Tuesday, December 06, 2011
Ore no Tanjoubi Purezento..
Friday, February 19, 2010
Seperti yang ini..
Friday, November 20, 2009
Sunday, October 25, 2009
Kalah Cepat
Selain yang itu, ada juga tulisan yang intinya: kalian putra putri terbaik bangsa, disubsidi untuk jadi intelek, bukan untuk menyontek!
^^ better than last year lah..
Monday, October 19, 2009
Re~sensi: Perjalanan Bulan ini
The Traveler's Tale
Aditya Mulya, dkk.
Kisahnya membetot semua perhatian; diukir dengan latar menawan dan keunikan tokoh-tokohnya. Diksi dan anekdotnya segar. Sudah bisa ditebak, tapi tetap membuat penasaran. Ringan, energik, namun dangkal. Begitulah, racikan yang lezat namun tidak membuatmu lebih gemuk. Adakah penokohan yang saya suka di sini? tidak. Nice book, though.
The Journal of A Muslim Traveler
Heru Susetyo
Membaca buku ini, adalah membaca buku sejarah. Ditingkahi banyak kesalahan dan minimnya deskripsi keindahan yang biasanya dijanjikan oleh sebuah buku perjalanan, buku ini tetap bisa dibaca saat kita merindukan kabar saudara-saudara kita di negeri lain. Dan yang lebih utama: mengingatkan diri kita kembali; apa tujuan perjalanan kita. Salut untuk Heru Susetyo yang konsisten dengan pemaknaan perjalanannya. Perjalanan yang bukan sekedar untuk ada atau mengadakan perjalanan. Tapi perjalanan untuk yang transenden dan penyelaman hakikat manusia: dengan bicara dan berkaca pada manusia-manusia lain, berusaha memahami siapa, mengapa, dan bagaimana. Tak akan lengkap pemahaman saya mengenai traveling, sampai saya membaca pengantar buku ini yang menghantarkan saya pada sebuah simpulan: saya pun adalah seorang pejalan.
Keliling Eropa dengan 2000 dollar
lupa eh lupa.. pokoknya ada lah.. ntar disusulin
The Witch of Portobello
Paulo Coelho
Sebuah perjalanan, pencarian spiritualitas. Dan endingnya adalah kejutan.
Bagi saya yang lebih menyukai suspense, misteri, sci-fi, atau sejarah, buku yang ‘mendalam’ ini pada beberapa bagian membuat saya lelah: saya harus membaca buku ini, karena saya harus dan saya bilang begitu! (*mengenai buku Coelho Sang Alkemis, dulu saat orang berbondong-bondong baca, saya langsung menyerah tanpa membuka-buka, seolah tak ada chemistry sama sekali.. entahlah, mungkin lain kali ada kesempatan baca*). Memang bukan jenis buku yang membuat saya terpaku dan tak bisa berkedip (*haha, awas kelilipan*), tapi bukannya membosankan. Bayangkan sebuah ziarah panjaaang ke rumah nenek kita di desa (*haha, basi..*) di mana perjalanannya relatif monoton tapi kita tahu nanti di tempat tujuan kita akan mendapat banyak hadiah: pertemuan dan penemuan berharga, keramahan dan pencerahan, yang mungkin justru akan membawa kita pada titik awal, tempat kita berangkat. Samakah kita di titik awal sekarang dengan titik awal kita berangkat? Kita sendiri yang memaknai.
Mengenai isi, sepertinya nama Coelho sudah menjadi jaminan. Apalagi tentang teknik penceritaan. Sudut pandang penceritaan yang unik, dimana sang tokoh utama tak pernah sekalipun menampakkan diri ataupun suaranya, semua berdasarkan sudut pandang orang ke tiga, memberi kita lempeng-lempeng mozaik yang akan terangkai menjadi sebuah gambar paripurna.
Fatimah Az-Zahra
Dr. Ali Syariati
Perjalanan mengenal sang kekasih Rasul.
Agak susah diterima oleh pemahaman saya yang telah dikemas dengan sudut pandang suni: wanita perkasa yang selama ini begitu tangguh dan ‘perfect’ dilemahkan sebagaimana rupa.. mungkinkah orang yang oleh penulis sendiri dikatakan sejak kecil ditempa dengan pendidikan nabawi dan asahan ruhani bisa dengan gampangnya menjadi wanita yang luncur larut dalam dendam kesumat; hanya karena harta dan tahta.. Oo alangkah dangkalnya.. Apa yang ditulis dan dikatakan dalam buku ini demikian berjarak: logika dan paparan yang ditulis di awal dilemahkan oleh subjektivitas penulis yang kelewat batas. Adalah hal yang lumrah sebuah karya apapun mendapat limpahan sisi eksternal penulis, namun mencampur adukkan biografi seseorang dengan ‘karangan’ penulis adalah sebuah dosa paling fatal yang bisa dilakukan oleh seorang cendekiawan yang pada halaman awal menjanjikan akan mengenalkan kita pada Fathimah yang sebenar-benar. Tanpa rujukan dan perbandingan pendapat orang lain, buku ini adalah potongan yang berat sebelah, sebuah sudut yang dibidik oleh mata Syiah. Entahlah. Wallahu’alam bishshawaab.
Life of Pi
Yann Martel
Seandainya aku menjadi Okamoto, aku pun akan mengatakan hal yang sama: aku lebih suka yang ada binatang-binatangnya!
Sebuah perjalanan seorang anak India yang etrombang-ambing di tengah Samudra Pasifik selama lebih dari tujuh bulan. Ironis, menghentak-hentak kesadaran dan mendobrak nilai-nilai yang selama ini kita kenal sebagai rasa kemanusiaan, demi sebuah kata: hidup!
Arok Dedes
Pramoedya Ananta Toer
Seri pertama dari tetralogi Tumapel. Sebuah insight baru, memahami perjalanan Arok-Dedes dan jatuh-bangunnya Tumapel dari sudut pandang sosio-politis; disucihamakan dari unsur dongeng dan kutukan. Worth reading. Sayang, seri dua belum ditemukan naskahnya (hanya sebagian yang bisa diselamatkan). Tak sabar ingin menuntaskan dan meluruskan 'sejarah' di kepala saya.
Membunuh Orang Gila
Sapardi Djoko Damono
Yah, sastra :) hm, kumpulan cerpen yang ditulis oleh sang resi puisi ini memang kalah greget (*menurut saya lah*). Tapi dua cerpennya (yang salah satunya bercerita tentang rumah) mampu membuat semuanya worthed. Mungkinkah ini perjalanan SDD untuk merambah dunia cerpen? Atau saya saja yang kurang tahu buku kumpulan cerpennya yang lain...? hmm..
Desain Graffiti dengan Coreldraw X3
Slamet Hariyadi
Pastinya ini perjalanan untuk belajar menjadi desainer yang oke. Ilustrasi yang ditampilkan cukup membantu (*karena step by step*). Yup, buku ini menggugah saya menyelesaikan yang ini, tapi gagal membuat saya jago bikin graffiti.. haha.. may be next time...
Friday, October 02, 2009
Resensi: A Diary of Hee Ah Lee
Pertama mendengar nama ini, saya benar-benar tidak mendapat gambaran siapa sebenarnya pemilik nama ini; ilmuwankah, artiskah, politiciankah, entah.. Setelah tak sengaja membaca tulisan teman tentangnya, barulah saya beroleh penjelasan mengapa orang yang ternyata pianis ini istimewa. Tak dinyana perjalanan hidup membuat saya berkesempatan membaca sebagian kisah hidupnya. Ya, sebagian saja karena buku ini baru seri satu, babak duanya mungkin lain kali kalau ada kesempatan yeah..
Hal pertama yang mau saya komentari adalah buku ini gambar ilustrasinya oke punya! Walaupun banyak kesalahan ejaan dan penulisan, plus ada beberapa bagian yang tidak konsisten (antara gaya bahasa aku-an dan dia-an) yang cukup membingungkan, selebihnya adalah tulisan sederhana yang gampang dicerna dan direnungkan. Iya, renungkan betapa beruntungnya kita, bisa membaca, berlari, berpikir tanpa banyak kesulitan (*khusus saya, bisa dapat buku ini, hehe.. thanks, pal!). Others might not..
Entah saya berekspektasi terlalu tinggi, kenyataannya buku ini sama sekali (atau kurang sekali?) menyentuh bagian yang paling ingin saya ketahui: bagaimana taktik dan perjuangannya menjadi seorang pianis dengan keempat jarinya (maksudnya secara teknis gitu.. ). Isi buku ini sendiri cukup menarik, tentang gambaran kehidupan Hee sejak sebelum lahir sampai saat sekarang. Namun gambaran yang diketengahkan di sini adalah gambaran hidup Hee sebagai seorang manusia dengan kebutuhan khusus, tentang kesulitan-kesulitannya menghadapi hidup, juga perjalanan umumnya menjadi seorang pianis. Lebih mirip catatan harian seorang anak ‘pada umumnya’ (hayah, judulnya aja diary! Please deh.. ^^;). Hmm, entahlah, susah menjabarkannya.. (*halah..*) jadi sampai sini aja resensinya.
![]()
Sunday, May 17, 2009
Accha accha Indiahe: Lagaan, Slumdog Millionaire, Taare Zameen Par, Black.
Lagaan
Dibintangi Aa’ Aamir Khan, ini pelem menawarkan setting India jaman kolonial Inggris. Hmm, ide besar cerita adalah awal masuknya olah raga kriket ke negeri geleng kepala tersebut. Aa’ dan kawan-kawan menentang rencana kenaikan upeti (lagaan) menjadi dua kali lipat. Akhirnya, setelah bla bli blu, disepakatilah bahwa keputusan mengenai lagaan tersebut akan ditentukan berdasarkan hasil pertandingan kriket yang nota bene adalah permainan asal Inggris yang sama sekali tidak dimengerti oleh penduduk pribumi. Jika mereka menang, tidak akan ada pungutan lagaan untuk dua tahun mendatang. Tapi jika mereka kalah, lagaan akan dinaikkan tiga kali lipat.. hmm,.. penjajah di mana-mana sama.. (*lho?*)
Mendengar taruhannya sedemikian besar, masyarakat menentang dan memaksa Aa’ untuk minta maaf pada para pembesar kolonial dan antek tuan tanah mereka. Lagaan yang saat itu saja sudah sedemikian memberatkan, apalagi jika harus membayar tiga kali lipatnya. Artinya, mereka lebih memilih membayar dobel lagaan, dari pada ‘membeli’ peluang dua tahun tanpa lagaan dengan resiko membayar tiga kali lipat lagaan. Selanjutnya sudah bisa ditebak. Aa’ berjuang sendirian to show the way dengan dibantu Gauri (*yang juga bisa ditebak siapa dan apa kedudukannya bagi si Aa’*), sementara semua orang menentang. Yeah, dengan kesungguhannya, dan bantuan seorang kolonialis pembelot yang mengajarkan peraturan dan cara bermain kriket yang benar, si Aa’ akhirnya berhasil membawa timnya ke lapangan pertandingan. Endingnya gimana? Yang pasti hepi lah, tapi sangat men-dag dig dug-kan. Agak susah ditebak =D
Dari segi bobot cerita dan kejernihan scene, layak tonton lah.. Tapi durasinya yang aduhai lambretta-nya mungkin bisa membuat punggung pegel. Saya menonton pelem ini dalam dua sesi.
Slumdog Millionaire
Wah, kalo yang ini pasti udah banyak review-nya. Te-o-pe.. Era baru bagi perfilman India.
Nggak nahan banget yang adegan loncat ke puuuuup demi Amitabbachan palsu tea..
Hoeek..
Yeuh, the real India, what lies under.. ^^ tapi emang agak beda sih sama versi novel yang sudah saya baca. Dibintangi oleh aktor-aktris muda yang tidak saya kenal (*lho emang kenapa kalo kamu ngga kenal, Bong? Orang kamu bukan pengamat artis boliwud gitu loh*), dan kedalaman potret sosial yang disuguhkan, saya rasa over all sangat layak tonton lah..
Taare Zameen Par
Nah, Aa’ lagi yang maen.. Pemeran Ishal (*kalo gak salah nama anak kecilnya*) lucu banget.. sumpah.. pas banget.. ngeliat muka polos dan gigi panjangnya saat dia bersedih benar-benar meluluhkan hati, heuheu.. (*lho, ada orang sedih kok ketawa*)
Yeah, baru kali ini lihat ada pelem keluarga india yang concern tentang pendidikan. Berkisah tentang seorang anak penyandang disleksia yang mengalami kesulitan belajar di sekolah. Di rumah pun ia mendapat tekanan diperbandingkan dengan kakaknya yang sukses secara akademik, sehingga ia memilih jalan menjadi bengal untuk menutupi ketakutannya. Kebandelannya merupakan senjatanya yang tertinggal untuk mencari perhatian dari orang tuanya. Hmm,,
Konflik memuncak saat Ishal dikeluarkan dari sekolahnya yang lama dan dikirim ke sekolah berasrama yang terkenal disiplin padahal kejam. Sistem pendidikan yang kacau membuatnya sangat tertekan dan menarik diri. Sampai satu ketika, guru seni mereka berhalangan sehingga harus digantikan sementara oleh Aa’ yang sudah terbiasa bekerja di pusat rehabilitasi anak-anak dengan kebutuhan khusus. Metode pengajaran yang dilakukan Aa’ sangat berbeda dengan pendahulunya. Kayak yang di teori-teori pendidikan itu lho.. Dia memberi kebebasan kepada setiap siswanya untuk mengeksplorasi seni menurut imajinasi mereka. Namun, Ishal masih trauma dan tetap menarik diri, meskipun semua teman-temannya telah going well dengan Aa’. Aa’ pun mulai menyelidiki ‘keanehan’ Ishal, sampai-sampai dia datang jauh-jauh ke rumah keluarga Ishal di kota lain. Yo. Dan seterusnya.. Aa’ membangun kepercayaan diri Ishal dan mengajar Ishal secara khusus dengan pendekatan untuk anak disleksia. Bahwa disleksia bukanlah sudut mati. Bahwa penyandang disleksia, bisa menjadi orang sukses, bahkan biasanya mereka adalah orang-orang dengan anugerah khusus. Einstein contohnya. Aa’ guru contohnya. Dan Ishal sendiri, yang sangat berbakat dalam bidang menggambar/ melukis (*ada yang bisa menjelaskan pada saya perbedaan antara menggambar dan melukis?*). Pokoknya mengharukan lah akhirnya.. hehe.. Meskipun cerita dasarnya sangat sederhana, pesan yang disampaikan sangat kuat. Tonton ya..? Tonton ya…? Aman untuk anak-anak =) dan bagus untuk para calon orang tua.. Lukisan wajah Ishal saat tertawa yang dibuat Aa’ guru sangat menyentuh ;p
Black
Dibintangi Rani Mukherjee dan Amitab, settingnya masih gaya ‘raja-raja’ kecil India, heuehu..
Mengangkat cerita Helen Keller ala India, tentang gigihnya seorang guru mengajarkan ‘hidup’ pada seorang anak manusia yang buta dan tuna rungu, yang oleh keluarganya sendiri pun sudah tidak dianggap ‘manusia’ lagi.. benar-benar sebuah perjuangan yang panjang.. Dengan kegigihannya, Rani akhirnya berhasil mengantongi gelar sarjana (*tuh, masak kalah Bong?*) setelah gagal berkali-kali dan mencoba terus. Orang lain mungkin hanya perlu tujuh tahun untuk meraih gelar sarjananya, tapi Rani dengan segala keterbatasannya pada akhirnya bisa meraih gelar tersebut setelah entah berapa belas atau puluh tahun..
Black, judul pelem ini, merupakan kata pertama yang diajarkan sang guru pada Rani. Pada akhirnya, ini pelem nyelempang ke cerita lain, jadi gabungan antara cerita Helen Keller dengan novel The Diary kalo ngga salah.. pokoknya tentang penderita Alzeimer.. Hmm, sekarang kondisinya terbalik, Rani yang mengajarkan mantan gurunya untuk kembali mengenang masa perjuangan mereka. Worth seeing lah..
Bisa dibilang, baru di pelem inilah saya melihat Rani berakting. Pelem-pelemnya yang lain yang pernah saya tonton benar-benar tak ada apa-apanya dibanding di sini. Hmm, jadi sebenarnya, yang bikin kualitas suatu pelem dodol itu lebih banyak tergantung pada unsur cerita, gimana eksplorasi sutradara dan produsernya ya.. kayaknya sih.. ^^;
Wednesday, April 22, 2009
Sabar Bon9
saia jarang nulis di kamu sekarang..
sekarang mah saia sukanya ngupload note kecil di sini soalnya bisa pake hp jadul saia itu sih..
yup, hope u're gonna be okay..
it's just about da time
when I get my energy back, let's rock da world ^^; heuehue..
sabar yak,
tuan (*putri*) muh..
Thursday, March 12, 2009
Sad
Hikz,,
yup..
ja.. Mata ne..
Hope you'll be back soon =)
So that I can enjoy your beautiful materials Y_Y
Undangan
Huehehe.. based on request tehtitu, nih desain kelar juga (*iya gitu? berasa masi kacrudz hiksz..*) wot eperr lahh.. pokoknye fancy kan? kan? kan? halah,,,hmm, dengan segenap hutang budi saya pada desainer asli yang digunakan untuk background (*arigatou entah-sama*), hmm, tinggal melaksanakan tugas kedua dari bu titu nih.. nyariin Aa'nyah.. huahhahahah
(*Jeprak.. kursi plastik mampir ke jidat saia.. duh.. bu ustadzah jangan galak-galak dong.. pada lari semua tuh ikhwan...*)
(**Buuuuuum... kosan cebong dikirim bom Batam**) Ampuun Buk,, ngga lagi-lagi dah ngedesainin.. :P eh, mburonin (???)
yop
hope you do not satisfied, so that I can do something, (beside my FYP) huehehe
apa sih?
ini blog jadi junk sampah desain dan curhat saya hohoo..
hayo teteh yang tanggung jawab hayoooh.. (*hubungannya ape?*)
pokoknya ready survey souvenir..
pokoknya tenanglah buk..
yang penting tiket ke Batamnya don't forget.. :D
Friday, December 19, 2008
hacked
hiks..
hiks..
yurusenai!
kenapa? kenapa?
baru kemarin malam pas dengerin tivi one yang membahas kejahatan virtual saya berkata pada diri sendiri " halah, saya kan bukan orang penting yang 'diuber-uber' hacker.. nyante aja lah.. lagian apa yang bisa diambil dari phising seorang kecebong? lagian selama ini kan saia selalu hati-hati.."
huahua..
siapa pun yang menggunakan account e-mail saya yang di atas tanpa ijin, denger yaaa..
saya KECEBONG! bukan TURTLE!
dodol s**!
Wednesday, December 10, 2008
MK
hmm,
:)
yow wis, tak wacane dhisik, hehehe..
Sunday, December 07, 2008
-
semoga kita bisa meneladani kesabaran, keshalihan, dan keikhlasan keluarga Ibrahim
Amiin
Friday, November 21, 2008
simcard oh simcard
yow, simcard AS saya ilang.. padahal ini no terlama yang pernah saya diami! yow! sedih deh deh deh.. x(
jadi terpaksa saya harus setia (sementara ini) pada the one and only my new "three" card..
all contacs missed too.. hikzz.. secara saya belum mengkopi contact di no lama saya ke no yang baru..
hehehe, habis ada kemungkinan ganti no "three" yang lain lagi sih (*halaah.. pindah dari 3 ke 3? Ngapain..?*) tadinya saya pikir akan mengkopi contact2 tersebut setelah settle dengan no three terbaru saya, tapi hmm,, ya gimana lagi?!?!? (*Sedih deh, soalnya banyak no kenalan lama yang kalau mau nyari link untuk tahu no mereka bakalan susah xp*)
sedih deh..
but life must go on :D
so, buat sodara, sanak, tetangga, sahabat, teman, handai taulan semua, yang berkenan memberitahukan no nya, atau no-no yang seharusnya saya tahu (*no darurat polisi, ambulans, kebakaran, teman kalau kepepet perlu utangan, dll hehehehe...*), atau malah pengen nyimpen no saya buat nagih2 utang atau ngasih peringatan taushiyah, please PM me ke email yeuh :) thanks JKK
lalalalalalalala..
Sunday, November 02, 2008
Erich Seagal: Love Story
Hmm, mungkin lebih seru novelnya kali ya? Yang jelas saya cukup mengerti kenapa akhwat satu itu sampai berlumuran air mata (*gosipnya!*) saat pertama kali membaca novelnya. Nggak ada resensi untuk film ini, hmm,, apa ya? pokoknya gitu deh.. khas romansa barat ya gitu deh.. (*lo tu mo ngomong apa sih Bong...?*) Ya gitu deh,,, heuheu... secara sinematografi nih pelem mungkin di masanya bagus kali ya.. pokoknya aura-aura kejadulannya itu membuat egh,, apa sih? ya gitu deh.. pokoknya ya gitu deh, heuheu...
Lian Hearn, Kisah Klan Otori: Across the Nightingale Floor
Dangkal, begitu kata teman sang perekomendasi. Tapi kepalang dibuat penasaran akan nasib tokoh-tokohnya, saya tetap berniat akan memburu lanjutannya. Trilogi fiksi yang bersetting Jepang di masa feodal ini mejadikan pertikaian berdarah antar klan sebagai benang merah. Rumit dan kaya deskripsi yang ‘Jepang banget’, cukup mengejutkan mengingat buku ini lahir dari tangan seorang Inggris yang menetap di Australia. Simak uraiannya berikut ini:
...Rumah mulai melantunkan lagunya di malam hari: bunyi piring yang dicuci, anjing diberi makan, beberapa orang penjaga yang sedang duduk mengawasi. Aku mendengar langkah pelayan ketika membentangkan alas tidur, bunyi sempoa dari ruang depan saat si pemilik rumah menghitung penghasilannya hari ini. Alunan malam mulai berkurang dan nadanya menjadi teratur: tarikan nafas orang yang sedang tidur, umumnya dengkuran, dan kadang desahan. Suara-suara orang dalam kesehariannya sangat menyentuh jiwaku. Aku memikirkan keinginan ayahku untuk hidup seperti orang biasa. Menangiskah dia saat aku lahir?
Begitulah dunia di telinga Takeo, si anak ajaib keturunan Kikuta yang memiki kemampuan pendengaran yang sangat tajam, mampu berada di dua tempat sekaligus, dan mampu menghilang. (*Hmm, mengingatkan saya pada salah satu tokoh di pelem Shinobi.. Ini pelem bagus lho :D masih setema dengan buku ini..*). Konflik terus bergulir di sekitar Takeo yang menjadi sentral tarikan kepentingan: pertalian darah dengan Kikuta yang memaksanya menjadi bagian dari Tribe pembunuh, hutang budinya pada Shigeru yang mengharuskannya menjadi pewaris Klan Otori, dan inti jiwanya yang tumbuh di bawah asuhan ibunya yang ‘bersih’ menurut kepercayaan Hidden yang melarang segala bentuk kejahatan dan pembunuhan. Penasaran?
John Connolly, The Book of Lost Things
Dan David melihat pantulan dirinya di dalam mata si Tukang Kayu, dan di sana dia bukan lagi lelaki tua, melainkan anak kecil, sebab seorang lelaki selalu merasa sebagai anak kecil di hadapan ayahnya, betapapun tuanya dia, betapa lama pun mereka telah berpisah.
Buku ini mengajarkan banyak hal, kebanyakan lewat kontemplasi-kontemplasinya yang ironis, menyindir tanpa memvonis. Manungsa tan kena kinira, begitu tetua orang Jawa bilang. Manusia itu tidak bisa diduga. Dalam buku ini, Connolly menggambarkan sifat-sifat manusia melalui perlambang tokoh-tokoh, dengan memutarbalikkan semua dongeng konvensional yang sudah kita percayai. Pada awalnya, cerita bergelayut seperti meniti titian di atas sungai: perlahan dan hati-hati. Sampai-sampai saya bertanya-tanya: buku ini apa bagusnya? Tapi begitu masuk ke ‘menu utama’, barulah saya mengerti mengapa teman saya sang perekomendasi tidak mampu menaruh buku ini sebelum tamat. Dua tahun lalu buku genre ini akan langsung saya singkirkan dari prioritas bacaan saya. Tapi sekarang, sejak HP-nya JKR, saya tak gentar lagi membaca buku-buku serupa.
Mau?
Postingan tentang buku favorit saya ini diikutsertakan dalam The Hunger Games Giveaway yang diadakan oleh Elfrida Chania
Wednesday, October 22, 2008
Tuesday, September 02, 2008
Sak Klerepan Ning Kutha Malang
sepuluh harian di rumah, tapi nggak nyempatno uklam-uklam.. (*cuman sekali kluar nonton karnaval di rumah teman di kecamatan sebelah, lantaran sudah ketinggalan karnaval kecamatan sendiri, plus baby sitting keluar masup warnet hampir saban ari*)Lima tahun ini, sejak terakhir kulihat, banyak perkembangan positif yang telah dicapai (*sekolah nambah, hampir 70% yang berdomisili di dekat jalan raya menjadi tempat usaha, mulai dari toko, pabrik, resto, sampai art gallery.. dan yang mengejutkan: jajanan udah kaya di Bandung aja! walaupun belum sevariatif di sana, tapi dibanding terakhir kali aku ke sini, udah berubah banget! Masyarakat agaknya mulai bergeser seleranya, seiring dengan maraknya wisata kuliner di tipi barangkali.. begitu juga dengan gaya busana, sedikit banyak mulai lebih metro dalam tanda super kutip*)
harus diakui, Malang jauh lebih rapi daripada Bandung (*tapi masih ketinggalan kalau soal barang elektronik*)
lebih hijau pulak (*suasana oldies-nya juga lebih kerasa*)
pokoknya cocok buat JJS dan ngabuburit, trotoarnya khusus dan lebar, jalannya lurus, hutan kotanya teduh pisan.. masih pantas disebut sebagai kota bunga
kayaknya Malang tuh kaya banget (*nama jalannya: surabaya, bandung, bondowoso, kediri.. semua kali ye..*) dan sepertinya sehat pisan coz setidaknya dalam satu rute yang saya naiki saja saya menemui lebih dari tiga sarana olahraga (*stadion Gajayana, lapangan tenis di daerah yang semua nama jalannya adalah jenis-jenis olah raga, dan lapangan basket yang cukup besar*)
uniknya, di sini kita harus hati-hati. Hampir semua angkot warnanya sama (kombinasi biru putih= AMG, LG, GA, AL, dll..), padahal beda jalur/rute.. harus perhatikan nama yang tertera di kaca atau badan mikrolet. Untuk orang 'baru' seperti saya, ini cukup merepotkan.
uniknya lagi, di sini tarawehan versi reli.. duh, kangen Habib.. hari ke dua aku terpaksa taraweh jama'ahan di rumah (*diimami Ibuk, lumayan, slow motion.. *) soale nggak kebagian tempat.. maklum masih awal Ramadhan, jamaah membludak
yeuh, kapan-kapan, akan kukuliti kota ini with someone special.. pake sepeda pancal seputaran ijen, terus menelisik ke arteri kota tua yang masih berbau kolonial.. hum, sumdai ;p
next move: surabaya, tunggu aku (lagi!)
weeq,, kuangen awakmu, my peT ;p
gambar di kompas dari link terkait
Saturday, August 02, 2008
Marathon SP: Kekuatan tekad si anak autis
Ada sosok ibu yang sangat kuat di balik keberhasilan anak tersebut.
Bukan seorang ibu super, tapi seorang ibu manusiawi yang cerdik menyiasati kekurangan anaknya, sekaligus memiliki tekad baja. Hm, memang sehari-harinya, ibu ini tidak bisa melakukan kegiatan apapun selama anaknya yang autis tidak tidur (*seorang anak autis dalam pelem ini digambarkan memilki kepribadian yang sulit, perlu sarana khusus dalam pendidikannya, terutama disebabkan oleh keterbatasan kemampuannya dalam berkomunikasi*) jadi bisa dibayangkan bagaimana kerepotannya dalam membagi waktu dan perhatian antara anaknya yang autis, anaknya yang normal, juga pekerjaan sehari-hari sebagai ibu rumah tangga.
pada umumnya, penyandang autis (*autis bukan penyakit, tapi saia bingung bangaimana memposisikannya*) memiliki fisik yang rentan, baik secara stamina maupun terhadap serangan penyakit. Si anak tokoh dalam pelem ini yang saia lupa namanya telah terbiasa diajak naik turun gunung sejak kecil: selain untuk menguras energinya supaya cepat tidur sehingga ibunya bisa melakukan aktivitas lain, ternyata juga membuat fisik anak tersebut tidak seperti penyandang autis biasanya. Bahkan, melangkahi orang normal! Dan memang, anak tersebut telah mampu bekerja di sebuah perusahaan elektronika.
Ibu itu sendiri hanya punya satu harapan, she said:
I wish I would live one day longer than this childOMG! Sebuah cinta ibu yang luar biasa, dengan segala kemanusiawiannya, tentang seorang anak istimewa yang dia harapkan dapat hidup seperti orang biasa.. Untuk bisa melatih anak itu menjadi 'orang biasa' ada sebaris perjuangan yang telah dia lakukan (pendekatan yang cukup mencengangkan dilakukan oleh pelatih marathonnya)
Quote yang menginspirasi keluarga ini cukup simple; tapi sangat berkesan di otak saia.
a heart that won't give in?
otengai kokoro wa
won't give up
makenai kimochi
when you're lost?
mayokuta toki wa
face forward
mae yo ike
masak cebon9 kalah sama anak autis?
