Saturday, May 23, 2009

Persistent

Sepotong rindu,

Penaka amoeba..

Kau tekan,

Luluhkan,

Tetap tak terkalahkan..

Kau bagi-bagi,

Malah terduplikasi..

Ah, payah..

(*just another puisi hape)

They said…

They said it’s gonna be easier for you as you’ll soon become an A-Rank university graduate…

They said it’s gonna be easier for you as you’re a woman…

They said…

They said…

Kataku padamu..

I think you’re gonna be a great person someday..

And everybody who love you would be so proud of you..




MU

Aku berdiri di garis kewarasanku yang terluar

Berharap padaMU,

Satu-satunya keberadaan yang tiada pernah punya kepentingan..

Menunggu,

Tapi bukan menungguMU..

Karena Kau telah hadir, tanpa awal tanpa akhir..

Aku menunggu

Diriku

Untuk mengertiMU

MengenalMU

Sekedar yang bisa ditadah pencerapku

Yang tiada sanggup menampung keagunganMU..

...

Caramu mempersepsi dunia,

Mengajarkanku akan arti mengambil dan memberi


Percakapan Malam Bumi dan Langit


Bumi:

…rindu pada bagian dari diri sendiri yang entah siapa dan entah ada di mana…

Hmm…

Gamang

Entahlah

Mungkin hanya selintas angin sepoi yang sedang menggelitik jiwaku

Halah..

Seperti samar lalegon ngungut yang membuatmu rindu pada solitude

Langit:

…dan perasaan-perasaan yang menggelitik,

yang kadang belum dapat terdefinisikan itu

akan melengkapi ‘keutuhan’mu menjadi manusia…

:-)

Seperti mungkin sabda langit;

Angin adalah rahmat

Yang kan bawakan mu hujan

Tapi badai adalah wajahnya yang lain

Tak perlulah sembunyi selamanya dalam benteng..

Ah, memberi arti pada angin?

Haruskah terpisah dengan kata sepoi?

Malam yang damai, April paling penghabisan.

(*so you see.. You’ve been there, done that…?*)

mmm…

(Karena cinta adalah energi)

Berkatalah cinta,

Pada angin yang memberi nafas sukma

Seperti bisik saat gerisik daun mengabarkan

: bangunlah dari tidurmu yang kepanjangan

Fajar telah jelma di ufuk asa…

Sunday, May 17, 2009

Ternyata Ken Apa Ken Arok (begitu*)..


Haha, ternyata udah setengah tahun lalu edisi maen gede..
sekarang edisi maen gede buat sendiri, halah..
ternyata kena sindir lagi..
ternyata ada kembaran mbak'e di sana.. (*bersama Raja TungTung*)
eh ternyata anak te-ge..
yah ternyata..

*ora jelas iki arep nulis opo.. *

**barang bukti menyusul.. nih koneksi siput banged..**


ternyata

kangen ini lagu yeah,,
ketika aku sadari sudah begitu lama 'lose contact' dengan dik Narto..
ffyuuuh..

Accha accha Indiahe: Lagaan, Slumdog Millionaire, Taare Zameen Par, Black.

Sudah lama saya ingin menuliskan selayang pandang tentang pelem-pelem di atas, tapi selalu saja tertunda..

Lagaan

Dibintangi Aa’ Aamir Khan, ini pelem menawarkan setting India jaman kolonial Inggris. Hmm, ide besar cerita adalah awal masuknya olah raga kriket ke negeri geleng kepala tersebut. Aa’ dan kawan-kawan menentang rencana kenaikan upeti (lagaan) menjadi dua kali lipat. Akhirnya, setelah bla bli blu, disepakatilah bahwa keputusan mengenai lagaan tersebut akan ditentukan berdasarkan hasil pertandingan kriket yang nota bene adalah permainan asal Inggris yang sama sekali tidak dimengerti oleh penduduk pribumi. Jika mereka menang, tidak akan ada pungutan lagaan untuk dua tahun mendatang. Tapi jika mereka kalah, lagaan akan dinaikkan tiga kali lipat.. hmm,.. penjajah di mana-mana sama.. (*lho?*)

Mendengar taruhannya sedemikian besar, masyarakat menentang dan memaksa Aa’ untuk minta maaf pada para pembesar kolonial dan antek tuan tanah mereka. Lagaan yang saat itu saja sudah sedemikian memberatkan, apalagi jika harus membayar tiga kali lipatnya. Artinya, mereka lebih memilih membayar dobel lagaan, dari pada ‘membeli’ peluang dua tahun tanpa lagaan dengan resiko membayar tiga kali lipat lagaan. Selanjutnya sudah bisa ditebak. Aa’ berjuang sendirian to show the way dengan dibantu Gauri (*yang juga bisa ditebak siapa dan apa kedudukannya bagi si Aa’*), sementara semua orang menentang. Yeah, dengan kesungguhannya, dan bantuan seorang kolonialis pembelot yang mengajarkan peraturan dan cara bermain kriket yang benar, si Aa’ akhirnya berhasil membawa timnya ke lapangan pertandingan. Endingnya gimana? Yang pasti hepi lah, tapi sangat men-dag dig dug-kan. Agak susah ditebak =D

Dari segi bobot cerita dan kejernihan scene, layak tonton lah.. Tapi durasinya yang aduhai lambretta-nya mungkin bisa membuat punggung pegel. Saya menonton pelem ini dalam dua sesi.

