Showing posts with label kaTaNa. Show all posts
Showing posts with label kaTaNa. Show all posts

Wednesday, June 20, 2012

Information is Power

"Browser Anda tidak lagi didukung oleh Blogger. Beberapa bagian Blogger tidak akan berfungsi dan Anda mungkin mengalami masalah.
Jika Anda mengalami masalah, coba Google Chrome. | Tutup"

Ow ow...

Begitu ternyata :)

Mungkin memang benar..
Kekuasaan itu cenderung korup.
Dan kekuasaan nyatanya toh tidak hanya melulu tentang politik.

Di sini pun "kekuasaan" mulai menunjukkan hegemoninya.

 

Wednesday, May 23, 2012

Satu hal tentang twitter

Satu hal tentang twitter.
Menengok lini masa, dan berderetnya cuap-cuapan saya, terpentang betapa mudahnya sebuah kata tercipta. Dari letikan ide yang mencuat jadi ketikan pendek. Ruangnya terbatas oleh 140 karakter, namun toh nyatanya sambung menyambung menjadi rangkaian cerita. Cerita implisit tentang hidup si saya. Dan para tweeps mania lainnya.

Satu hal tentang twitter.
Dia mengingatkan saya. Pada sepasang makhluk yang tak henti-hentinya mencatat amal kita: lebih rapat dari update status twitter, lebih detail dan panjang karena menembus batas 140 karakter, dan.. tak mengenal RT maupun delete. Ah.. Sepasang makhluk itu..

Satu hal tentang twitter.
Sekarang jika kulihat lini masa.
Aku teringat catatan amalku, kawan..


Monday, March 19, 2012

Mario dan Luigi Makan Sotoji?

Entah mengapa begitu mendengar tentang soto jamur, yang mucul di kepala saya malah si duo plumber Mario Bros yang suka mukul-mukul jamur tea. Sungguh tak nyambung. Tapi begitulah adanya.

Suatu hari yang cerah (selalu cerah karena menghadap layar PC yang kebyar-kebyar), saya berkeliling dunia maya dan menemukan informasi mengenai lomba blog yang bertujuan untuk me-review produk Sotoji, soto jamur instan yang baru saja diluncurkan, guna meraih opini publik yang positif namun juga kritis. Dan di sinilah saya sekarang. Mencoba mengingat kembali sensasi tiga bungkus Sotoji yang telah musnah dari muka bumi karena ulah saya.


KEMASAN


Pertama melihat bungkusnya, yang saya cari adalah label halal MUI, dan langsung dapat! Setelah diterawang dan diraba (euleuh, kayak meriksa uang saja), ternyata bungkusnya asli. Asli membuat saya tertarik dengan material yang digunakan. Menurut penilaian saya, materialnya relatif tebal sehingga akan mampu menjaga kualitas makanan dan aman. Dari segi pilihan warna pun sangat menyegarkan mata.

Walaupun desainnya masih sangat "mainstream" bungkus mi instan, saya bisa membayangkan tumpukan Sotoji ini di rak supermarket, dan rasanya masih cukup "stand out" dibanding produk lain yang sejenis. Namun, alangkah sayangnya jika material kemasan yang bagus tadi hanya sekali pakai dan langsung dibuang. Kemasan bisa dibuat lebih menarik dan menantang, keluar dari pakem yang sudah umum. Kemasan juga bisa dijadikan media promosi dan positioning yang kuat.

Bayangkan jika Sotoji punya logo (siapa yang meragukan kesaktian apel bekas gigitan yang mengasosiakan gadget tercanggih, misalnya?) yang kuat dan tercantum dalam kemasan tersebut, katakanlah tokoh kartun berbentuk jamur yang khas. Atau alih-alih petunjuk cara memasak yang sudah umum dan mungkin tidak lagi dibaca konsumen karena sudah hafal di luar kepala, Sotoji menggunakan space tersebut untuk menghibur konsumen. Misal; komik dua kakak beradik yang berebut masak dan makan mi. Atau tuliskan, cara masak: Robek bungkusnya, keluarkan minya, lalu teriak, "Maaaaak... masakin Sotojiiiiiii...." Atau bisa juga diisi dengan tips dan resep berbahan dasar Sotoji. Atau, doronglah konsumen untuk hidup hirau hijau dengan memberi tips apa yang sebaiknya konsumen lakukan terhadap bungkus tersebut; mulai dari menggunakan kembali untuk crafting, lihat website tertentu untuk pengolahan limbah, dan lain sebagainya.

