Showing posts with label tRaC3. Show all posts
Showing posts with label tRaC3. Show all posts

Wednesday, October 31, 2012

Hujan dan Badai

Tuhan, aku menangis
Patah hati
Saat aku meminta hujan
Dan Engkau memberiku badai


Setelah aku kehilangan semuanya
Aku jadi sanggup melakukan apapun

Dan aku tersenyum
Syukur
Atas kekuatan dan dikuatkan
Walau masih terus menangis

Rindu pelangi....


Suatu hari suatu tahun antara 27 Sept dan 27 Okt

Sunday, March 18, 2012

My New Passion?

Setelah lama membiarkan blog ini membatu dan memfosil (ciaah!) akhirnya saya ngidam nulis-nulis juga. Kali ini, tentang kegemaran baru saya di dunia per-make up-an. Eits, bukan berarti saya jago dandan lho ya? Justru sebaliknya. Sebagai katakecil yang telat puber (*sigh*), udah terkenal banget kalo saya ini orangnya selebor bin ajaib. Jangankan pake standar make up minimalis yang versi menjaga kesehatan kulit tea, pake bedak pun saya ogah! Tapi semua berubah sejak negara api menyerang (lho?).

Berawal dari tersandungnya saya pada salah satu merek lokal yang dikampanyekan dalam sebuah seminar kemuslimahan di kampus saya, saya pun mulai melirik kemungkinan bahwa di dunia ini ada makhluk bernama bedak. Ehem. Tapi melirik saja lho ya. Lalu, dua tahun kemudian (yup, Anda tidak salah baca!) saya pun mengikuti beauty class yang diadakan produsen tersebut. Dan mulailah minat terpendam saya menunjukkan batang ekornya. Ya, saya tertarik dengan dunia make up artist. Bukan hanya karena ingin, tapi juga karena butuh!

Butuh. Itu dia. Sebagai seorang dengan "pilihan-pilihan" khusus seperti saya (cara berbusana, cara berias, dst) saya membutuhkan "kebebasan berekspresi" yang sesuai dengan pilihan saya tersebut. Misal, saat suatu acara dan tidak ingin make up yang terlalu tebal tapi ternyata kepentok dengan make up artist berdarah seniman yang tak mau diganggu gugat; atau kita tidak mau mencabut alis tapi perias keukeuh sureukeuh mengatakan bahwa alis kita harus dipangkas demi keestetikaan nasional; atau kerudung kita disulap jadi bunga mawar.. (euh, bisa ya?) Ya, semua yang saya sebutkan itu adalah masalah nyata yang seringkali ditemui. Dan saya tidak mau mengalaminya.

Maka saya pun mencoba berbuat; kecil memang; dan baru untuk diri saya sendiri dulu. Hihi. Walaupun masih acakadut dan seringkali malas.. Setidaknya, saya mulai belajar untuk belajar (waduh, mbulet nya..). Saya mencoba belajar dari tutorial di YouTube ataupun blog yang membahas trik dan info tentang make up. Memang, paling simple dan mudah ternyata adalah dengan mengikuti jejak para blogger yang mendedikasikan dirinya terhadap dunia ini. Malah banyak di antaranya yang suka memberikan give away juga.. (silakan langsung meluncur ke blog LovelyLueLue, XiaoVee, atau DiaryofroductJunkie untuk mengetahui salah satunya).

Harus saya akui, dunia tata rias ternyata tidak semudah itu dipelajari. Tapi karena rasanay sudah menjadi bagian dari passion saya, (ya, ini adalah bentuk lain dari melukis! Pada kanvas yang super unik!) saya akan berusaha terus menapaki jalan ini. Ganbatte! Banzaaai..! *,* Hehe..

Friday, January 13, 2012

"Drunken" Katakecil dan Masjid

Entah kenapa, setiap kali saya ‘bertemu’ dengan masjid baru, ada-ada saja hal konyol yang terjadi. Tidak semuanya selalu saya ingat, memang. Tapi kalau diingat-ingat, banyak juga hehehe. Semoga ini tidak menandakan bahwa saya tidak berjodoh dengan masjid (hiks..). Well, yang saya ceritakan di bawah ini tidak selalu tentang masjid yang masjid (nah lho.. bingung kan?) tapi juga tentang mushola. Kalo nggak salah, masjid itu definisinya yang digunakan untuk sholat Jum’at juga, sedangkan mushola hanya digunakan untuk sholat saja, tidak dipergunakan untuk jama’ah sholah Jum’at. CMIIW. Pokoknya di sini mah disamain aja lah…

Konyol 1: Salah Masuk

Entah sudah berapa kali, dan di mana saja, saya lupa. Yang masih segar di ingatan saya adalah waktu saya mau ikut suatu pengajian waktu SMA di sekolah lain. Setelah tanya-tinyi akhirnya nampaklah juga itu masjid sekolah. Ucluk-ucluk, setelah setengah mengitari masjid, nampaklah ada pintu yang terbuka. Langsung masuklah saya sambil salam. Heu.. Saya pikir apa saya datangnya kepagian ya, kok isinya ikhwan semua…? Dan para ikhwan itu pun melihat dengan pandangan aneh sembari menyuruh saya ke ruangan sebelah (eh apa ngusir saya yak? Ndak tau lah...). Dengan tampang penuh dosa (haatchiing!) pindahlah saya. Huahaha.. setelah masuk ruang sebelah baru saya tau kalo ruangan masjidnya dipisah.. Dan saya salah masuk ke pintu ikhwan..! (untung saya nggak pernah SKSD tiba-tiba gabung duduk ke majelis mereka.. huahaha.. yaa.. walaupun tampang saya.. yaaa.. ganteng juga siih.. haaatchiing!).

Konyol 2: Salah Tempat

Kalo yang di atas kan kejadiannya memang di sekolah lain. Wajar lah. Kalo yang ini… di perpustakaan kampus!!! Udah anak kuliahan! Alah mak! Ceritanya, setelah lama tidak ke kampus, hari itu saya sedang ketiban ilham harus ketemu pembimbing tugas akhir. Lalu mampirlah saya ke perpus yang tadinya mirip kakus tapi sekarang sudah lebih bagus itu. Buat apa? Yang jelas bukan untuk minjem duit. Karena kalo mau minjem duit ya ke bank aja. Bangsanya bank Amir, bank Beni, bank Candra, etc.. (sudah mulai tewur....).

Pokoknya saat itu saya kebelet mau sholat dhuha aja (kekekeke, tumben!) maka saya pun melenggang dengan kangkungnya (?) ke basement perpus yang dulunya adalah tempat nongkrong anak-anak TPB tapi da sekarang eh saat itu mah sepi. Karena saya masih ada wudhu, saya pun dengan pedenya langsung ke tempat yang jelas-jelas nampak sebagai mushola baru yang luas dan bersih dan berkaca-kaca itu (lebay). Setelah memarkir tas bawaan saya di shaf paling belakang, saya celingak-celinguk merasa mushola luas ini kok tidak ramah jama’ah wanita: tidak ada satu pun mukena selain satu butir sarung yang tidak berani saya periksa kehalalan dan kandungan karbon dioksidanya (tewur lagi). Ya sudah, akhirnya saya siap-siap takbiratul ihram. Hmm, mushola jam segini memang sepi, tapi auranya aneh.. bukan karena ada penampakan burger gratis atau nyai kunti bermukena putih.. tapi karena entah kenapa bapak-bapak yang baru masuk dan sudah bersiap sholat tadi sempat-sempatnya memalingkan muka padaku, kayak terkejut gitu. Uh…? Kenapa ya? Bae lah.. Saya pun sholat dengan seadanya (belum bisa sholat khusyu’ kayak kalian lah intinya, tapi sholat katakecil sama kok: diawali dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam, tanpa selingan loncat-loncatan). Gubruk gubruk gubruk.. beres.. berdoa.. beres… lalu dipikir-pikir, sayang juga kalo pergi ketemu dosen sekarang. Bentar lagi juga udah adzan. Males kalo ntar harus wudhu lagi, nyari tempat sholat lagi, dsb, dst, dll, dkk.

Lalu saya memutuskan menunggu dhuhur sambil entah ngapain saya lupa (*nggak berburu ikhwan lhoo.. sumpah! Nggak pernah denger ada ikhwan kampusku hilang diculik makhluk semacam cebong kan?*). Tapi aura kian aneh itu kembali menyergap. Saat beberapa ikhwan masuk, udah mau dhuhur, mereka menatap saya dengan pandangan yang berbeda. Terpana beberapa detik; pastinya bukan karena saya semanis jembatan ancol atau gimana lah, tapi karena sebab yang saat itu belum saya ketahui. Andai tahu, mungkin saya memilih makan pisang goreng di kantin sebelah saja dari pada malu hahaha.. (gak nyambung). Pokoknya, datanglah adzan dan saya pun ikut berjama’ah. Saya cuek katak walaupun terbetik tanya: lho, kok perempuannya saya sendiri?

Wes hewes hewes, sholat jama’ah dan seterusnya sudah beres. Saya pun keluar mau melanjutkan hidup saya. Baru beberapa langkah keluar mushola dan kaki saya pun lemes seperti kerupuk direndam larutan kalium sulfat dua setengah molar (belum pernah ada percobaannya sih..). Pokoknya lebih kaget daripada saat kalian mendengar berita Ledi Dai wafat deh. Dugh! Betul. Saya melihat tulisan tak berdosa di atas pintu di gang sebelah: WC/Mushola Khusus Wanita!!!! Huwaaa…?!?! Jadi? Jadi? Jadi…? Dari tadi itu sayaaa… oh nistaaaaa!!!!

