katanya. Satunya lagi protes, emangnya dia penyiar radio pake dititip-titipin salam segala.. Hehe, dasar!! Anyway, Pipit.. Pipit.. Dikau masih saja seperti yang dulu.. Heboh, rame.. dan temanku yang baik!! Seneng rasanya merasa nggak pernah kehilangan teman. J Dan senyum kembali mengembang, sendiri, di kamarku yang rada pabaratak. Disusul senyum senyum berikutnya. Kegerahanku yang tadi tak jelas kemana perginya. Aku tatap Teh Tita yang dah lenyap ke negeri mimpi. Pengen bales.. dah nggak bisa.. kan jatahnya only two! Ah, miscall aja ah.. misscall.. Tuut… ‘Silahkan tinggalkan pesan.. Anda terhubung de…’ Waaa… Buru-buru deh aku tutup. Telat! Aduh Teh Tita, ma’apiiiiiiiiiin!!




With thousand of Love,
Phitut, for making me feel so near…

Teh Titaaa… maacih maacih maacih…
Jangan bosan ngasih pulsanya, kapan-kapan lagi kalo Iis homesick yah J

Tuk seorang Boss, kalo sempat baca catatan ini di sela manual kanjinya …
Hehe.. syukur deh nggak cuma satu orang yang manggil aku si jelek =P

Ramadhan hilang separuh,
: Ah, senangnya …Pokoknya!!




Thursday, October 28, 2004

KagaK Ahlinye...

Yup,
Sebenernya aku nggak pede banget nulis di blog ini. But, nggak ada salahnya juga belajar nulis. Biarpun nggak ada garing-garingannya. Biarpun isinya kagak ada yang mutu juga, ya udah tetep waee diisi-isi. Targetku sekarang.. yang penting nambah.. kuantitas dulu, ntarannya lagi baru dipoles kuyalitasnya. HEhe..moga ini bukan sekedar 'upd' alias usaha pembelaan diri ..
Mungkin ngebosenin kali kalo baca blogku ini. Abis emeng nggak ada yang aneh. Kadang aku sendiri aja bosen, hehe.. But, once again... Jangan berenti buat belajar. Biar blom bisa nulis nyang rame, nyang bisa ngisnspirasi orang-orang, biar cuma segitu-gitunya, biar... Biar belajar teruuuuuuusss... Biar kagak ahlinye juga!

Memoar, 21 Agustus

8/21/2004 5:32:01 pm

Bismillah..
Yang hanya karena keagungannya-lah semesta beredar
Dan bintang-bintang berpendar

Tidak ada yang tidak bertasbih ..

Hari ini , tiga puluh lima tahun yang lalu..
Pertama kali masjid Al-Aqsho dibakar yahudi laknatullah ..
Ikon keagungan Islam diruntuhkan perlahan-lahan..
Putra-putra terbaik Palestina satu per satu menjemput kesyahidannya
Tak ada tanah yang tak bersimbah darah...
Tak ada langit yang tak meneteskan air mata..

Batu terlontar
Kepal menantang langit

Derap ini takkan pernah henti..
Hingga futuh negri
Atau kami mati..

---

Hari ini,
Di negeriku, sepotong tanah hijau yang jua tengah meratap
Aku hayati kesedihanmu, Al-Quds..
Aku pun mencintaimu seperti akar merindu tanah yang menyusuinya..
Seperti rajawali pada sarangnya...

Ada yang bergolak di dadaku..
Kemarahan akan kedhoifan..
Kelemahan ini..

Ada yang mengiris sekerat hati
Kesedihan...
Nyeri kami untukmu...

Ada yang membuncah dinadiku..
Kecemburuanku..
Akan kesyahidan garda terdepanmu..


8/22/2004 2:28:31 am

Mungkin hari akan berganti,
Tapi bara ini tak boleh mati
Mungkin aku akan lena pada riuh dunia
Tapi semangat ini selamanya nyala..


Aku ingin lebih dari sekedar mengenangmu,
Al-Aqsho..

Hari ini..
Segenap anak-anakmu yang masih punya hati
Menyatukan langkah dalam satu irama..
Meneriakkan suara jihad ..
Seperti juga putramu di ujung dunia sana..

Al-Aqsho.. Al-Aqsho.. Oh Al-Aqsho..
Lirih kuletupkan do'a
Untukmu
Semoga abadi
Langkah-langkah ini..
Atau engkau kembali..


@@@@@........