Memang hal ini memerlukan kreativitas dan investasi yang besar, namun, percayalah, dalam persaingan mi yang sangat ketat hal ini bisa menjadi nilai tambah yang luar biasa. Apalagi sebagai produk baru yang masuk ke pasar yang sudah padat, hal-hal mudah dan murah (dalam jangka panjang) yang bisa mencuri perhatian konsumen, adalah kesempatan yang amat sayang untuk dilewatkan. Orang mungkin tidak akan membeli dan memakan mi karena kemasannya, tapi kemasan yang unik membuat orang berhenti untuk melihat produk baru tersebut. Kalau orang sudah melihat, orang akan mempertimbangkan akan mencobanya ataukah tidak. Kalau orang sudah mencoba, ini bisa menjadi jalan masuk untuk membuat orang menjadi pelanggan setia. (Hajuuuuh.. Sok tau banget ya katakecil ini. Tapi sungguh, inilah yang saya rasakan sebagai konsumen.)


Kemasan Sotoji memang sudah memiliki poka yoke yang memudahkan untuk dibuka, namun masih susah dicari. Usul saya, alih-alih berupa satu irisan atau sayatan, akan lebih terlihat jika berupa dua sayatan yang saling memotong dalam bentuk V. Terutama untuk kemasan bumbu minyak. Saya terpaksa menggunakan gunting untuk membukanya karena sulit dibuka dengan tangan kosong.


MI

Awalnya, begitu tahu Sotoji ini berupa mi putih, saya sempat down karena memang kurang suka dengan mi putih. Tapi setelah saya coba, ternyata ini bukan mi putih yang biasa. Teksturnya lebih kenyal, sehingga tidak mudah hancur. Sotoji juga tidak menyerap kuah (alasan mendasar mengapa saya tidak suka mi putih), namun tetap lunak dan tidak keras. Boleh dibilang, Sotoji adalah mi putih instan pertama yang membuat saya jatuh hati. Mi putih juga ternyata lebih "dingin" di perut.

Tekstur jamur dalam Sotoji sendiri cukup kenyal, sedikit mengingatkan saya pada rasa ayam. Memang, jamur mengandung glutamat alami yang memberi rasa gurih. Saya memasak jamurnya bersamaan atau setelah mi dimasukkan ke dalam air mendidih. Bagi Kawan yang tidak suka atau tidak bisa memakan yang terlalu liat, coba masukkan jamur terlebih dahulu dan tunggu 1-2 menit, baru masukkan mi agar teksturnya lebih lembut.


PORSI

Porsi yang dibuat oleh Sotoji sangat pas bagi saya, tidak terlalu banyak, juga tidak kurang. Apalagi tingkat kerapatan jamur terhadap mi, wuiiih, asoi! Tadinya saya pikir jamurnya akan seuprit seperti pada umumnya garnish mi: asal bisa diklaim rasa tertentu. Yang satu ini tidak. Dia total mengusung "kejamurannya".


RASA

Setelah jadi dan mencicip satu sendok, saya menyesal sekali mengapa tidak punya persediaan cabe dan jeruk untuk menambah mantabnya hidangan ini. Sungguh, ditambah irisan cabe merah dan asamnya perasan air jeruk, ini bisa menjadi mi yang sempurna untuk disantap saat hujan melanda. Rasa kuahnya sendiri, karena saya suka banyak kuah, tidak terlalu tajam. Padahal saya sudah menggunakan seluruh bumbu yang disediakan Sotoji. Biasanya, saya hanya memasukkan separuh bumbu mi yang saya makan. Bagi orang yang tidak suka asin dan rasa yang menyengat seperti saya, ini adalah berkah yang mensugesti saya bahwa mi ini kandungan MSG-nya rendah. Namun, bagi Kawan yang sangat suka asin, siap-siap saja menambahkan garam atau mengurangi jumlah airnya. Satu lagi yang saya suka dari mi ini adalah warna bumbunya yang mirip sekali dengan bubuk kunyit alami. Saya juga terbersin-bersin waktu tak sengaja menghirup bubuk cabenya; bau cabe kering asli! Bawang goreng sendiri tidak kasatmata dalam Sotoji karena sudah dicampur dalam minyak bumbu. Padahal saya berharap ada bawang goreng renyah yang bisa ditaburkan di atas mi.