Betul sodara-sodara! Saya baru ingat kalau di basement ini ada mushola khusus wanita, yang telah menjadi TKP kejadian konyol ke-tiga beberapa tahun sebelumnya.

Konyol 3: Salah Hadap

Bukan berarti dari seharusnya menghadap ke Alloh jadi menghadap ke iblis lho ya.. bukan..

Ini ceritanya saya habis praktikum, jaman saya masih anak bawang hijau (ada gitu?). Pokoknya saya masih fresh kinyis-kinyis from the lab. Jam udah menunjukkan angka lima, dan saya belum sholat ashar =,=” Maka, begitu memasuki mushola khusus wanita langganan saya (kali ini saya yakin lokasinya benar), saya langsung menaruh kaki saya di garis start, eh, maksudnya di bagian sajadah untuk kaki. Karena saking khusyu’nya mengejar waktu, saya tidak mengindahkan perasaan aneh yang baru saja menimpa jidat saya di mushola yang kosong itu. Bae lah.. Sholat lah saya dengan seada-adanya. Tapi tidak mengada-ada. Sampai di-finish-i dengan salam.

Hmmm, apa ya? Ada yang aneh..

Setelah berpikir dan mencoba memahami keadaaaaan…………….. oups!!! Saya baru ingat! Di mushola ini sajadah digelar menyamping agar muat dipakai bersama-sama saat berjama’ah! Artinya? Itu sajadah tidak menghadap kiblat! Tapi sembilan puluh derajat dari kiblat! Auuuuuu.. T-T Memang kondisi mushola yang kiblatnya miring itu mengacaukan sense of direction saya, tapi kan harusnya ngga segitunya.. karena saya kan sudah sering memakai mushola ini.. duuuh.. *meratap ratap*. Untung saya masih hidup segar bugar sampai sekarang (apa coba?). Saya nggak inget waktu itu akhirnya saya sholat lagi apa gimana.. Haha.. *jdugh* Emang harusnya gimana yak? (*mentuil yang tau hukum fiqih*).

Konyol 4: ..???

Halo?!? Wooii.. Memangnya tiga kekonyolan belum cukup apa? Sudahlah, yang lain-lainnya biar jadi kenang-kenangan saya dan Raqib Atid saja :D Lain kali saya up date kalo keingetan lagi (jangan lagi-lagi nambah baru dah..)!


#posting pertama di 2012

Alhamdulillaah

Wednesday, November 30, 2011

The Death Penalty: A New Conscience (*at least for me*)

Right now I am watching The Life of David Gale on one of TV cable channel, a film about a man who's about to be executed. Well, the movie is still on, so I don't even know whether he's guilty or being framed, but he always claims that he's innocent. He depends his life to a reporter lady who is still digging for the truth. Well, for the sake of my writing target speed (?), I've just googling it and here's what I've found. Voila..

The movie went flash back and forth, but I think one of the point is, whether capital punishment is humane or it is nothing but legal murder? There are a lot of pros and cons on this matter. In US it is about 60% pros and the rest is against it. Well, anyway, I end up watching the movie and abandoned this note, haha. The film is a very ironic and tragic story, I think. . . This film remind me one of John Grisham's novel: The Chamber. The novel tells the story of a long missing grand son who strive to save his grand father from a gas chamber. Very sentimental. But it is interesting to put ourselves on another new point of view: it is easier to us to pros when there's no one of your own blood and bones there awaiting to be executed, in whatever methods. And it is never a pleasant task to do for the executor, anyway.

Eye for eye, teeth for teeth. That's the reasoning of the pros. The victims or the victims family have the right for retaliation. It is a good way to control the level of crime. Islamic law shows that. And I believe in it's greatness of it's values: it's good here, and here after. But then, there's this special rule, that turns good into great: forgiveness. Of course, it applies on special cases, which is a long course material to write here, as I am just too lazy to read and learn it right now :D *bleeeh* Please dig for more of Islamic laws on capital punishment. I got this link here, that I haven't review yet, but I hope it is "something".


There are people who said that there's no truth, only perception, perspective... but I think it's not the truth that we are challenged to get. It's about our best effort and approach to get the truth; which is, in my opinion, it is on Islamic rule. It is not about playing God, rather it is about playing on God's rule. And it is a big deal because:


.. flawed system will kill innocent people..




The conclusion is.. the death penalty is not for the dead one. It's never about the victim. It's about the living people who left behind: so the families can go on, so there're no more people who will do the same thing ever again and hurt others, so there would be a better world.. If the objective can be achieved without shedding any blood, then it is better. Please correct me if I am wrong.



#Oh yeah, don't get me wrong.
I wrote this in English not because of my capability nor my hobby, but for my sickness.
I am sick of this English autocorrect option :'( still can't find the setting.. whaaa... gaptek...
By the way, I used google transtool to help me out sometimes.. and it works great :'(
Ouch.. hate it.. when machine outmatch human..
But it seems the machine works better when translating Indonesia to English than the vice versa.