Slumdog Millionaire

Wah, kalo yang ini pasti udah banyak review-nya. Te-o-pe.. Era baru bagi perfilman India.

Nggak nahan banget yang adegan loncat ke puuuuup demi Amitabbachan palsu tea..

Hoeek..

Yeuh, the real India, what lies under.. ^^ tapi emang agak beda sih sama versi novel yang sudah saya baca. Dibintangi oleh aktor-aktris muda yang tidak saya kenal (*lho emang kenapa kalo kamu ngga kenal, Bong? Orang kamu bukan pengamat artis boliwud gitu loh*), dan kedalaman potret sosial yang disuguhkan, saya rasa over all sangat layak tonton lah..

Taare Zameen Par

Nah, Aa’ lagi yang maen.. Pemeran Ishal (*kalo gak salah nama anak kecilnya*) lucu banget.. sumpah.. pas banget.. ngeliat muka polos dan gigi panjangnya saat dia bersedih benar-benar meluluhkan hati, heuheu.. (*lho, ada orang sedih kok ketawa*)

Yeah, baru kali ini lihat ada pelem keluarga india yang concern tentang pendidikan. Berkisah tentang seorang anak penyandang disleksia yang mengalami kesulitan belajar di sekolah. Di rumah pun ia mendapat tekanan diperbandingkan dengan kakaknya yang sukses secara akademik, sehingga ia memilih jalan menjadi bengal untuk menutupi ketakutannya. Kebandelannya merupakan senjatanya yang tertinggal untuk mencari perhatian dari orang tuanya. Hmm,,

Konflik memuncak saat Ishal dikeluarkan dari sekolahnya yang lama dan dikirim ke sekolah berasrama yang terkenal disiplin padahal kejam. Sistem pendidikan yang kacau membuatnya sangat tertekan dan menarik diri. Sampai satu ketika, guru seni mereka berhalangan sehingga harus digantikan sementara oleh Aa’ yang sudah terbiasa bekerja di pusat rehabilitasi anak-anak dengan kebutuhan khusus. Metode pengajaran yang dilakukan Aa’ sangat berbeda dengan pendahulunya. Kayak yang di teori-teori pendidikan itu lho.. Dia memberi kebebasan kepada setiap siswanya untuk mengeksplorasi seni menurut imajinasi mereka. Namun, Ishal masih trauma dan tetap menarik diri, meskipun semua teman-temannya telah going well dengan Aa’. Aa’ pun mulai menyelidiki ‘keanehan’ Ishal, sampai-sampai dia datang jauh-jauh ke rumah keluarga Ishal di kota lain. Yo. Dan seterusnya.. Aa’ membangun kepercayaan diri Ishal dan mengajar Ishal secara khusus dengan pendekatan untuk anak disleksia. Bahwa disleksia bukanlah sudut mati. Bahwa penyandang disleksia, bisa menjadi orang sukses, bahkan biasanya mereka adalah orang-orang dengan anugerah khusus. Einstein contohnya. Aa’ guru contohnya. Dan Ishal sendiri, yang sangat berbakat dalam bidang menggambar/ melukis (*ada yang bisa menjelaskan pada saya perbedaan antara menggambar dan melukis?*). Pokoknya mengharukan lah akhirnya.. hehe.. Meskipun cerita dasarnya sangat sederhana, pesan yang disampaikan sangat kuat. Tonton ya..? Tonton ya…? Aman untuk anak-anak =) dan bagus untuk para calon orang tua.. Lukisan wajah Ishal saat tertawa yang dibuat Aa’ guru sangat menyentuh ;p

Black

Dibintangi Rani Mukherjee dan Amitab, settingnya masih gaya ‘raja-raja’ kecil India, heuehu..

Mengangkat cerita Helen Keller ala India, tentang gigihnya seorang guru mengajarkan ‘hidup’ pada seorang anak manusia yang buta dan tuna rungu, yang oleh keluarganya sendiri pun sudah tidak dianggap ‘manusia’ lagi.. benar-benar sebuah perjuangan yang panjang.. Dengan kegigihannya, Rani akhirnya berhasil mengantongi gelar sarjana (*tuh, masak kalah Bong?*) setelah gagal berkali-kali dan mencoba terus. Orang lain mungkin hanya perlu tujuh tahun untuk meraih gelar sarjananya, tapi Rani dengan segala keterbatasannya pada akhirnya bisa meraih gelar tersebut setelah entah berapa belas atau puluh tahun..

Black, judul pelem ini, merupakan kata pertama yang diajarkan sang guru pada Rani. Pada akhirnya, ini pelem nyelempang ke cerita lain, jadi gabungan antara cerita Helen Keller dengan novel The Diary kalo ngga salah.. pokoknya tentang penderita Alzeimer.. Hmm, sekarang kondisinya terbalik, Rani yang mengajarkan mantan gurunya untuk kembali mengenang masa perjuangan mereka. Worth seeing lah..

Bisa dibilang, baru di pelem inilah saya melihat Rani berakting. Pelem-pelemnya yang lain yang pernah saya tonton benar-benar tak ada apa-apanya dibanding di sini. Hmm, jadi sebenarnya, yang bikin kualitas suatu pelem dodol itu lebih banyak tergantung pada unsur cerita, gimana eksplorasi sutradara dan produsernya ya.. kayaknya sih.. ^^;