Monday, July 16, 2007

Whew, men! Ai yem lakki yu knou!

Yes, I am lucky. A very lucky young woman… J to realize this thing makes me wanna smile and smile and smile and smile and smile.. A very big grin, heuheu..


do U know why?


Pertama, aku punya kamu! Iya, kamu! Kamu-kamu-kamu dan tetangga-tetanggamu yang lagi baca tulisan ini (*uhuk uhuk.. Pede amir!), hehehehe.. Soalnya gak semua orang berkesempatan nulis, ato seenggak-enggaknya sempat nulis. Bagi sebagian orang, menulis dengan tangan adalah impian. Dan menulis dengan komputer adalah sebuah kemewahan.. Saya sangat beruntung, meski tak punya (*ralat, belon punya..) kompi, tapi daku punya teman-teman yang menjadikan kompinya adalah kompiku.. Hiks-hiks.. (*telhaluu.. t’Myth, ndah, Ra, Yen, huhuhu.. Jasamu takkan kulupakan! <= bayangkan Naruto yang berleleran air mata saat mengenang Sasuke.. Gombal denk!). Nah, selain dari pada itu, saya sangat beruntung bisa mempublikasikan tulisan jelek itu dalam blog, setidaknya saya jadi punya tumpukan tulisan jelek yang bisa dikulik kapan saja, sama siapa saja, hohoho! Alangkah kerennya saya.. (*hahahahha.. Bagian ini tak boleh kena sensor)

Kedua, saya punya keluarga yang selalu menyayangi saya. Jangan bayangkan ‘keluarga’ di sini adalah sebuah unit terkecil masyarakat yang terdiri dari satu ayah, satu ibu, dua anak (*KB dunk?), dua pasang kakek nenek, dan tetek bengeknya.. Bukan! Keluarga di sini adalah sebuah ikatan yang tumbuh bukan ‘hanya’ karena ikatan primordialisme, namun juga oleh lembut dan manisnya iman. Tahu kan ini keluarga yang mana? Ya, ini adalah keluarga yang setia menunggu saia datang, bahkan saat saya terlambat lebih dari satu jam. Keluarga yang selalu menerima saia kembali, setelah ‘inpisibel’ berminggu minggu.. Keluarga yang selalu menawarkan cahaya, sambil mendokan moga-moga sang saia yang imannya super-cetek-blom-nyampe-sedengkul ini segera insyaf. Yaa Alloh, balaslah mereka dengan balasan yang terbaik! Dasar saia ini benar-benar beruntung! Alloh memberi saia tidak hanya satu keluarga yang semacam ini, melainkan selalu buanyak, berlimpah ukhuwah! Mo pas di KBB, AP Kanaya, Ganesha7, bahkan kini di Pelesiran. Di kampus dan di ow-ow juga. Tentu saja keluarga biologis sayah adalah salah satunya yang pertama dan utama, karena dari mereka pertama kali sayah belajar mencintainya dengan sederhana.. (*Prof. Sapardi, cocok gak konteksnya?). Sungguh, saya beruntung. Duh, ni’matmu yang mana lagi yang dq dustakan, yaa Rabb! Maka bantulah dq bersyukur padamu!

Ketiga, saia adalah bagian dari sedikit manusia Indonesia yang berkesempatan mengecap OHP dan infokus pendidikan tinggi (*nggak jaman bangku lagi..). Hooo, jangan tanya apa dulu pas kecil saia pernah mimpi menjadi mahasiswa? Nggak tuh! Orang mimpinya pengen langsung jadi orang sukses yang tidak beken koq! Sumpe! =P heuheu,.. Saia ini beruntung, benar-benar beruntung, meskipun otak biasa-biasa saja, (*diduga malah lebih sering pas-pasan.. ) kok ndilalah atas berkat Rahmat Alloh, nomor SPMB saia tercetak di koran pengumuman. Duh Gusti, alhamdulillah, pilihan wahid lagi! Dan Alloh benar-benar melapangkan jalan saia ke negeri Sunda ini. Subhanalloh.. Moga-moga ilmu ini tidak tersia, bakal berbunga amal dan berbuah jannah!

Keempat, mau ta’ tulis woouuukeeh.. (*bahasa mandarinnya buuuaaanyyaak) lagi. Tapi aku takut orang-orang di point pertama pada lari saking panjangnya. Segenap sendi dan tulang-tulang yang lengkap, lambung yang selalu bisa diisi, meskupin eh meskipun kadang rewel kalu disalahgunakan, indria dan syaraf yang peka, juga hati yang nggak romantis-romantis amat tapi cukup bisa diandalkan untuk membuat hati wanita geregetan. (*hush.. Hush.. Jangan berpikiran aneh! Aku ini masih ikhwit normil! Kamsudnya adalah bikin bingkisan atawa benda lutcyu buwat kadow, kertu, dsb. Asal bukan kertu domino! Ogah!). Saya beruntung punya channel untuk menikmati pustaka. Juga akses internet yang mudah dan murah. Juga adek-adek feat ponakan yang meski jarang ketemu tapi mau meladeni perintah saia. Abis itu bersedia berantem pula. Juga teman-teman yang kayak permen karet, werna-werni tapi lengket. Dosen-dosen yang mutu dan yang garing. Tukang gorengan yang mau dortudor kekosan.. Tukang somay.. Mamang lumpiah.. Waduh-waduh! Bisa-bisa ngabsen segala domain tukang..


Maka dengan ini saya simpulkan, Saya adalah orang yang beruntung. Satu dari sedikit orang di dunia ini yang masih dicemplungkan dalam belanga kategori makhluk yang bahagia. Alhamdulillah. Maka tataplah cermin, cermin yang tergantung mati di dinding atau cermin yang berkedip di wajah orang-orang yang asing maupun yang kau kenal. Akan kau dapati, aku ini, adalah orang yang beruntung. Subhanallah… and I wish the same thing 4 U..


**) note: dalam tulisan ini, kata ganti orang pertama digunakan seenaknya (aku, daku, saya, saia, pokoknyah intinya mah si iis we lah..). Silakan protes, namun tidak akan ditindak.. Triing.. (*kilatan dari gigi yang meringis..)

2 comments:

edwards said...

Moga2 sayah juga masuk orang yang beruntung : hmmm :

Sister Fillah said...

edwards:/ aamiiin..