Tuesday, June 22, 2010

Di mana?


... bagaimana dengan cinta untuk seorang lelaki is? Disimpan di mana sebaiknya? :-) ..


Begitu engkau bertanya.
Sungguh ingin kutingkahi: "Aku pun tak punya jawabnya, kawan!"
Pertanyaan sederhanamu itu benar-benar tak punya jawaban yang sederhana.
Setidaknya menurutku.
Setidaknya bagiku...
Tapi rumput yang bergoyang pun enggan berbagi suara denganku,


Maka..


Tertatih kuketik jawaban itu,
(semoga elektron-elektron yang menerbangkan pesanku itu memintakan ampunanNYA untukku.. apalah diri ini, yang masih mencoba mendaki jurang integritas yang begitu curam.. )


: di jalan Alloh =)


Kawan, dan engkau pun balas :) padaku..
Ah..
Indah nian caraMU mengingatkanku, Tuhan..

Friday, March 26, 2010

Re~sensi Novel: State of Fear

Judul Novel : Kondisi Ketakutan

Judul Asli : State of Fear

Genre : Fiksi Ilmiah

Penulis : Michael Crichton

Alih Bahasa : Arif Subiyanto

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tempat/ Tahun Terbit : Jakarta, Maret 2009

Jumlah Halaman/ Ukuran : 632 halaman, 23x15 cm


Apakah alam ini seimbang?

Atau justru sebaliknya? Tak pernah seimbang?

Lalu di manakah posisi manusia?


Orang yang merusak alam karena bodoh dan tidak tahu, atau karena sok tahu lalu membuat aksi keliru, sama berbahayanya”, begitu kata MC. Setelah Anda membaca novel ini, Anda pasti akan sepakat dengannya. Betapa manusia adalah makhluk istimewa yang penuh dengan keterbatasan, yang bahkan tidak memiliki pengetahuan yang memadai mengenai tempat tinggalnya, baik di masa lalu, masa kini, maupun (kemungkinan besar) di masa mendatang. Lingkungan adalah sebuah sistem super besar yang senantiasa berubah dan bergerak: tidak pernah setimbang. Dinamika lingkungan tersebut, termasuk di dalamnya pengaruh geologis dan iklim, telah menempatkan manusia sebagai subjek sekaligus objek yang sangat rentan. Diterbitkan pertama kali pada tahun 2004, novel ini masih cukup hangat dan pas untuk disantap para pemerhati dan pecinta lingkungan hidup. Tapi saya bacanya yang versi English, though ^^;


Pemikiran yang coba diusung MC ini bertentangan dengan pandangan yang dianut secara umum. Global warming, benar-benar nyatakah teori tersebut? Ataukah sekedar akal-akalan politis ekonomis demi menciptakan sebuah teror bagi semua negara di dunia? Mengapa kita harus mencemaskan fenomena alam yang normal yang baru akan terjadi lebih dari seribu tahun yang akan datang? Ada apakah di balik semua itu? Sebuah konspirasi? Or what? Hmm, saya sempat ngobrol tidak serius tapi serius dengan kawan bologi saya, dan beliau bilang memang menurut sebagian penelitian, bumi ini cenderung turun temperaturnya.


Dibuka dengan fragmen-fragmen pendek yang khas, dan cerita pun saling bertautan menanamkan benih penasaran tumbuh di benak para pembaca. Didukung ilustrasi grafik-grafik dan data ilmiah (16 lembar bibliografi disertai komentar pribadi penulis!) membuat novel ini sukar dibantah. Di awal, alur berjalan cukup lambat, namun setelah menamatkan novel ini, Anda tak akan menyesal karena akan mendapatkan jawaban dari semua misteri yang telah ditebar penulis di awal cerita.


Lebih dari novel-novel Michael Crichton yang lain, pesan yang ingin disampaikan Crichton lewat novel ini sangat masif dan tebal. Namun, Anda tak perlu khawatir akan mendapati teks-teks panjang yang bernada menggurui, karena semua pesan tersebut dikemas dengan baik dalam dialog antar tokohnya tanpa melibatkan para pembaca.


Kritik yang dilontarkannya di antaranya adalah mengenai lembaga pendidikan tinggi sebagai institusi yang seharusnya netral dan tidak terbelit hubungan yang rumit dengan pihak sponsor penyandang dana. Dalam catatan akhirnya, Michael Crichton menekankan bahwa saat ini yang lebih dibutuhkan oleh bumi adalah semakin banyak orang yang bekerja nyata bagi lingkungan, bukan sekedar teori-teori yang dipoles sesuai pesanan para pendonor yang tak lain dan tak bukan para pemilik industri dan pemerintah.


Yang sangat saya sayangkan adalah penerjemahan judul novel ini menjadi Keadaan Ketakutan, yang terdengar kurang sastrawi. Padahal, jika judulnya dipertahankan tetap sesuai judul aslinya, akan lebih menjanjikan suatu permainan kata-kata yang menarik. Sebuah negeri yang selalu dicekam ketakutan? Ataukah keadaan ketakutan itu sendiri?