21 Agustus 2004
Parisj van Java


Langit yang biasanya garang
Hari ini dia kulihat mendung,
Murung..
Kurasa ia pun menyimpan kemarahan yang sama
Sendu..
Muram..

Sungguh, aku berharap
Air mata ini akan bersatu dengan air hujan…

-----
Pekik takbir mengiringi langkah ini
Barisan meninggalkan Pusdai, menuju Gedung Sate
Seruan jiwa-jiwa yang tengah terbakar ini membumbung
Lidah tak henti bersenandung..
Entah malaikat mana yang akan menyimpannya..
-----

Aku hanya bagian kecil dari barisan ini
Teriakanku pun hanya bagian kecil dari gemuruh mereka..
Mungkin suara kami akan lenyap,
Ditelan bising kendaraan yang lalu lalang
Tapi semangat kami akan lekat
Selamanya di hati dunia

Allahu akbaaaar…

Kami berlindung
Pada agung asmaMu
Dari mata-mata iseng yang mencuri kesempatan
Agar luluh mata hati mereka
Gentar melihat gelombang ini..

Allahu akbaaaar..

Kami bernaung
Di mulia asmaMu
Dari lidah-lidah usil yang menggunjing
Agar runtuh keangkuhan mereka
Turut ke dalam barisan ini..

Aku sadar
Sungguh
Tak banyak yang akan berubah
Bilapun sejuta nafas memenuhi jalanan ini
Tapi..
Biar tersampaikan juga salam-salam kami
Salam-salam perjuangan ..
Langkah-langkah jihad..
Agar jika kau longok ke mata kami
Kesungguhan jelas tergambar
Itulah cahaya mata kami..

Palestinaaa….
Intifadhah.. Intifadhah..
Uhh !!

Satu kata merangkai makna
Satu makna menjadi nyawa
Pekik kami bukan ucap kosong belaka..

Birruuh .. biddaam ..
Nafsika yaa Aqsho..

Kami iriskan sejengkal urat
Dari hati kami yang patah..
Sungguh,
Kami tahu
* Jalan ini jalan panjang
Penuh aral yang melintang
Namun jua kami lalui
Tuk Ilahi..
/* diambil dari syair Izzatul Islam


Biar meraja ruh jihad dalam jiwa
Biar membaja segenap raga
Sungguh,
Terlalu murah surga
Jika hanya ditukar dengan nyawa

PadaMu Raja Diraja..
Mohonku..
Ditengah do’a-do’a orang teraniaya..
Jadikan aku salah satu tentaraMu..
Atau izinkan Asy-Sya’if Al-Islam
Lahir dari rahimku..

Aku hanya satu kerikil
Dalam raksasa bangunan Islam yang kami cita-citakan..
Aku hanya sebutir debu
Dalam batu-batu yang dilontar ibu-ibu Palestina..

4JJ1 ..
Sungguh
Kata tinggal kata
Jika tak Kau beri makna..

Maka pintaku,
Tebarkan ruh-ruh ini
Biar menjelma kabut
Di jalanan Shibuya
Biar terdengar senandung para mujahid
Di hijau hutan Afrika sana
Biar berkibar panji-panji Islam
Di putih salju Antartika..

*Lantang tlah terdengar panggilan suci
Menyerukan jiwa muslim sejati
Sambut semangat membebaskan negeri
Tanah persada suci para nabi
Sambut semangat
Bebaskan negeri
Palestina.. Palestina.. /* lagi lagi syairnya Izis


Bakar semangat dalam rusuk kami
Agar nyata Al-Furqon
Runtuh kebatilan tegak al-haqq
Dengan tangan kami
Atau lisan kami
Atau hati kami..

‘isy azizan au mut syahiidan..

Dan kalbu yang terpaut dengan simpulMu
Saudara kami yang luka
Di ujung dunia sana..

Palestine.. Palestine..
Berjihad.. Berjihad..
Israel.. Israel..
Hancurkan.. Hancurkan..

Agar lengking kami tak jadi sampah
Tumpukan kata tiada guna
Menguap ditelan masa

Agar terukir
Jejak kami sebagai kejayaan
Dan satu nafasku
Menumbuhkan seribu ruh baru..

Agar terlecut
Cacat di jiwa kami..
kembali mengais RidhoMu

Jika syahid adalah cita-cita tertinggi..
Mulia abadi..

Khaibar khaibar yaa yahuud
Jaisyu Muhammad saufa ya’uud…

Waspadalah hai yahudi
Bala Muhammad telah datang…

## Sebuah bingkisan,

Ternyata..

