Tuesday, April 29, 2008

Satrio Piningit, UM Menanti Godot dan Potret Kemiskinan RM

yeah, baca buku ke-empatnya serial Mangan Ora Mangan Kumpul.
Masih dengan gaya khas yang sama dengan pendahulunya, buku ke-empat ini asyik mengusik perenungan kita soal kehidupan, bahkan sampai tataran negara. Masih sama 'jawa thothok' seperti varian pertamanya. Jika ada yang berubah, maka itu adalah kesepuhan Pak Ageng dan aroma reformasi yang mewarnai sejak lengsernya Sang Penguasa Orba, 2009. Sepertinya buku ini adalah akhir dari kumpulan kolom beliau almarhum. Membaca buku ini, mengingatkan saya akan keunikan khasanah bahasa Jawa yang kaya perlambang dan ungkapan. Juga kebiasaan nggeremeng dan misuh yang merupakan side effect lainnya.


Beberapa waktu sebelumnya, saya juga berkesempatan membaca kumpulan cerpen pertama dan satu-satunya Romo Mangunwijaya. Sama sekali tidak mengecewakan. Membaca buku ini membuat saya rindu dengan cerpen Joni Ariadinata, juga Hamsad Rangkuti. Apalagi kelaparan saya akan cerita pendek belum lagi terobati mengingat absennya up datean di site cerpen koran langganan saya. Hikz..

No comments: