Showing posts with label Jekardah. Show all posts
Showing posts with label Jekardah. Show all posts

Sunday, May 20, 2012

Selarik Salju Turun di Jakarta Siang Itu



Ini adalah hari yang biasa di tempat yang biasa bagi biasanya orang. Tapi bagi saya hari itu agaknya cukup luar biasa, karena perjalanan saya ke Jakarta kali ini lain dari biasanya. Setelah serangkaian keunikan yang akan saya kisahkan dalam note lain di blog ini juga, rasanya kejadian inilah yang paling berkesan bagi saya.

Setiap kali naik Bus Patas 76 rute Ciputat-Pasar Senen, pada siang hari di daerah Fatmawati, ada seorang pedagang asongan yang naik menjajakan dagangannya: permen jahe Sari Wangi, kacang atom, permen asam, dan entah apa lagi saya lupa; yang jelas semuanya adalah produk industri rumah tangga. Menyalahi kebiasaan saya yang suka merasa terganggu jika ada pedagang yang menawarkan dagangan di dalam angkutan umum, akhir-akhir ini saya berusaha lebih memperhatikan dan berusaha membeli jika ada yang sesuai dengan kehendak hati saya. Namun, seringnya hanya berhenti di “memperhatikan”, karena saya suka merasa sulit untuk memulai transaksi dengan mereka (Douuh! Antisosial banget dah!) Padahal ingin sekali saya ikut menjadi jalan rezeki bagi mereka dan industri lokal kita. Entah angin apa yang merasuki saya waktu itu. Tiba-tiba saya memutuskan untuk membeli salah satu jualan Abang itu. Kacang atomnya lebih mirip kacang madu daripada kacang atom yang biasa saya temui di Bandung. Rasanya tidak mengecewakan, sehingga saya menyimpulkan lain kali saya akan melakukan pembelian ulang. Dan hari pun berlalu.

Kesempatan lain itu datang di hari yang aneh itu. Setelah “seharian” disuguhi berbagai macam pengamen, eh, pedagang asongan berseragam hijau itu pun naik lah. Saya sendiri tidak tahu apakah ini pedagang yang sama dengan yang sebelumnya, ataukah jualannya saja yang sama. Yang jelas saya pun membeli lagi, kali ini sebungkus permen jahe dan sebungkus kacang atom. Setelah menimbang-nimbang, terbit sebuah ide dalam hati saya. Alangkah lebih berat dan mulianya jalan orang-orang yang menjaga dirinya dari meminta-minta dalam bentuk sehalus apapun. Yang rela bekerja keras demi rezeki kecil nan berkah. Atas nama harga diri, kehormatan, atau apapun. Dan Islam sangat menghormati orang-orang yang menjaga izzah-nya tersebut. Saya sendiri bukanlah orang yang sanggup seperti itu. Belum bisa, lebih tepatnya. Karena itulah saya sangat mengagumi mereka.

Dan terbitlah ide itu. Pada para pengamen tadi, saya bisa memberi sejumlah uang yang menurut saya cukup besar untuk ukuran katakecil seperti saya, tanpa ia harus bekerja sekeras itu. Masak iya untuk pedagang yang bekerja keras seperti itu saya tidak ingin melakukan sesuatu? Maka saya menambahkan satu lembar uang seribu rupiah dalam lembaran jumlah yang seharusnya saya bayar, yang kemudian saya gulung sedemikian rupa sehingga semuanya menjadi satu kesatuan. Benar Kawan, itu jumlah yang tidak ada apa-apanya bagi sebagian besar kita. Tapi itulah yang saya putuskan akan saya sisipkan saat itu. Saat menyerahkannya, saya berharap Abang itu tidak sempat membuka dan menghitungnya. Sungguh, saya tidak ingin menyakiti harga diri beliau. Dan benar saja, ketika beliau mengambil dagangannya, karena agak buru-buru, beliau langsung mengambil tanpa menghitungnya. Saya tersenyum bersyukur. Saya pikir beliau tidak akan mengetahuinya, kalaupun tahu, pastinya setelah menghitung total penjualan di ujung hari.

Iya, saya pikir beliau telah turun dari bus ketika tiba-tiba beliau kembali dan menyodorkan uang seribu kucel tadi seraya berkata: “Mbak yang tadi beli kan? Uangnya lebih, Mbak!” Sungguh saya kehabisan kata dan hanya bisa menerima kembali uang tadi seraya tersenyum dengan pikiran kacau. Oh sungguh, selarik salju telah turun di Jakarta siang itu. Untuk saya. Karena telah bertemu dengan spesies manusia langka di rimba Jakarta ini. Berlebihankah saya? Rasanya tidak. Tengoklah kelakuan orang-orang yang bertindak aneh-aneh hingga sanggup menipu, memeras, dan semua kata gelap lainnya: demi selembar dua yang tak seberapa nilainya. Kebaikan masih ada di Jakarta. Kejujuran yang setitik itu, semoga kan jadi bara yang menularkan nyala bagi sebanyak-banyak jiwa. Hingga semoga kelak, akan teranglah kota ini.

Ah, seperti biasa saya lebay. Tapi izinkahlah saya yang lebay ini meminta tolong padamu, Kawan.. Jika satu kesempatan kalian lihat yang seperti beliau, tolong belilah dagangannya. Walaupun hanya sebiji. Karena semua yang pernah dalam kesulitan yang pekat gelap sempurna tahu artinya sebintik bara harapan. Benar, Kawan. Sebintik saja.. Itu cukup untuk membuatmu, membuatku, membuat kita melangkah sekali lagi.. Berjuang lagi.. Jangan sampai ada yang berkata: “Kebaikan telah hilang dari dada umat ini…”



>> Ditulis ngacrut dalam jam kerja Jumat ini. Duh. Korupsi ==” Diedit ntar-ntar kalau sudah ada azzam, haha..

Tuesday, December 06, 2011

Ore no Tanjoubi Purezento..

Dengan sok gayanya, waktu boss-biss saya nanya saya mau kado ultah apa, saya selalu bilang: apa aja, asal yang bisa dipake dan BUKAN BUKU!

Hari itu, sehari setelah milad saya, setelah makan bersama di salah satu stand kandidat ketua IA (*hahahaha.. meuni polos amat*), kami pun berlari-lari mengejar mobilku... (*emang soundtrack anime?*) Maksud saya, kami pun segera mampir ke Indonesia Book Fair. Salah satu boss bermaksud berburu marmut mabuk. Biss yang lain.. ngapaian ya? Saya juga nggak nanya beliau mau nyari apa. Tapi naga-naganya sih nyari-nyari (penjaga stand) yang seger bin cerah =D (*ouupss*) tapi kenemunya malah komik komik dan komik. Mungkin semua yang ganteng dan seger sudah menjadi komik (maap ya boss Y**chan). Begitulah.


Karena sudah bertekad tidak ingin kado buku (selain buku yang sudah saya tag ke salah satu boss), maka saya pun menghadiahi diri saya sendiri satu buku (??????). Silakan bingung. Pokoknya saya menghadiahi diri saya sendiri novel MC yang A Case of Need tea, di stand buku second langganan saya. Dan saya berhasil melawan semua godaan. Saya selalu menggeleng tiap ditawari boss buku sebagai hadiah milad :D


Begitu seterusnya.


Dan seterusnya.


Dan seterusnya.


Dan seterusnya.


Sampai kami ikut mabuk karena nggak nemu-nemu marmut.
Dan kaki kami sudah bersemut-semut. (????)


Intinya kami keluar menghirup udara segar dan makan kue dan ngobrol geje, sembari menunggu salah satu boss yang ilang di jalan. setelah kami kembali reunited menjadi tiga serangkai, kami pun masuk lagi.


Lalu...



Terjadilah...



Hal paling naas sepanjang hari itu!










Tak sengaja lihat satu buku diper!
Lalu temperatur katakecil pun mulai naik.
Eh.. ada satu lagi...
katakecil makin kelimpungan...
Eeeeeh....?!?!?!?
Whaaaaat......???



wooooooooooooooooooooooooooow...



semua judul yang belum masuk koleksi katakecil ada di sittuuuuuuuu.....


pingsan lah si katakecil


bo'ong deng








yang jelas dia membawa pulang begitu banyak buku yang sampai sekarang pun masih membuat dia melayang-layang..

=D


Yosh! Mission bin malakiah success!

Thank you utk boss-biss yang sudah menghadiahi saya buku-buku di atas ;9 sluuuuuurp...



*gedje*

**gambar nggak sengaja di-mirror biar nggak bikin ngiler orang lain

Sunday, December 04, 2011

Yang (Memilih) Berbahagia

Kurasa usianya akhir dua puluhan, atau mungkin awal tiga puluhan. Pakaiannya terlalu sederhana untuk ukuran pegawai kantoran, tetapi terlalu bersih dan rapi untuk orang yang kerja kasar. Tangannya kosong, tidak nampak tas atau bawaan apapun. Jadi aku tidak bisa menebak profesinya apa. Hari sudah mencapai kelelahannya yang paling telak, tetapi lelaki itu seperti pagi yang baru menetas: wajahnya cerah sumringah. Aku punya dua tebakan untuk menjelaskannya: dia sedang jatuh cinta, atau dia sedang jatuh cinta (itu mah idem atuh! =,="). Tapi aku tidak tahu dia jatuh cinta kepada apa. Yang jelas, padat, rikuh, dan lelahnya kota ini tidak sanggup mengekang rembesan rasa itu dari aura tubuhnya: ringan, penuh senyum, dan.. bahagia...


Inilah kebiasaan baruku: mengamati orang-orang Jekardah; terutama kited berada di angkutan umum seperti Kopaja ini. Sangat jarang aku melihat ekspresi seperti itu. Kalau galau, hm, ekspresi itu ada di mana-mana. Maka mataku susah lepas dari objek yang satu itu (*uhmm, mana praktik teori menjaga pandangan, katakeciiiil?*). Bukannya apa-apa. Aku hanya penasaran dan tak bisa tidak jadi merenung: sebenarnya bahagia itu apa? Mengapa dia bisa menjadi seperti itu? Apakah dia memilihnya? Tapi rupanya renunganku sia-sia karena aku tak bisa bertanya langsung padanya. Tapi kurasa dia memang memilih untuk berbahagia saja, regardless any background that may appear behind him. Dunno.


Satu lagi kebiasaanku: mengamati dan membaca graffiti dan lukisan yang ada di tembok-tembok, juga truk yang melintas. Ini juga termasuk ekspresi kegundahan masyarakat, yang seringnya terlalu jujur. Kapan-kapan aku ingin membikin kumpulan catatannya. Hmm...



Semoga aku semakin banyak melihat wajah-wajah bahagia di kota ini.
Aamiiin..

Mau Malak Malah Dipalak

Hari itu aku berencana pergi mengunjungi salah satu boss (hahaha) di daerah senayan sana. Untuk apa lagi kalau bukan untuk memalak traktiran. Sigh =D

Berangkat dari bilangan Kalibata sekitar jam 8 malam, temanku menyarankanku naik Kopaja yang lewat jalur Gatsu, dari pada kena macet kalau lewat jalur kopaja 57. Yups. Baru beberapa menit duduk di Kopaja, dua pengamen masuk lah. Dan menyanyi lagu yang aku tidak kenal. Usai genjreng-genjreng, mulailah dia berbla-bla-bla, dan menodongkan plastik ke muka tiap penumpang. Lama sekali dia menodongkannya. Uhh.. Pemalakan terselubung?!? Entahlah. Ada sebersit enggan tapi aku sudah menyiapkan segepok uang (*huahhahahaha, boong deng, sebutir doang*) mengingat ini hari Jum'at dan aku memang sudah berniat ingin memberi. Bereslah urusan yang ini.


Beberapa saat kemudian, naiklah lagi dua orang. Salah satu menunggu di belakang, dan yang lainnya berdiri di depan. Dia berblabliblu, dan bilang hal yang intinya dia mau menyanyi dengan suaranya yang pas-pasan. Tapi bukan suara nyanyian yang keluar, malah dia langsung keliling menodongkan topi sambil mengumumkan:

"Ayo.. jangan sampai karena uang seribu dua ribu tas Anda, HP Anda hilang.."


What the.....?!?!
Dia mengulang kata-kata itu sambil terus menodongkan topi ke muka orang-orang. Aku rasakan orang-orang lebih sigap dan cepat mengisi topi itu, dibanding kejadian pertama. Mbak cantik sebelahku yang pada saat kejadian pertama tidak mau memberi berbisik padaku, "Sudah.. kasih aja.. kasih aja...". Aku bisa merasakan urgensi dalam nada bicaranya, menyembunyikan rasa takut yang tidak begitu nyata. Aku tidak membawa terlalu banyak uang kecil (*hmm, semua uang saya berukuran sebesar pintu atau seluas gorden*). Jadi aku harus menggali-gali di halaman belakang rumah dulu (*geurrrrhhh*) sampai akhirnya aku dapat potongan emas yang bisa aku serahkan pada duo pemalak maut ini (emas apaan? duit logam gopekan?). Hmm.. Mungkin ini bukan pertama kalinya aku dipalak di angkutan umum. Tapi seingatku ini yang pertama kali saat aku pergi sendirian di Jekardah, malam hari pulak...


Aku beruntung kena palak ini. Karena aku jadi diingatkan lagi soal kode etik bepergian bagi seorang muslimah. Tentang urgensi punya body guard bla bla bla.. (*lho..? mulai ngawur tho ngomongnya...!*). Memang, the never sleep city ini membawa ancaman lain bagi tukang maen seperti saya. Yang jelas, dan yang penting, walaupun kena palak, toh proyek malakin boss-biss saya berhasil dengan sangat sukses =D hahaha.. menggendut beberapa gram gak apa-apa lah.. =D



Terima kasih untuk biss dan boss yang sudah mentraktir saya...

Rumah Sakit Mol

Kaki shopaholic kami melarikan kami ke mol di daerah Senayan (padahal mah cuma mau window shopping bari berburu drunken series-nya Mang Pidi Baiq tea..). Pintu masuknya mengingatkan kami pada sistem pemeriksaan di bandara. Mol itu sendiri tidak punya terlalu banyak keunikan, walaupun memang secara struktur bangunan dan desain interior terbilang megah; seperti jamaknya mol di kota metro ini.


Yang aneh, menurut kami, adalah mol ini membuat kami merasa seperti sedang di rumah sakit! Apa pasal? Di sini banyak sekali "suster" berbaju putih-putih atau dengan kombinasi hijau atau pink pastel (tidak termasuk suster ngesot pastinya!). Mereka juga mendorong-dorong "kursi" beroda. Memakai masker penutup mulut juga. Betul. Kami sama herannya, tapi nggak sampai melongo dan ngiler kayak kamu (hush.. fitnah!). Siapa mereka? Kenapa di mari?


Rupanya mereka adalah makhluk-makhluk yang khusus disewa oleh dewa-dewa untuk menggendong-gendong, memberi susu formula, dan mengganti popok anak-anak mereka saat mereka sibuk berbelanja. hmm. Bukan ya?


Foto menyusul insyaAlloh, ntar saya dikira HOAX lagi =D tapi nagihnya ke orang ini ya...

Tuesday, November 29, 2011

The Wind In, The Wind Out

Dulu logika saya menolak mentah-mentah adanya secuil kemungkinan bahwa anak manusia bisa masuk angin di negeri yang panasnya seganas Jekardah. Impossible banget, dah!