10/27/2004 7:19:02 PM


Ternyata nggak gampang juga buat ngelola milis. Apalagi milis kampus yang diharapkan bakal ngerangkul semua warga kampus. Pfuuh … tadinya aku pikir semua bakal lancar dan gampang aja. Tinggal sebar form via teman-teman Pj, tek tek tek… tunggu semingguan, tak tik tok… kumpulin lagi, olah data.. jrengg.. tinggal nge-add alamat e-mail yang dah masuk. Tapi ternyata…

Aku pikir, ngambil bolpoin dan nyisihin barang satu dua menit buat nyoretin nama, nim, dan alamat e-mail nggak bakal jadi kerjaan yang begitu berat. Tapi nyatanya, itu nggak mudah juga. Kadang kita (apalagi aku!!!) sering banget nunda sesuatu yang nggak usah ditunda juga sebenarnya bisa lebih cepet kelar. Masih suka melihat hal mudah sebagai sesuatu yang butuh tenaga ekstra. Sampai-sampai, buat contoh aja nih, aku blom ngembaliin formulir pendaftaran organisasi yang akan aku ikuti, padahal aku dah ikut kegiatannay selama hampir sebulanan! Dah sebulan formulir yang dah aku isi itu nongkrong di tasku tanpa sempat diserahkan ke pihak berwenang! Sebulan! Bayangin, sebulan teman-teman!!! Ooww.. semoga aku nggak cepet karatan nungguin data yang aku perlukan. Salahku sendiri sih, kurang gigih mencari datanya. Hiks… Bukannya memang adatnya begitu? Untuk memulai sebuah kebaikan itu perlu energi aktivasi yang tinggi. Jadi, jangan mengeluh! Itulah perjuangannya! Itulah seninya! Dan itulah bahagianya! Jadi ini jangan dijadiin arena buat berkeluh kesah, ya, wahai diri! Sesungguhnya pertolongan 4JJ1 itu dekat. Bersihkan niatmu!

Tapi benerloh, aku rada kaget juga pas baca komentar, saran, dan harapan teman-teman. Mereka berharap milis Annisa ini bisa ngalahin friendster!! Aku sendiri malah belom pernah kepikiran sampai sampai sana! Wah, subhanallah! Belom-belom aku dah mendapatkan pelajaran yang ebrharga, yang aku dapatkan dari temen-temen semua. Yup, banyak banget harapan yang dah dituliskan. Mulai dari pengen dapet taushiyah, jadi arena curhat, ampe sarana buat saling nyemangati dan ngingetin saudaranya yang lain. Hm, aku jadi tersedak. Tadinya aku pengen, Ramadhan ini milis dah aktif dan … yah , setidaknya jadi sarana buat meningkatkan qualitas iman kita. Tapi, kayaknya, selain kurangnya data, aku juga kurang konsen ke sini. Hiks.. maafkaaaan… upz.. heehe.. nggak boleh bilang pake alasan sibuk UTS kan?!?! J Iyah, begitulah sobat sabit (=P) sekalian. Kayaknya perlu ada acara ‘penjeweran’ moderator segala nich. Kalo enggak, ehm,.. bisa kacau milis kita tercinta ini. Jadi, saya mohon bantuan temen-temen sekalian buat ngingetin kalau ada kesalahan, milisnya ‘ketiduran’ atau yang laian-lain sebangsanya. Dan, dimohon banget kesediaannya buat mempromosikan milis ini kepada teman-teman muslimah yang lain. yupz.

Moga 4JJ1 mengampuni ketidakkonsistenanku, juga kelalaianku dalam menjaga amanah …

Kusuguhkan seluruh diriku padaMu

--------------------------------------
Aku sudah banyak kehilangan
Detik-detikku yang tidak akan pernah kembali
Juga kesempatan untuk bertemu denganMu
Dalam keadaan suci..

4JJ1 …
betapa lemahnya aku..
tiap kali aku melalaikan seruanMu
dalam sadar ataupun lupa..

Aku sepotong gabus
Terapung di tengah ganasnya gelombang,
Jika bukan Engkau penolongku,
Pada siapa ku ikatkan harap?

Aku sudah banyak kecewa,
Sebanyak lupaku padaMu
Aku sering bersedih,
Sesering lalaiku padaMu..

