Wednesday, July 25, 2012

Engkau Bertanya Tentang Cinta?


Jadi engkau bertanya tentang cinta?
Cinta itu seperti kepak sayap kupu-kupu, Anakku..
Sederhana seperti hembusan nafasmu
Tapi ianya sanggup getarkan titian baja
Yang aku curiga, 
Ia pertama recah, antara Kaf dan Nuun...

Thursday, July 19, 2012

Satu Hari di Pasar Baru

Ini adalah kejadian pendek yang sangat sederhana, namun menyentakkan saya. Sudah lama sekali saya ingin menuliskan cerita ini. Tapi apa daya, malas itu lebih berkuasa = =" Duh.. Karena saat ini saya menuliskannya dengan kondisi perut kosong melompong, jadi harusnya saya masih bisa menghayatinya.. (Background: biola menyayat-nyayat. Halah..)

Saya sedang mengantarkan teman saya dari Malang berburu oleh-oleh di Pasar Baru, saat seorang pedagang tas keliling itu mendekati kami dan mencoba menawarkan dagangannya. Pedagang ini kelihatannya sudah cukup berusia, namun dunia mengajarkan saya satu hal: Jangan pernah percaya begitu saja dengan permainan garis dan warna di wajah orang-orang jalanan. Karena waktu seringkali berbuat licik dan diam-diam menambahkan jejak di usia yang tidak mereka jalani. Jadi saya taksir mungkin masih sekitar usia adik saya yang ke-dua. Dia kelihatan lega saat teman saya menunjukkan ketertarikan pada dagangannya,  memutuskan untuk berhenti dan melihat-lihat. Tawar-menawar pun terjadi. Cukup alot. Saya lupa angka tepatnya, tapi tas yang asalnya 20 ribuan itu telah turun harkat dan martabatnya ke angka 15 ribuan. Di sinilah masalah menjadi liat. Teman saya keukeuh minta harga 13 ribu. Sedangkan pedagang itu bertahan di angka 14 ribu. 

Setelah serangkaian bharatayudha, dengan berat hati, dan suara agak lemah, sang pedagang pun akhirnya melepas tas itu dengan harga 13 ribu. Saya yang dari awal memang hanya berperan menjadi pengawal tanpa skill perang harga, hanya trenyuh dan terkagum-kagum dengan adegan perang kilat yang menunjukkan kelihaian kedua belah pihak nan fantastis itu. Tepat saat teman saya merogoh tas untuk membayar tas tersebut, datanglah seorang pengamen semi peminta-minta (if you understand what I mean). Teman saya pun membayar belanjaannya, mendapat kembalian, sambil memilih tas yang akan diambilnya. Pengamen itu pun menodongkan mesin kasirnya (if you know what I mean). Teman saya dan saya sendiri sudah seperti cacing habis digelitikin semut merogoh semua saku dan dompet yang mungkin menjadi persembunyian benda bulat dari logam yang biasanya diberikan kepada orang-orang yang berprofesi demikian. Tapi nihil. Akhirnya teman saya pun memberikan uang kertas dua ribu kembalian pedagang tadi. OH, IF YOU SEE WHAT I SEE.. Saya melihat ada perasaan yang tak bisa saya lukiskan dengan kata-kata di mata pedagang tadi. Pundaknya yang turun, dan wajahnya yang mendung cukuplah meruntuhkan haru di hati saya. Setiap ribu rupiah yang dia perjuangkan dengan mati-matian, ternyata bisa begitu mudahnya didapatkan orang lain yang modalnya sungguh sederhana (jika saya bilang tanpa modal itu dianggap terlalu kurang ajar.) Saya hanya menjadi saksi tak berguna di sana, tapi saya pun mendapatkan bagian perasaan bening itu...

Ah, ingatlah wahai tiap inci tulang yang menegakkan tubuhku..
Wahai tiap tetes darah yang berhutang budi pada hidup,
Engkau ditumbuhkan dari sari pati makanan yang didapatkan dari pertempuran demi pertempuran semacam itu...
Dalam dirimu ada hak yang bukan milikmu...
Ingatlah selalu, ingatlah selalu...




#Ditulis sembari mendengar indahnya melodi perbedaan ide sidang orang-orang bijak bestari di tivi ini... Ditinggalkan dengan janji akan mengeditnya saat otak sudah lebih jernih. Wangsul rumiyiin..

Wednesday, July 18, 2012

Today is...

Hari ini nyengajain diri pulang lebih awal dari biasanya, dengan niat bulat mau beresin "orderan" orang-orang.. Mudah-mudahan selamat sampai di tempat.. Haha.. *blogging juga salah satu side job kok jadi it's okay* halah

Wednesday, June 20, 2012

Setengah Delapan

Setengah dari delapan tidak selalu berarti empat.
Kadang ianya adalah tiga, atau bisa juga nol.
Tergantung bagaimana kita membaginya.