Jika ada kekurangan yang cukup mengganggu saya dalam Sotoji, itu adalah tidak adanya sesuatu yang "kriuk" saat memakan mi ini. Jadi Kawan harus menyediakan sendiri pelengkapnya. Tahukah Kawan apa yang muncul pertama kali saat saya meliurkan (hush!) sesuatu yang kriuk itu? Sesuatu itu adalah kripik usus khas Malang, kota kelahiran saya. Atau kripik jamur tiram, khas Malang lagi. Atau kripik kentang. Atau keripik ubi yang asin. Wuduuuh.. Nyummyyy.. Mudah-mudahan ke depannya Sotoji bisa menambahkan pelengkap siap tabur ke dalam paket minya. Apalagi kalau rasanya dibuat lebih bervariasi. Saya sangat penasaran dan menunggu-nunggu Sotoji goreng. Kayak apa ya rasanya?


Di balik rasanya yang menggoda, ada satu misteri yang disimpan oleh soto eksotis ini: jangan tanya saya soal harga! Sungguh mati, saya sudah salto dan tiarap mengubek-ubek websitenya untuk tahu hal tersebut. Namun fakta itu tidak saya temukan juga. Akhirnya saya pun bersemedi dan meminta wangsit dari mBah Gugel yang Agung. Didapatkanlah gosip bahwa 1 dus isi 20 bungkus Sotoji bisa diboyong cukup dengan 60.000 perak saja, atau kalau per bungkus bisa dibandrol 3.500 perak. Murah? Nggak juga. Tapi worth it!

Mengapa saya bilang harga segitu mahal? Karena standar mi pada umumnya mentok di harga 1.700 perak. Mengapa saya bilang harga segitu worth it? Cobalah tengok label 100% produk Indonesia. Setahu saya, bahan baku mi kuning adalah gandum (which is, musti diimpor dari luar negeri) sedangkan bahan baku mi sohun dalam Sotoji ini (sejauh penelusuran saya) adalah kacang hijau, kemungkinan besar dari produk nasional. Jadi produk ini sehat bagi perekonomian nasional.

Warna soun yang putih bening dan tidak banyak mengembang mengindikasikan tidak adanya zat pewarna dan pengembang dalam mi ini. Hasil rebusannya pun bening dan tidak berminyak, sehingga saya tidak membuangnya. Dengan demikian, asumsi saya mi ini lebih aman dan sehat bagi tubuh. Dengan merangkum semua kelebihan yang saya tulis di atas, saya simpulkan harga yang dipatok tersebut adalah sangat pantas.


Bagaimana? Kawan tertarik untuk mencobanya? Jangan hanya ngiler, segeralah menjadi early adapter. Langsung saja meluncur ke website Sotoji atau mention twitter Bapak @rsugito atau @sotoji_. Tidak mau? Banyak-banyak do'ain saya menang lomba ini, kali aja saya mau berbagi hadiahnya bersama Kawan semua dengan mentraktir makan Sotoji. Kali aja lho.. Cuma kali... Makanya, buruan beli sendiri biar pasti... Pasti ketagihan!


Disclaimer:
Berhubung sudah kondangnya kedodolan saya dalam bidang fotografi, saya tidak ingin menurunkan citra Sotoji dengan hasil jepretan saya yang tergolong abstrak, jadi saya culik saja gambar-gambar di atas langsung dari website resmi Sotoji di http://sotoji.com. Semoga Sotoji berkenan.

Sunday, March 18, 2012

My New Passion?

Setelah lama membiarkan blog ini membatu dan memfosil (ciaah!) akhirnya saya ngidam nulis-nulis juga. Kali ini, tentang kegemaran baru saya di dunia per-make up-an. Eits, bukan berarti saya jago dandan lho ya? Justru sebaliknya. Sebagai katakecil yang telat puber (*sigh*), udah terkenal banget kalo saya ini orangnya selebor bin ajaib. Jangankan pake standar make up minimalis yang versi menjaga kesehatan kulit tea, pake bedak pun saya ogah! Tapi semua berubah sejak negara api menyerang (lho?).

Berawal dari tersandungnya saya pada salah satu merek lokal yang dikampanyekan dalam sebuah seminar kemuslimahan di kampus saya, saya pun mulai melirik kemungkinan bahwa di dunia ini ada makhluk bernama bedak. Ehem. Tapi melirik saja lho ya. Lalu, dua tahun kemudian (yup, Anda tidak salah baca!) saya pun mengikuti beauty class yang diadakan produsen tersebut. Dan mulailah minat terpendam saya menunjukkan batang ekornya. Ya, saya tertarik dengan dunia make up artist. Bukan hanya karena ingin, tapi juga karena butuh!