Hehe, baru beres diotak-atik sekarang.. padahal bacanya kapaaan gitu.. Mana ngga jelas ini teh yang diresensi buku yang Indonesia (*yang belum dibaca?!*) tapi pake 'data' dari yang versi English,..

Alhamdulillah..

Thursday, March 04, 2010

Jeruk Tidak Halal

Sudah beberapa bulan ini saya sangat ketergantungan dengan jeruk. Iya, jeruk buah yang warnanya orange dan bahasa inggrisnya juga orange itu. Alasan pertama, saya suka rasanya. Alasan ke-dua, saya suka rasanya. Alasan ke-tiga.. sampai ke-tiga puluh tiga karena saya suka rasanya :D hehe.. Nggak deng.. alasan sebenarnya adalah karena saya menikmati proses ketakutan berlebihan untuk jatuh sakit, secara saya mengagendakan hari-hari ini harus sibuk. Daripada membeli suplemen yang tidak jelas klaim-klaimnya itu, saya lebih suka menikmati yang alami (walaupun tidak murni organik): ya jeruk-jeruk tadi! Tapi saya sukanya yang rasanya agak-agak asam gitulah, biar segar di mulut.

Anehnya, sudah berkali-kali saya mencari tahu jeruk manakah yang sesuai selera saya itu. namun tidak ketemu juga. Hmm, bukan jeruk lokal sih :D (*ooi.. dukung petani lokal Bong :D*).
Ponkam, lokam, baby shan.. entah apa.. tapi semua rasanya tidak konsisten; kadang manis kadang asam. Asa aneh kalau nanya penjualnya: "Yang asam yang mana, Pak?", soalnya kan belinya di supermarket (*hayo.. dukung pasar tradisional, Bong!*) hehe.. Akhirnya jalan keluarnya (*didasari kemarukan saya*) saya membeli ketiganya. Ehem.

Satu hari, saya melihat ada jeruk yang sudah dibuka sebagian, rupanya ada pembeli yang mencoba incip-incip. Dan saya pun bertanya pada mas-mas di swalayan tersebut; intinya mah ini teh boleh diicipin? Dan beliaunya pun bilang sok aja. Maka saya dan teman saya si bukan cebong padahal ngefans ke-cebong, masing-masing mengutil satu juring (*bukan sekilo, sayang .. :( haha *). Dan kami pun membelinya setelah tahu rasanya. Ini sudah berminggu-minggu lalu.

Kemarin dulu saya ke swalayan yang sama. Sendirian. Pengen banget beli jeruk, tapi yang asam saja. Eh, ada yang sudah diicip.. Wah, daripada beli ketiganya (*yang lagi mahal dan short budget padahal*), kalo diicip kan bisa beli satu aja. Tapi sesuatu mengganggu saya. Betulkah ini halal? Memang benar yang menjaga bilang silakan saja. Tapi bagaimanapun juga, dia bukan owner. Argh.. Agak berputar-putar jadinya. Tapi akhirnya saya memutuskan tidak mengicipnya; dan membeli ketiga jenis jeruk tadi (*dalam kuantitas kecil, sih, hehe..*). Sesampainya di rumah, saya pun segera menghajar ketiga jeruk tadi, yang surprisingly.. ketiganya asam! Hal yang sangat jarang saya temui.. :D Seneng dan puas...

Sampai kemarin saya tidak kepikiran apa-apa mengenai hal itu. Baru tadi saya ngeh. Ada message-Nya yang luput dari perhatian saya. Hindarilah 'incip-incip' yang tidak jelas, karena Alloh pasti menjaga kita jika kita menjagaNYA; dan memberimu ganti yang jauh lebih baik.. Termasuk 'incip-incip' yang 'lain'.. Inget ya Bong!! Bandel sih kamu mah.. >.<

Friday, February 12, 2010

The 'Come Back'

Setelah dengan sepuasnya saya menggunakan blog ini untuk kesewenang-wenangan saya pribadi, terjebak dengan microblogging atau nggak ngeblog sama sekali, mungkin sudah saatnya sedikit lebih banyak berkonsentrasi pada apa yang 'ingin', 'harus', dan 'patut' ditulis. (*apakah ini artinya saya sudah wake up? Jangan senang dulu :D Ini artinya hanya satu: si cebong harus lebih banyak lagi belajar berenang di empang perbloggingan ini.*) Yeah. Hmm, ngiri liat blog orang lain, haha... (*bagus Bong, itu sebuah langkah awal yang bagus setelah sekian lama kamu tidur, dorman akut!*)


Mohon maaf ke semua, saya sengaja tidak membawa banyak oleh-oleh dari kepulangan saya yang terakhir kemarin. Ada beberapa hal yang menggelitik hati saya, entah itu menarik atau tidak. Yang jelas, saya belum menemukan sebuah jawaban yang memuaskan hati.