Mungkin begitu juga hidup ini.
Ada banyak cara untuk memahami takdirNya...

Information is Power

"Browser Anda tidak lagi didukung oleh Blogger. Beberapa bagian Blogger tidak akan berfungsi dan Anda mungkin mengalami masalah.
Jika Anda mengalami masalah, coba Google Chrome. | Tutup"

Ow ow...

Begitu ternyata :)

Mungkin memang benar..
Kekuasaan itu cenderung korup.
Dan kekuasaan nyatanya toh tidak hanya melulu tentang politik.

Di sini pun "kekuasaan" mulai menunjukkan hegemoninya.

 

Obrolan Para Hari

Berkata Pagi kepada Petang: "Engkau masih terlalu muda"
dan Pagi pun melenggang menenteng Matahari di tangan kirinya
Lalu ketika Waktu terjaga dan Matahari menangis kelelahan,
Petang hanya menatap sendu, "Umurku sudah purna..."

Bukankah begitu Hari-Harimu, Anak Muda?
Semua seperti mimpi yang mampir silih ganti, bukan?

Sampai Takdir mempertemukanmu dengan Dia

Tuesday, June 19, 2012

Lippen to Libur

Sungguh tak nyambung?
Memang...

Ini adalah hari pertama aku ngantor lagi setelah tiga hari libur (week end pleus nambah bolos sehari, hadaw..)
Emang sering banget deh si aku ini justru tepar setelah libur. Heu. Atau paling nggak telat nyampe kantor (Haha.. jdugh..)

It only meant one thing.
Pas liburan si aku melakukan hal yang tidak-tidak.. yeah...

Sebenarnya bingung juga, ngapain ya si aku bela-belain nulis ini di detik-detik terakhir mau hengkang dari kantor? (well, it's 7 PM)

It only meant one thing.
Aku kangen ngeblooooooogggg.. eugh..
Walopun nggak penting... Haha.. it's sad but true..
My work menuntutku untuk banyak menulis.
Tapi blog sendiri gak pernah ditulisi..
Ah, jadi kayak kata-kata Patkay..


Yeah..

Dan lippen?
Apa hubungannya?

Haha, ngga ada-ada banget sih.
Cuman ya gitu deh..
Kalo abis tepar, mau ngga mau harus pake lippen yang agak mencrong dikit
biar ga kayak drakuli
*Ehh...

Friday, June 08, 2012

Hermawan K. Dipojono, Guru Besar dalam bidang ilmu Rancang Bangun Material Komputasional

Hermawan K. Dipojono, Guru Besar dalam bidang ilmu Rancang Bangun Material Komputasional

Never Ever Surrender, he always said..
And I know one thing has changed since I met him in the very first time...
The day I know that I destined to be one of them: The Champions...

Thank you, Sir!

Wednesday, May 23, 2012

Satu hal tentang twitter

Satu hal tentang twitter.
Menengok lini masa, dan berderetnya cuap-cuapan saya, terpentang betapa mudahnya sebuah kata tercipta. Dari letikan ide yang mencuat jadi ketikan pendek. Ruangnya terbatas oleh 140 karakter, namun toh nyatanya sambung menyambung menjadi rangkaian cerita. Cerita implisit tentang hidup si saya. Dan para tweeps mania lainnya.

Satu hal tentang twitter.
Dia mengingatkan saya. Pada sepasang makhluk yang tak henti-hentinya mencatat amal kita: lebih rapat dari update status twitter, lebih detail dan panjang karena menembus batas 140 karakter, dan.. tak mengenal RT maupun delete. Ah.. Sepasang makhluk itu..

Satu hal tentang twitter.
Sekarang jika kulihat lini masa.
Aku teringat catatan amalku, kawan..


Sunday, May 20, 2012

Selarik Salju Turun di Jakarta Siang Itu



Ini adalah hari yang biasa di tempat yang biasa bagi biasanya orang. Tapi bagi saya hari itu agaknya cukup luar biasa, karena perjalanan saya ke Jakarta kali ini lain dari biasanya. Setelah serangkaian keunikan yang akan saya kisahkan dalam note lain di blog ini juga, rasanya kejadian inilah yang paling berkesan bagi saya.