Butuh. Itu dia. Sebagai seorang dengan "pilihan-pilihan" khusus seperti saya (cara berbusana, cara berias, dst) saya membutuhkan "kebebasan berekspresi" yang sesuai dengan pilihan saya tersebut. Misal, saat suatu acara dan tidak ingin make up yang terlalu tebal tapi ternyata kepentok dengan make up artist berdarah seniman yang tak mau diganggu gugat; atau kita tidak mau mencabut alis tapi perias keukeuh sureukeuh mengatakan bahwa alis kita harus dipangkas demi keestetikaan nasional; atau kerudung kita disulap jadi bunga mawar.. (euh, bisa ya?) Ya, semua yang saya sebutkan itu adalah masalah nyata yang seringkali ditemui. Dan saya tidak mau mengalaminya.

Maka saya pun mencoba berbuat; kecil memang; dan baru untuk diri saya sendiri dulu. Hihi. Walaupun masih acakadut dan seringkali malas.. Setidaknya, saya mulai belajar untuk belajar (waduh, mbulet nya..). Saya mencoba belajar dari tutorial di YouTube ataupun blog yang membahas trik dan info tentang make up. Memang, paling simple dan mudah ternyata adalah dengan mengikuti jejak para blogger yang mendedikasikan dirinya terhadap dunia ini. Malah banyak di antaranya yang suka memberikan give away juga.. (silakan langsung meluncur ke blog LovelyLueLue, XiaoVee, atau DiaryofroductJunkie untuk mengetahui salah satunya).

Harus saya akui, dunia tata rias ternyata tidak semudah itu dipelajari. Tapi karena rasanay sudah menjadi bagian dari passion saya, (ya, ini adalah bentuk lain dari melukis! Pada kanvas yang super unik!) saya akan berusaha terus menapaki jalan ini. Ganbatte! Banzaaai..! *,* Hehe..

Wednesday, November 30, 2011

The Death Penalty: A New Conscience (*at least for me*)

Right now I am watching The Life of David Gale on one of TV cable channel, a film about a man who's about to be executed. Well, the movie is still on, so I don't even know whether he's guilty or being framed, but he always claims that he's innocent. He depends his life to a reporter lady who is still digging for the truth. Well, for the sake of my writing target speed (?), I've just googling it and here's what I've found. Voila..

The movie went flash back and forth, but I think one of the point is, whether capital punishment is humane or it is nothing but legal murder? There are a lot of pros and cons on this matter. In US it is about 60% pros and the rest is against it. Well, anyway, I end up watching the movie and abandoned this note, haha. The film is a very ironic and tragic story, I think. . . This film remind me one of John Grisham's novel: The Chamber. The novel tells the story of a long missing grand son who strive to save his grand father from a gas chamber. Very sentimental. But it is interesting to put ourselves on another new point of view: it is easier to us to pros when there's no one of your own blood and bones there awaiting to be executed, in whatever methods. And it is never a pleasant task to do for the executor, anyway.

Eye for eye, teeth for teeth. That's the reasoning of the pros. The victims or the victims family have the right for retaliation. It is a good way to control the level of crime. Islamic law shows that. And I believe in it's greatness of it's values: it's good here, and here after. But then, there's this special rule, that turns good into great: forgiveness. Of course, it applies on special cases, which is a long course material to write here, as I am just too lazy to read and learn it right now :D *bleeeh* Please dig for more of Islamic laws on capital punishment. I got this link here, that I haven't review yet, but I hope it is "something".


There are people who said that there's no truth, only perception, perspective... but I think it's not the truth that we are challenged to get. It's about our best effort and approach to get the truth; which is, in my opinion, it is on Islamic rule. It is not about playing God, rather it is about playing on God's rule. And it is a big deal because:


.. flawed system will kill innocent people..




The conclusion is.. the death penalty is not for the dead one. It's never about the victim. It's about the living people who left behind: so the families can go on, so there're no more people who will do the same thing ever again and hurt others, so there would be a better world.. If the objective can be achieved without shedding any blood, then it is better. Please correct me if I am wrong.