Tapi aku tidak berputus asa,
Yaa Robb..
Engkaulah sebenar-benar penolongku

Tapi aku tidak berhenti berharap,
Yaa Robb…
Karena Engkau tidak pernah lupa
Tidak pernah tidur
Dan Maha Tidak pernah ingkar janji

Segala kesulitan yang menghadangku
Adalah pelajaran tentang cintaMu
Betapa Engkau tak pernah meninggalkanku
Dalam setiap sesakku

Engkau ubah takutku jadi harap
Engkau ganti air mataku dengan senyum
Engkau perbaiki setiap kesalahan dengan kebaikan
Engkau tukar yang pergi dengan yang baru..
Engkau hiasi badaiku dengan kilatMu….
Sungguh…
Engkau tak pernah mengecewakanku…
Bila ku khilaf,
Maka jangan hukum ku
Karena ku lemah
Tapi beri aku pelajaran baru
Tentang ridhoMu

4JJ1..
aku lelah berharap
Pada yang selainMu..

Kudekap segala muram
Ku bawa ke hadapanMu
Karena Engkau
Satu-satunya yang mendengarkanku
Tanpa kuminta

Kurengga bait puisi patah ini
Beserta kelopak dan durinya
Karena hanya Engkau
Yang melihatku utuh
Apa adanya..
Kutuang seisi jiwaku ke gelasMu…

4JJ1
Aku tak punya energi
Untuk mengarungi gelombang ini
Jika bukan dengan kemudahanMu

Aku tak berdaya
Di tengah padang kehidupan ini
Tiada punya apa-apa..
Hanya secarik do’a
Dan secangkir makna..

Kelak Engkau akan memintaku berkata
Tentang apa yang kualami di dunia
Sungguh aku tak punya kata
Kecuali yang Kau ilhamkan padaKu
Sungguh aku tak tahu apa-apa
Selain yang Kau beritahukan padaku

Segala yang menantiku di luar sana
Adalah rahasiaMu jua
Tapi aku percaya
Engkau merancangnya bukan dengan sia-sia
Bila aku belum menemukannya
Maka itu adalah kebodohanku..

Berkali aku jatuh
Dan terluka
Dan menangis
Berkali aku kehilangan
Lalu bersedih
Lalu putus asa

Tapi semua akan baik-baik saja
Engkau yang menciptakanku
Engkau pula yang kan menjagaku

Aku bukan makhlukMu yang terbaik
Tapi aku yakin..
Engkau telah mengatur hidupku
Dengan jalan yang terbaik…
Aku bukan hambaMu yang paling bertaqwa
Tapi aku yakin
Kau mendengar setiap do’aku
Agar Kau jadikan aku bagian di antara mereka

Aku akan terus melangkah
Dan menatap langit
Mungkin langit ini kelabu
Mungkin langit ini hitam
Tapi aku tahu
Di luar sana ada banyak sekali bintang
Yang tidak sanggup kuhitung
Yang telah kau sediakan
Aku tinggal membuka mataku
Membuka kepalaku
Dan hatiku….

Aku berpasrah padaMu
Agar tentram gejolak di jiwa ini
Dan aku berpasrah
Untuk hidup mulia
Atau mati di jalanMu
Jaring-jaring yang tak terlihat
Tlah Kau rajut untukku
Sebelum kuminta
Tapi mengapa aku tak bersyukur juga?

Yaa 4JJ1..
Betapa banyak amanah yang kulalaikan
Betapa nafsu dan kemalasanku
Menguasai gerak langkahku

Aku malu, yaa Robb
Aku malu padaMu
Aku malu pada saudara muslimku…
Betapa dhoifnya aku..

Yaa 4JJ1….
Janganlah Engkau memanggilku
Dalam keadaan penuh noda
Kecuali Engkau ridho atasku

Janganlah Engkau mencabut nikmat iman dari hati yang lemah ini..
Karena tiada lagi yang kuharapkan
Kecuali Engkau , Robbi…

Dengan segala cacat dan lemahku
Keterbatasan ini adalah anugerahMu
Aku yakin,
Engkau telah memberi
Segala yang aku perlu

Segala lelah ini
Segenap luka ini
Tak kan tersia
Engkau yang berkuasa
Atas hidupku
Atas alam ini

Maka aku mohon ampun padaMu
Atas segala khilafku
Atas semua salahku
Untuk semua dosaku
Dan semua lemahku..
Robbi.. sesungguhnya aku telah menganiaya diriku
Jika Engkau tidak mengampuniku dan menyayangiku
Maka aku benar-benar termasuk orang yang merugi