Ini tentang tiga orang yang pasti saya temui sepanjang perjalanan. 
Peminta-minta. 
Pengamen.
Penjual asongan.

Yang pertama ini, pada banyak kasus, modalnya adalah kemampuan teatrikal untuk menggugah simpati massa. Tidak semuanya berpura-pura, tentu. Tapi adalah kenyataan bahwa 'profesi' ini tidaklah disukai oleh Tuntunan kita. Tapi adalah juga kenyataan, saya lebih mudah memberi kepada mereka daripada kepada dua golongan yang lain: berharap pahala menolong dzuafa. Tapi kian susah saja membedakan mana yang benar-benar dzuafa, mana yang boong-boongan. Terlebih jika melibatkan anak-anak; jadinya sesal.


Golongan ke-dua ini lebih variatif; dari yang menjual hiburan benar-benar, sampai golongan pertama yang nyaru dengan bermodal suara. Hmm, saya salut sekali dengan seniman jalanan yang mendedikasikan seluruh diri dan kemampuannya untuk berekspresi di hadapan orang-orang asing ini. Tapi jika sekedar perform pas-pasan, hmm, gondok juga. Terkadang merasa tak adil dan berdosa jika saya memberi apresiasi golongan ini tak sebanding dengan biaya kendaraan umum itu sendiri :D Tapi begitulah seni. It's all about 'what your heart taste'


Golongan ke-tiga ini yang seringnya saya abaikan. Kerja keras mereka menawarkan dan menaruh barang-barang sekedar supaya penumpang tertarik dan bisa memeriksa barang lebih lanjut, bagi saya adalah angin lalu saja. Tak ada hubungannya dengan saya. Saya toh tidak membutuhkan barang-barang yang mereka jual (yang seringnya adalah barang-barang berharga murah dengan kualitas rendah). Tapi ketika saya balik menuju Surabaya kemarin, dengan bis karena tidak ada jadwal kereta yang match, sesuatu mengenai kepala saya. Ini gara-garanya saya membeli sebungkus kacang dan emping melinjo yang ditawarkan mas-mas pengasong (yang sebelumnya seingat saya tak pernah saya lakukan), yang pada gilirannya mengingatkan saya kisah orang-orang dekat teman-teman saya (kakaknya, ayahnya, dsb) yang menyambung hidup dengan berjualan demikian. Dan saya sedang meninjau ulang 'penilaian' saya terhadap ketiga orang yang mewarnai perjalanan saya itu. Kenapa saya bisa sekejam itu? Bukankah membantu golongan yang mencari nafkah dengan cara terhormat walaupun pendapatannya kecil adalah juga sebuah langkah yang ....?

Di sana ada keberkahan, insyaALLOH.

1-10 Feb, 2010

Friday, January 15, 2010

Ingin Kukatakan: ...Seperti Alloh Sedang Memelukku!

Setiap hari adalah denting waktu, sampai sebuah gelegar datang membawamu terbang; lalu berakhirlah semua yang selama ini ditakut-takutkan, juga semua yang dibangga-banggakan..

Seperti hari-hari ini, Kawan..
Kita meniti denting itu, berharap gelegar itu cuma geletar saat utusanNYA menyampaikan salam;

"Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai.."

Tapi denting itu begitu jarang terdengar, seperti beeper infrasonik yang tenggelam ditindas background noise yang kelewat kejam; sedang gelegar itu terbang mengawang lupa daratan, seperti ketukan bom ultrasonik yang diabaikan. Maka jadilah aku, terseok menanti iluminansi jauh di ujung lorong hari; dengan senang hati berkubang lumpur saat lautan di depan (nampak) terlalu menantang..


Jika detik yang berderik dan gelegar yang tak ingin kita kenang (namun selalu membayang-bayangi) itu begitu licin tuk dipegang dalam ingatan; apatah lagi DIA yang denganNya segala yang tiada menjadi ada.. Dengan bahasa apa harus kuocehkan TanganNya-TanganNya yang ajaib itu..?!? Yang tersisa hanya sebuah kesadaran, seperti yang kujadikan judul paragraf-paragraf hina ini..


-hmm, meracau after M.A.Newton session-

Wednesday, December 30, 2009

Hore.. Pin Hari Ibu!

Yow, meskipun sempat salah tafsir, Alhamdulillah, nih pin jadi beredar juga di negeri Ngalam sana :P
thanks to freeda yang udah bermurah hati mau memakai desain dudul saya.. dan thanks to mas-mas yang nyeting gambar yang bersangkutan menjadi sedemikian ini ;p

yows.. walaupun saya nggak kebagian pinnya U-U

Re-Sensi: Timeline

Michael Crichton lagi..

Hehe, udah lama banget bacanya.

Jadi lupa euy.

Halah..

Oke, ayo kita gosipin om MC dulu.