#Oh yeah, don't get me wrong.
I wrote this in English not because of my capability nor my hobby, but for my sickness.
I am sick of this English autocorrect option :'( still can't find the setting.. whaaa... gaptek...
By the way, I used google transtool to help me out sometimes.. and it works great :'(
Ouch.. hate it.. when machine outmatch human..
But it seems the machine works better when translating Indonesia to English than the vice versa.

Saturday, January 29, 2011

HnH

TS: You know that I have a special feeling towards you right?

AH: You love me right?

TS: I really love you..

AH: *huhuy*

TS: Even I have that special feeling I cannot say this miso-soup taste good. IT tastes like vomit!

AH: No way..

TS: How do you make this kind of taste? It is one of the world's 7 wonders. It is true.

AH: This is weird. How come? Why?

TS: Why didn't you taste it while you cook? My precious anchovies went through this tragedy. DO you know how they felt?

AH: *Sigh*

TS: You should put 30 thousand YEN in the piggy bank!

AH: I can't make a good miso-soup even when I give my best. The god is playing with me.

TS: This girl is blaming the god for her mistake.

AH: I am being punished for looking down on housewives. I think I can't become a housewife. Work.. I want to keep my job.. I don't know what I can do and what I want to do in the future but I want to test my ability by moving a step higher. I.. I want to keep my job. This is.. my final decision. Sorry that I can't become the "Viva housewife"..

TS: I expected this from the beginning. I am sure all the housewives in Japan expected this.

AH: But why did you give me the "Viva Housewife"..?

TS: Sometimes it is good to stop and give it a try. That was good enough. I could feel the warmth through your hard work.

AH: Bucyou….!

TS: Thank you for the meal. Thank you for the miso-soup that taste like vomit.

AH: *huhuy*

TS: You can be happy later on. Get rid of the miso-soup that taste like vomit first!

Hahaha, penggalan dialog dari dorama ini cukup menggelitik. Sejak season pertamanya, HnH memang telah memesona perhatian saya (*Tch, saya tulis memesona juga, walaupun hati saya tak rela. Mempesona, harusnya mempesona!!! Wahai para penulis aturan EYD, ikutilah saya.. hiks*). Somehow, in one or other way, I can put myself in Hotaru’s shoes. Yep. I am a himono-onna on my own way. Aho-miya of my own. I could really understand how’s Hotaru’s feeling. Hm. Ada suatu masa dalam hidup saya dimana saya menganggap full-housewife is, somehow, not satisfactory. Maybe in extreme way it could be said that I looked down on housewives. But as the time goes by, I face many conditions and stories those prove me that being housewife is definitely not a joke.

Ada masa dimana saya bertanya-tanya dan berburuk sangka pada ibu-ibu yang mengantri membeli masakan jadi di kantin tempat saya biasa membeli makanan. Bukan satu dua orang saja. Tapi banyak. Terus terang ini bukan kebiasaan di daerah asal saya. Apa saja yang mereka lakukan saat suami mereka bekerja, sehingga bahkan untuk memasak saja tak sempat? Saya bisa memaklumi jika yang dibeli adalah untuk sarapan. Maklum, waktunya mepet. Tapi untuk makan siang, makan malam? Kalau beli juga, duh.. Bagaimana ya rasanya punya istri/ ibu yang ada di rumah 24 jam tapi tak pernah merasakan masakan tangannya? Hmm.. wakaranai na.. Apa yang membuat mereka, ibu-ibu rumah tangga itu, begitu sibuk? Masih terlalu dini untuk menikmati sinetron. Juga terlalu siang untuk arisan. Saya tak tau. Saya tak mengerti.. Tapi akhirnya ada beberapa waktu dimana saya sempat terpapar kehidupan rumah tangga (*kekeke.. sebagai saksi mata saja padahal mah*). But finally, sungguh mati, I could feel the tension. The burden. Dan the-the lainnya. Being housewife is definitely not a joke. Saya tak lagi berani menyimpulkan ibu-ibu tadi malas. Entahlah. Bukan karena saya sendiri nantinya (mungkin, semoga saja tidak) seperti itu. Karena saya akan menggunakan alasan ‘belajar’ dan ‘bekerja’ sebagai justifikasi. Hihihi….