Tapi nyatanya, dua kali sambang terakhir ke mari, dua kali pula saya kena angin masuk! Doh!
Nggak elit banget.. Sakitnya memusingkan kepala, tapi nggak ada yang jenguk! *hahahaha*
Kalo yang mijitin dan bikinin minum panas sih ada =D *grin grin grin*

Hal ini terjadi akibat pilihan makan buah simalakama: memakai kipas angin, atau basah kena keringat. Dan yang biasanya terjadi adalah dua-duanya! Maka lahirlah masuk angin akibat pergaulan bebas kedua keadaan tadi. Terima saja (*jdugh*). Tawaran lainnya adalah: pake ase dong bo! Gimandang sih yey! *haatching, pose benchis*

Ya, kota ini menyadarkan saya betapa ajaibnya penemuan AC dan kulkas. Bagaimana cara kerjanya, dan lain sebagainya, silakan dikulik di sini. Thermodinamika adalah keruwetan sederhana dalam kotak pandora fisika yang lebih baik tidak saya buka (alasaaaaan.. bilang aja gak ngerti, hahahah :D). Saya hanya akan menyinggung tentang sisi lain dari keajaiban ini: selalu ada sejumlah kalor yang dibuang ke lingkungan, setiap kali kita mendinginkan suatu ruangan tertutup. Seperti halnya yang dinyatakan oleh hukum thermodinamika ke 2, entropi sistem selalu bertambah! Maka jangan heran kalau kian hari, temperatur lingkungan juga kian meningkat, seiring pertumbuhan jumlah pendingin yang digunakan. Urban warming inilah yang mungkin sering dicampur adukkan sebagai global warming. Hmm, jadi ingat novel The State of Fear-nya mendiang Pak Crichton, nggak sih? (Yang belum baca push up 100x lalu kipasin saya 1000x! Mayan, biar hemat listrik, haha!)


Dalam bahasa katak bisa dikatakan: jika kita menabur AC, kita akan menuai panas (???). Jadi mari kita menabur angin, paling-paling menuai masuk (???). Tapi hidup adalah pilihan. Tidak semua pilihan menyenangkan. Tapi semua pilihan punya konsekuensi (berasa lagi denger danlap OSPEK jurusan awak orasi). The wind in, the wind out. The heat in, the heat out. Kicauan saya cukup sampai di sini.


#Mohon dikoreksi oleh para empu HVAC dan lain sebagainya yang pasti lebih paham dari katakecil abal-abal ini :D Thanks before...

Monday, November 28, 2011

The Point is...

Sebenarnya, posting panjang saya di bawah ini, dan mungkin menyusul posting-posting lain saya dengan label yang sama, intinya cuma mau bilang: Jekardah itu enjoyable kok..

Mungkin memang kota ini akan menyerap energi hidup para penghuninya, tapi, jika kita mengizinkan, dia pun bisa mengisi bagian-bagian yang kosong dari hati kita..





#Sembari kesel dengan opsi koreksi bahasa otomatis ini, yang justru bikin kacau.. Harus cari-cari tahu settingannya nih..

Sunday, November 27, 2011

Bergolak Belum Tentu Mendidih

Ini adalah tulisan yang saya bikin ketika marah, tapi tidak lantas sambil marah-marah. Marah karena tadinya tulisan sudah jadi sepertiga jalan, eh koneksi error dan belum tersimpan.. Sungguh ter-la-lu.. Ingin rasanya menjitak F* yang payah, tapi apa guna, toh pasti kejadian ini ada hikmahnya. Jadi saya pindah lapak, saya akan melanjutkan nyinyir saya di sini. Nyinyir geje tentang hal yang sebenarnya tidak benar-benar saya pahami. Toh memang tidak pernah ada manusia yang benar-benar paham akan hakikat sesuatu tho? *pembenaran*



Yang Tidak (Benar-Benar) Dicintai, Tapi Dibutuhkan

Ini adalah gosip tentang sebuah kota, pesisir yang selalu hangat oleh matahari, yang punya embel-embel "Daerah Khusus". Dulu waktu SD, saya pikir dua perangkat kata itu tak lebih dari kata yang menerangkan sebuah zona tertentu. Tapi kini, setelah beberapa kali amprokan (hedeeuh) dengan kota ini, saya makin menyadari bahwa frasa itu lebih banyak menggambarkan karakternya yang sebenarnya. Memasuki zona ini, kita akan menemukan aura khusus. Memang benar setiap kota memiliki aura tersendiri, tapi aura kota ini benar-benar berbeda. Simak saja yang ditangkap oleh Benny dan Mice dalam buku-buku mereka, karena akan terlalu panjang jika saya uraikan di sini.

Sungguh hidup (karena mana ada yang mau sungguh-sungguh mati?) saya sudah mencoba berbagai macam jurus untuk berkelit dari kota ini. Tempat impian saya adalah sebuah desa yang tenang dan asri, lengkap dengan angin dan sungai, bukit dan ternak yang berlarian, tapi tetap punya koneksi internet yang handal (sigh). Tapi Sang Maha Tinggi menginginkan saya berkenalan dengannya, sungguh pun saya belum bisa menerima kota ini. Tunggu dulu, saya menerima? Bukankah kota itu yang seharusnya menerima saya, dan saya diterima?!? Ah, hukum aksi-reaksi fisika itu kan relatif, jadi ya.. anggap saja sudut pandang saya ini benar. Lagi pula saya ke sini pun hanya dalam rangka bertandang, incip-incip doang.. heu.. (apa hubungannya dengan kalimat sebelumnya? Gak nyambung!)

Jekardah yang lengkap dengan kepanasannya. Keangkuhannya. Kealienannya. Kekacauannya. Dan ke-semua-mua-annya. Absurd. Begitu kita memasukinya, dia akan menginduksikan sebuah perasaan baru kepada kita: CU-RI-GA. Kapanpun, di manapun, cu-ri-ga lah (bukan mencuri galah tetangga lho!). Dan itu sangat melelahkan (kecuali mungkin bagi sebagian orang yang memang hobi dan dibayar untuk itu, misalnya saja.. ya nggak usah disebut lah).

Jekardah juga merupakan rumah bagi banyak mimpi dan nestapa. Di kota ini nasib orang bisa sangat jungkir balik, dalam waktu yang tidak harus lama. Mungkin itulah yang dibutuhkan oleh sebagian orang yang memutuskan untuk hijrah ke sana. Walaupun saya tidak tahu, apakah para perantau itu (mungkin pada akhirnya saya pun jadi bagian dari mereka?!) akan pernah (benar-benar) mencintai kota itu.

Tapi benarkah cuma itu?

Tulisan ini adalah hasil kegejean saya selama di sana. Jadi ya, geje-geje saja (lho?).




Runtuhnya Teori Chaos

Salah satu bumbu paling khas dari Jekardah adalah: lalu lintasnya yang impossible!

Sebagai eks anak pramuka yang taat aturan dan suka jajan (lho?), pernah suatu kali saya sengaja tidak turun angkot di tempat seharusnya saya turun. Saya mencari jembatan layang dulu biar menyeberangnya enak (pakai bawa-bawa pramuka padahal aslinya bilang aja: takut nyebrang!). Tapi alangkah galaunya, sampai bermil-mil, tak tampak jua adanya struktur baja itu. Ah! Untunglah angkotnya berbelok, sehingga saya tidak perlu menyeberang! Alhamdulillah. (Kamu pikir itu berapa kilometer dari sasaran semula, katakecil! Dudul!).

Lain hari, saya harus naik kopaja di jam sibuk untuk ke tempat teman saya. Teman saya sudah mewanti-wanti, jangan naik kalo nggak dapat tempat duduk, soalnya perjalanannya bakal sangat jauuuuuuh sekali.. mendaki bukit dan menuruni lembah (lebay!). Padahal itu jam orang-orang pulang kantor. Maka berdirilah saya di pinggir jalan sambil bawa kecrekan, lumayan buat ongkos (hush!). Maksud saya, saya harus merelakan beberapa kopaja lewat tanpa campur tangan saya (untuk menyetopnya maksudnya! Aih masak gitu aja gak ngerti? Tuh kan kumat lagi marah-marahnya...). Ya, tepat saat itulah daya permenungan saya diuji (cuih cuih cuihhhh...!).

Terus terang, untuk naik bus kota di Bandung saja, saya suka suteres, apalagi turun dari bus kota! Apalagi ini naik turun kopaja! Bayangkan sodara-sodara: kopaja itu nggak segede bus kota, tapi badannya lebih bobrok dari opeletnya babenya Si Doel, tapi ngebutnya lebih kenceng dari Ferrari, tapi penumpangnya lebih padet daripada kue lepet! Yaaa mungkin nggak semua sih. Tapi semua kopaja yang pernah saya naiki sih seperti itu (nah lhoo!).

Saat malam kian merambat, padahal nggak ada ceritanya jam segitu lalu lintas tiba-tiba senyap, saya terpaksa membuat pilihan: saya harus naik bin berangkat secepatnya! Akhirnya, setelah bermunajat dan membaca segala macam yang bisa dibaca (resep dokter aja yang ketinggalan, soalnya tulisannya cakar dokter), ternyata masih serem juga =D Wekekeke.. (sangat tidak heroik!). Saya hanya bisa memandangi semua kendaraan yang campur aduk kayak cendol itu. Termasuk sepeda motor yang salto dan akrobat dengan sangat ulungnya. Berlapis-lapis pula. Tak mungkin kopaja-kopaja itu mendarat dengan tenang di depan saya, lalu menggelar karpet merah, dengan dayang dan pangeran siap mempersilakan saya masuk (Stop! Back to reality!). Tidak Bissha! (dengan gaya khas sule). Namun, tiba-tiba: teplak! Ada UFO menghantam kepala saya. Eh, bukan UFO dink. Cuma sebutir ide berukuran nano.

Hmm, rupanya begitu...

Ini tak lain dan tak bukan hanyalah versi lain dari kondisi chaos. Karena saya anak fisika abal-abal, pengetahuan saya soal teori chaos ini pastinya sungguh abal-abal juga. Intinya: lautan kendaraan yang kacau galau ini pada dasarnya adalah kumpulan dari para supir yang sebenarnya pengen nyetir lurus dan stabil, namun apa daya masing-masing supir punya sedikit gangguan kejiwaan: pengen lebih dulu nyampe garis finish, soalnya ditunggu istri/anak/suami/kamar mandi mereka di rumah. Dan sedikit gangguan kejiwaan itu, ditunggangi oleh kurangnya jumlah polisi (soalnya, kalo setiap sopir didampingi satu polisi sejati di sebelahnya, pasti jadi sopir taat aturan dah), terjadilah semua kekacauan di atas. Simple tho?

Tugas saya berikutnya, adalah mencari "tali-tali tak terlihat" (versi lain invisible hands) yang mengendalikan semua itu. Semua keteraturan berdiri di atas sebuah aturan (karangan orang ngantuk, jadi mengalah lah dan percaya saja. Tapi Harun Yahya juga bilang begitu kok). Aturan ini harus lebih kuat dan mengikat dari aturan yang mengatur unit-unit kendaraan tadi. Jadi tali tak terlihat itu adalah 'aturan-aturan' yang mengendalikan para sopir! Halah, siapa pula yang menaruh chip di kepala para sopir tadi, menciptakan kawanan dengan sejenis kecerdasan tertentu (amboi, pusingnya.. bawa-bawa Swarm Intelligence..)?

Daripada saya pingsan di tempat karena terpaksa berpikir, akhirnya saya menyimpulkan dengan radikal: YA! GOD behind all these! Dia-lah yang mengendalikan! Dengan melakukan tinjauan terbalik, se-chaos apa pun kondisinya, kondisi stokastik jika diuraikan dengan 'benar' akan menjadi deterministik. So, I determine myself, setelah nyanyi InshaAllah-nya Bang Maher (yang itu lho.. bagian lirik: guide my step.. and don't let me go ashtray.. You're the one who can show me the way... haha untung gak ada pencari bakat di sekitar sana, bisa ditangkap aku, dijadikan pengusir hama codot, huek..), aku pun menyerahkan semuanya kepada Sang Pengatur. And trully, everything became easy and clear! Hahaha.. It's magical how changing your mindset will change everything. Alhamdulillah...


Dan sekarang aku tahu, yang bergolak itu belum tentu mendidih.