Sejujurnya, saya (*overloaded with prejudice*) seringkali menaruh ‘buku-buku’ fiksi MC yang berbau ‘fantasi’ di daftar terbawah prioritas baca saya (*relatif terhadap buku sejenis MC lho ya, hohoho.. kalo terhadap yang lain sih, tetap yang teratas lah..*). Sebutlah The Lost World, Jurassic Park, termasuk Timeline ini! Yow. Saya adalah tipe orang yang tidak bisa (*apa tidak suka?*) membaca buku ‘fantasi’ yang tidak punya dasar logika yang kuat. Mungkin ini alasan terbesar kenapa saya tidak pernah tertarik untuk membeli buku fiksi ilmiah buatan anak negeri. {(*beuh.. perasaan kamu memang nggak pernah beli buku deh, Bongki! Kerjaanmu kan minjem…?*) (*Aduh, Bongka! Diem kenapa sih…?*)}

Tapi setelah saya membacanya, hm, walaupun tetap saja tidak seratus persen sejalan dengan pemahaman saya mengenai waktu, novel ini membuktikan bahwa prejudice saya salah. Sebenarnya yang bikin saya lega adalah catatan penulis di akhir buku yang menegaskan pendapat pribadinya mengenai konsep waktu, yang ternyata sejalan dengan pandangan saya. Hoho, akhirnya MC sendiri mengakui bahwa novelnya ‘hanyalah’ novel =D (*Ya iyalah novel, bukan dodol nangka! Tapi, kalo mau dijadikan bungkus dodol nangka, bisa juga..*)

Kisah yang dirajut dengan dasar mesin waktu dan penelitian arkeologi ini jauh lebih kompleks dari The Terminal Man. Berlatar belakang abad pertengahan Inggris, setting dan kisahnya membetot rasa penasaran saya atas nasib para tokohnya. Baca sendiri aja ya.. Hepi ending kok.. huehehe.. (*lari..*)

(*Bongka’s side kick: sebenarnya waktu itu asa ada banyak ‘hikmah’ yang didapatkan setelah membaca novel ini. Tapi sekarang sudah lupa. Hiks. Jadi sedih. Mungkin kapan-kapan kalo saya sempat membaca versi originalnya, akan ketemu lagi dan dituliskan dengan baik dan benar. Mungkin saja.*)

Note: Semua yang dipetik-petik dan dibintang-bintang adalah benar pada saat tulisan ini naik publish dan tidak membahayakan organisme apapun dalam proses pembuatannya, termasuk spesies langka si Bongka maupun si Bongki. Percayalah.



trims untuk yang udah minjemin bukunya.. JKK

Re-Sensi padahal sensi aja: The Terminal Man

"The patient did not move, made no sound. The brain could not feel pain; it lacked pain sensors. It was one of the freaks of evolution that the organ which sensed pain throughout the body could feel nothing itself."

-Michael Crichton, The Terminal Man-

Termasuk salah satu novel awal yang digarap saat MC masih begitu muda, tidak terlalu panjang dan tidak terlalu rumit. Namun, endingnya bisa dibilang tetap mengejutkan. Basic neuroscience yang ditawarkannya, sangat menarik minat saya. Saya lagi-lagi harus angkat jempol atas keluasan medan jelajah MC (*fyuuh, latar belakang MC sebagai seorang doktor dokter, dosen, penulis novel dan skenario*) yang menyumbangkan andil besar pada dinamika novel ini.

Setidaknya ada dua hal yang saya 'catat' dari novel ini:

  1. Proses pemrograman dasar otak manusia selesai saat usia sekitar tujuh tahun. saya jadi bertanya-tanya, adakah hubungannya dengan perintah mulai diajarkannya sholat saat anak usia tersebut?
  2. Secanggih apapun suatu sistem, dia tidak akan pernah bisa memahami dan mengerti dirinya sendiri. Saya jadi bertanya-tanya, adakah kiranya hal ini adalah bagian dari hikmah mengapa Sang Khalik menciptakan Makhluk, padahal DIA tak kekurangan suatu apa?
Tampaknya edisi bahasa kita belum muncul di pasaran, jadi bersabar saja dengan e-book english-nya :P worth it kok..

Bila Cebong Nyatroni Tangkuban Perahu

Just the open space..
for the open mind and the open soul..

Feel cool?!?
Cold, actually.. di bawah gerimis ;p


syuting pelem cebong sahara berbisik :P


narsisianus budak-budakus..

Batu yang ini bukan rumah cebong, beneran..
Ini adalah hajar aswad (*weeks...*) yang saya ziarahi di kawah Domas.
Featurenya mengingatkan saya betapa hidup ini adalah sebuah perjalanan panjang yang tak bisa ditebak bagaimana ujung pangkalnya...


Lha, ini baru oleh-oleh untuk kawan semua..
She's pretty, huh...?
Pertama kali melihatnya, saya langsung jatuh cinta... ^^
Remarkable, small, but tough!