Monday, October 11, 2010

Late Bloomer’s Wishes

Yaa Rabb, jangan biarkan aku bekerja..
Berilah aku pekerjaan yang sangat aku sukai,
Pekerjaan yang menggerakkan hasrat dan potensiku
Hingga selamanya aku tidak pernah merasa bekerja


Yaa Rabb, jangan beri aku ikatan pernikahan
Jadikanlah pernikahan dalam hidupku adalah pembebasan,
Pembebasan yang mempertemukan dua teman,
Teman bermain dan teman bertengkar,
Teman mencari ilmu dan teman bersaing amal,
Teman saat LPJ di hadapanMU kelak…
Hingga tak pernah kurasakan ikatan suci itu adalah beban


Yaa Rabb, jangan biarkan aku sekolah lagi,
Karena Engkau pasti akan memaksaku lulus,
Seperti sekarang..
Berilah padaku manfaat atas apa-apa yang telah Engkau beritahu,
Dan beritahukan padaku apa-apa yang bermanfaat bagiku,
Cukupkanlah itu sebagai modal untuk belajar sepanjang hayatku,
Hingga dunialah ruang kelasku,
Dan kematianlah prosesi wisudaku….

aamiiiiin

Karena Dia

Yaa Alloh, Rabbku..

Sudah lama sekali aku berniat memindahkan sms taushiyah-taushiyah itu ke dalam file word. Juga sudah lama sekali ingin menulis yang bermutu. Tapi selalu saja gagal. Bukan karena tidak ada alat. Juga bukan karena tak sempat. Tapi niat saja yang tak pernah bulat.


Ah.. ternyata rindu itu masih ada, tinggal rimpang kering di kandungan tanah hati. Kerinduanku untuk menulis lagi. Yang penting masih ada. Maka dia masih akan bisa meraup hujan dan bersemi kembali; musim ini lebih ramah bukan? Begitu yang aku yakini setelah membaca tulisan-tulisannya. Tulisannya yang serenyah dan senendang dahulu; dahulu waktu kami masih sama-sama muda (haha, sekarang aku masih muda dan beliau hmm, makin dewasa…? =p). Sang observer. Sang lone fighter. Membaca tulisannya berarti mengingatkanku pada diskusi-diskusi kami yang kadang ngalor ngidul tapi ada benang merahnya. Percakapan dua introvert dengan background super kontras mendekati tengah malam, kadang lewat pukul dua. Duh. Akan adakah hari-hari semacam itu lagi?


Membaca tulisannya juga mengingatkanku pada rasa haus yang selama ini selalu aku tekan; yang kalah oleh keinginan untuk sekedar hura-hura atau pura-pura. Membaca tulisannya mengingatkanku pada diriku sendiri. Mungkin ada sedikit ‘ruh’ku yang kutitipkan pada hembusan kata-kata dari jiwanya.

Oktober hari ke-enam, 2010. Hari Rabu yang kusukai.


Tribute untuk RA. Thank you =) Semoga engkau selalu tegar dan berbahagia. Peluk kangen. Keep it up, girl!

Friday, July 23, 2010

Bi

Bi,

that's how i'll call you..
yang dikirim oleh langit sebagai salam rindu..
sang hujan!

Wednesday, June 23, 2010

Kasus Kasus yang Memanggil Anak eFTe

Halah..
Sebenernya ini adalah sedikit lintasan pikiran yang mengganggu pikiran saya saat 'terjebak' dalam kerumunan pengguna lift. Saya kira banyak orang pasti sudah pernah merasakan betapa tidak menyenangkannya berada dalam lift yang penuh sesak. Saat di tempat umum, hal ini sangat menyulitkan selain karena alasan keamanan dan hijab, juga kesulitan dalam hal mobilisasi. Nggak kebayang kalo posisi kita sudah terlanjur terdorong di pojok belakang, padahal tidak ada yang memencetkan nomor lokasi lantai yang kita tuju. Sudah itu, kalaupun ternyata pintu lift terbuka di lantai yang tepat kita tuju, ternyata posisi kita yang di belakang itu terblokir oelh orang-orang di depan kita, jangankan mau jalan keluar, bernafas aja susah.. (*dooh lebay amat..*)
Itu adalah salah satu masalah praktis yang sangat sederhana namun ternyata saya belum mendengar ada penyelesaian sederhana yang memuaskan. Di Jepang, ada petugas khusus yang bertugas di dalamnya. Tapi., kok rasanya itu tidak praktis dan kurang efisien. Hmm..

Sedang menghayal hal-hal aneh mengenai kemungkinan-kemungkinan solusinya..
Mau ikutan..?
Haha..