Setiap kali naik Bus Patas 76 rute Ciputat-Pasar Senen, pada siang hari di daerah Fatmawati, ada seorang pedagang asongan yang naik menjajakan dagangannya: permen jahe Sari Wangi, kacang atom, permen asam, dan entah apa lagi saya lupa; yang jelas semuanya adalah produk industri rumah tangga. Menyalahi kebiasaan saya yang suka merasa terganggu jika ada pedagang yang menawarkan dagangan di dalam angkutan umum, akhir-akhir ini saya berusaha lebih memperhatikan dan berusaha membeli jika ada yang sesuai dengan kehendak hati saya. Namun, seringnya hanya berhenti di “memperhatikan”, karena saya suka merasa sulit untuk memulai transaksi dengan mereka (Douuh! Antisosial banget dah!) Padahal ingin sekali saya ikut menjadi jalan rezeki bagi mereka dan industri lokal kita. Entah angin apa yang merasuki saya waktu itu. Tiba-tiba saya memutuskan untuk membeli salah satu jualan Abang itu. Kacang atomnya lebih mirip kacang madu daripada kacang atom yang biasa saya temui di Bandung. Rasanya tidak mengecewakan, sehingga saya menyimpulkan lain kali saya akan melakukan pembelian ulang. Dan hari pun berlalu.

Kesempatan lain itu datang di hari yang aneh itu. Setelah “seharian” disuguhi berbagai macam pengamen, eh, pedagang asongan berseragam hijau itu pun naik lah. Saya sendiri tidak tahu apakah ini pedagang yang sama dengan yang sebelumnya, ataukah jualannya saja yang sama. Yang jelas saya pun membeli lagi, kali ini sebungkus permen jahe dan sebungkus kacang atom. Setelah menimbang-nimbang, terbit sebuah ide dalam hati saya. Alangkah lebih berat dan mulianya jalan orang-orang yang menjaga dirinya dari meminta-minta dalam bentuk sehalus apapun. Yang rela bekerja keras demi rezeki kecil nan berkah. Atas nama harga diri, kehormatan, atau apapun. Dan Islam sangat menghormati orang-orang yang menjaga izzah-nya tersebut. Saya sendiri bukanlah orang yang sanggup seperti itu. Belum bisa, lebih tepatnya. Karena itulah saya sangat mengagumi mereka.

Dan terbitlah ide itu. Pada para pengamen tadi, saya bisa memberi sejumlah uang yang menurut saya cukup besar untuk ukuran katakecil seperti saya, tanpa ia harus bekerja sekeras itu. Masak iya untuk pedagang yang bekerja keras seperti itu saya tidak ingin melakukan sesuatu? Maka saya menambahkan satu lembar uang seribu rupiah dalam lembaran jumlah yang seharusnya saya bayar, yang kemudian saya gulung sedemikian rupa sehingga semuanya menjadi satu kesatuan. Benar Kawan, itu jumlah yang tidak ada apa-apanya bagi sebagian besar kita. Tapi itulah yang saya putuskan akan saya sisipkan saat itu. Saat menyerahkannya, saya berharap Abang itu tidak sempat membuka dan menghitungnya. Sungguh, saya tidak ingin menyakiti harga diri beliau. Dan benar saja, ketika beliau mengambil dagangannya, karena agak buru-buru, beliau langsung mengambil tanpa menghitungnya. Saya tersenyum bersyukur. Saya pikir beliau tidak akan mengetahuinya, kalaupun tahu, pastinya setelah menghitung total penjualan di ujung hari.

Iya, saya pikir beliau telah turun dari bus ketika tiba-tiba beliau kembali dan menyodorkan uang seribu kucel tadi seraya berkata: “Mbak yang tadi beli kan? Uangnya lebih, Mbak!” Sungguh saya kehabisan kata dan hanya bisa menerima kembali uang tadi seraya tersenyum dengan pikiran kacau. Oh sungguh, selarik salju telah turun di Jakarta siang itu. Untuk saya. Karena telah bertemu dengan spesies manusia langka di rimba Jakarta ini. Berlebihankah saya? Rasanya tidak. Tengoklah kelakuan orang-orang yang bertindak aneh-aneh hingga sanggup menipu, memeras, dan semua kata gelap lainnya: demi selembar dua yang tak seberapa nilainya. Kebaikan masih ada di Jakarta. Kejujuran yang setitik itu, semoga kan jadi bara yang menularkan nyala bagi sebanyak-banyak jiwa. Hingga semoga kelak, akan teranglah kota ini.

Ah, seperti biasa saya lebay. Tapi izinkahlah saya yang lebay ini meminta tolong padamu, Kawan.. Jika satu kesempatan kalian lihat yang seperti beliau, tolong belilah dagangannya. Walaupun hanya sebiji. Karena semua yang pernah dalam kesulitan yang pekat gelap sempurna tahu artinya sebintik bara harapan. Benar, Kawan. Sebintik saja.. Itu cukup untuk membuatmu, membuatku, membuat kita melangkah sekali lagi.. Berjuang lagi.. Jangan sampai ada yang berkata: “Kebaikan telah hilang dari dada umat ini…”



>> Ditulis ngacrut dalam jam kerja Jumat ini. Duh. Korupsi ==” Diedit ntar-ntar kalau sudah ada azzam, haha..