Rata TengahKalau yang ini nggak usah diliat..
Suicidal feeling that she got while staring at the Upas Crater,
and the FP-thingy dancing in her mind...

Bala cebong hendak menguji nyali: siapa sanggup berenang di lumpur bawah sana?

Hanya bendera yang lupa belum dikerek.. huehhehehe...


Alhamdulillah, atas berkat rahmat Alloh Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur demi membela kenarsisan dan kesejahteraan, bala cebong telah berhasil menikmati indahnya Tangkuban Perahu. Perjalanan yang rencananya hanya akan berupa olah raga mata alias wisata semata, telah dengan semena-mena tanpa persiapan berubah menjadi hiking ringan (*thanks to special security agent kami, Pak Roby, atas pengawalannya..*) hiks hiks.. karena namanya aja hiking ringan, ya tentunya nggak seberat jaman bareng crew MUFTI baheula.. tapi senengnya, jadi bisa menikmati kawah Domas juga (*beuh.. secara.. pagi buta portal belum dibuka juga cebong-cebong itu sudah ambil start di gerbang Jayagiri .. kalo ngga bisa nyatronin semua site, ya kebangetan! Sayangnya beberapa cebong tidak bisa menikmati enaknya merendam kaki di air panas berbelerang kawah Domas, takut jadi cebong mateng siap santap, haha! Nggak deng.. tapi karena you know lah..!*)

Berdasarkan pengalaman para cebong, berikut ini rekomendasi tim sembilan kami:

  1. berangkatlah pagi-pagi untuk menghindari macet, apalagi saat week end.. tapi jangan kesubuhan kayak kami, huhuhu.. bisi disuruh kemping sama penjaga gerbangnya..
  2. kalo berbanyakan alias berombongan, lebih baik memakai mobil atau carter angkot kayak kami :P soalnya bakal lebih menghemat ongkos dan waktu, bahkan jika mau akan lebih mudah jika ingin lanjut jalan ke arah Ciater.. Untuk carter angkot, sekali jalan kalo pinter nego bisa dapet antara 100-150ribu.
  3. bawalah makanan sendiri, yang bergizi dan segar, soalnya kalau sudah di atas jenis makanan yang dijual tidak sebanyak di kota bandung, huehehe (*nggak penting ya..? pokoknya jangan ikutan HMI (Hari Mie Internasional) kayak kami lah.. nggak asyik..*)
  4. siapin dana untuk beli tiket masuk, per orang 13ribu.. jangan pake aji-aji halimunan.. bisi ntar ngga bisa pulang.. haha..
  5. dll, etc, dkk..

Thursday, December 10, 2009

Mereka Bicara

Satu petang, bersama gerimis..

(*7A+1I*)

Friday, November 13, 2009

Re-sensi: Veronica Decides to Die ~ Paulo Coelho

Hm, senada dengan buku PC sebelumnya, satu hal sederhana yang paling menohok:

mungkin kita baru bisa menghargai hidup, jika kita mengenal benar-benar arti kematian!


Thursday, November 05, 2009

Oke, Oke.. Saya Memang Narsiiis..

The truth is, kebiasaan saya dalam menamai atau menandatangani buku/file saya adalah dengan ikonik semacam yang di bawah ini, trus di bawahnya dikasih nomor hape (*pastinya nggak pake barkod*). Ya, agak kekanakan sih (*but who cares?*) apalagi kalo dihubungkan dengan analisis psikologi.. Well, saya hanya berharap tidak akan pernah tanda tangan dengan versi ini di dokumen resmi saya. Hmm..



Wednesday, October 14, 2009

KIBO

untuknya, yang tersenyum di bumi baru

HE brought you there on a mission.. Not dropped you on an unknown place just like that..
HE brought you there, so HE had already set all that you need..
new friends
new family
new strength
new patient
new passion
new point of view
new ikhlas..

may all the difficulties you find, Alloh will make them easy for you to overcome, with thankfulness and HIS Mercy.. InshaALLOH.. HE loves you in HIS very own way..

=syawal, dasa hari pertama=

ternyata kata-kata itu kembali, untukku..

Friday, October 02, 2009

Langit, Angin, dan Ilalang

"Semangat tak pernah mengenal waktu dan ngantuk :-)", kata langit yang gelisah menelusur tali makna takdir. Lalu angin menjawab sekembalinya dari kembara: "Hm, mungkin takdir itu perpaduan antara tetapan Allaah dengan usaha/ putusan manusia?"; sang ilalang tercenung. Bergoyang tak kentara menekuri akarnya yang serabut menciut, menonton dialog para kelana.

Tuesday, September 15, 2009

The Boundary Condition

Batas dari kesabaran adalah keistiqomahan,

Batas dari ketidakmungkinan adalah kuasa Tuhan,

Batas dari penderitaan adalah kesyukuran,

Batas dari keinginan adalah kematian..

= 15 September 2009 =

Ramadhan ke entah berapa