Friday, March 26, 2010

Re~sensi Novel: State of Fear

Judul Novel : Kondisi Ketakutan

Judul Asli : State of Fear

Genre : Fiksi Ilmiah

Penulis : Michael Crichton

Alih Bahasa : Arif Subiyanto

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tempat/ Tahun Terbit : Jakarta, Maret 2009

Jumlah Halaman/ Ukuran : 632 halaman, 23x15 cm


Apakah alam ini seimbang?

Atau justru sebaliknya? Tak pernah seimbang?

Lalu di manakah posisi manusia?


Orang yang merusak alam karena bodoh dan tidak tahu, atau karena sok tahu lalu membuat aksi keliru, sama berbahayanya”, begitu kata MC. Setelah Anda membaca novel ini, Anda pasti akan sepakat dengannya. Betapa manusia adalah makhluk istimewa yang penuh dengan keterbatasan, yang bahkan tidak memiliki pengetahuan yang memadai mengenai tempat tinggalnya, baik di masa lalu, masa kini, maupun (kemungkinan besar) di masa mendatang. Lingkungan adalah sebuah sistem super besar yang senantiasa berubah dan bergerak: tidak pernah setimbang. Dinamika lingkungan tersebut, termasuk di dalamnya pengaruh geologis dan iklim, telah menempatkan manusia sebagai subjek sekaligus objek yang sangat rentan. Diterbitkan pertama kali pada tahun 2004, novel ini masih cukup hangat dan pas untuk disantap para pemerhati dan pecinta lingkungan hidup. Tapi saya bacanya yang versi English, though ^^;


Pemikiran yang coba diusung MC ini bertentangan dengan pandangan yang dianut secara umum. Global warming, benar-benar nyatakah teori tersebut? Ataukah sekedar akal-akalan politis ekonomis demi menciptakan sebuah teror bagi semua negara di dunia? Mengapa kita harus mencemaskan fenomena alam yang normal yang baru akan terjadi lebih dari seribu tahun yang akan datang? Ada apakah di balik semua itu? Sebuah konspirasi? Or what? Hmm, saya sempat ngobrol tidak serius tapi serius dengan kawan bologi saya, dan beliau bilang memang menurut sebagian penelitian, bumi ini cenderung turun temperaturnya.


Dibuka dengan fragmen-fragmen pendek yang khas, dan cerita pun saling bertautan menanamkan benih penasaran tumbuh di benak para pembaca. Didukung ilustrasi grafik-grafik dan data ilmiah (16 lembar bibliografi disertai komentar pribadi penulis!) membuat novel ini sukar dibantah. Di awal, alur berjalan cukup lambat, namun setelah menamatkan novel ini, Anda tak akan menyesal karena akan mendapatkan jawaban dari semua misteri yang telah ditebar penulis di awal cerita.


Lebih dari novel-novel Michael Crichton yang lain, pesan yang ingin disampaikan Crichton lewat novel ini sangat masif dan tebal. Namun, Anda tak perlu khawatir akan mendapati teks-teks panjang yang bernada menggurui, karena semua pesan tersebut dikemas dengan baik dalam dialog antar tokohnya tanpa melibatkan para pembaca.


Kritik yang dilontarkannya di antaranya adalah mengenai lembaga pendidikan tinggi sebagai institusi yang seharusnya netral dan tidak terbelit hubungan yang rumit dengan pihak sponsor penyandang dana. Dalam catatan akhirnya, Michael Crichton menekankan bahwa saat ini yang lebih dibutuhkan oleh bumi adalah semakin banyak orang yang bekerja nyata bagi lingkungan, bukan sekedar teori-teori yang dipoles sesuai pesanan para pendonor yang tak lain dan tak bukan para pemilik industri dan pemerintah.


Yang sangat saya sayangkan adalah penerjemahan judul novel ini menjadi Keadaan Ketakutan, yang terdengar kurang sastrawi. Padahal, jika judulnya dipertahankan tetap sesuai judul aslinya, akan lebih menjanjikan suatu permainan kata-kata yang menarik. Sebuah negeri yang selalu dicekam ketakutan? Ataukah keadaan ketakutan itu sendiri?



Hehe, baru beres diotak-atik sekarang.. padahal bacanya kapaaan gitu.. Mana ngga jelas ini teh yang diresensi buku yang Indonesia (*yang belum dibaca?!*) tapi pake 'data' dari yang versi English,..

Alhamdulillah..