Wednesday, April 25, 2012

Perempuan Embun Surga

Cinta macam apakah itu,
yang tidak bersenyawa dengan rindu?

Seperti gadis pingitan Kartini merindu cahaya,
Seperti itu pula dirimu merindu lapangnya cakrawala
Cakrawala di mana mentari tak bersinar
Kecuali menyentuh jengkal tanah yang merdeka

Adalah engkau,
Setiap hembus angin yang berkisah
Tentang perjuangan yang tak sudi menyerah
Dan jiwa yang tak mau patah
Meski jasad telah rebah

Maka di hari semua perempuan mengenang perempuan lainnya,
Aku mengenangmu
Sebagai jalan lelakon yang seharusnya ditempuh setiap perempuan agung
: Anggun dalam berlaku,
 Lincah dalam berpadu

Moga pagi dan senja dalam tidur ruhmu yang suci,
Kau saksikan jua anak-anakmu ini
Berdiri di tempatmu dulu berdiri
Sebagai ruh baru di atas jalanmu menabur mimpi



         : Bunda Yoyoh Yusroh

Monday, April 23, 2012

Randomization

Wow.. April sudah hampir the end tapi nge-blog mati suri lagi :))
Padahal lagi pengen-pengennya mempercantik penampilan blog *yeah, ganti muka baru setengah jalan... akhirnya justru malah makin berantakan...*Padahal Blogger udah berusaha mempercantik dirinya juga lho..

Setelah saya timbang-timbang *ehem, maklum, dulu ngakunya sempat jadi anak fisika.. walau nggak tau bapaknya siapa* akhirnya berikut ini adalah kredo baru si PeTTo... *hatchiing*

Entah apa yang ada di imajinasi saya sewaktu membuat tag-tag geje yang bejibun tea. Untuk ke depannya, blog ini harus sedikit lebih jelas. Catet, penekanan pada kata SEDIKIT ya!
Konkritnya, ini blog akan membahas 3B: BUKU (review dan resensi gila ala saya), BYUTI (ehemm.. no komen yak) dan BAR GAMBAR tak ye (maksudnya.. biasaaa si korel mengorel ala calon pro :)) ). Selebihnya ada Random dan Jekardah untuk menampung yang geje dan super geje. Hmm..

Kalo soal ejaan deelel, sesuka saya lah ya.. kecuali untuk yang dilombakan :)) *LOLLL*


Hmm. Merenung lagi. Omoooo... Suju mau datang ke Jekardah..


Nah, ini namanya masuk tag Random. Haha..

Monday, March 19, 2012

Mario dan Luigi Makan Sotoji?

Entah mengapa begitu mendengar tentang soto jamur, yang mucul di kepala saya malah si duo plumber Mario Bros yang suka mukul-mukul jamur tea. Sungguh tak nyambung. Tapi begitulah adanya.

Suatu hari yang cerah (selalu cerah karena menghadap layar PC yang kebyar-kebyar), saya berkeliling dunia maya dan menemukan informasi mengenai lomba blog yang bertujuan untuk me-review produk Sotoji, soto jamur instan yang baru saja diluncurkan, guna meraih opini publik yang positif namun juga kritis. Dan di sinilah saya sekarang. Mencoba mengingat kembali sensasi tiga bungkus Sotoji yang telah musnah dari muka bumi karena ulah saya.


KEMASAN


Pertama melihat bungkusnya, yang saya cari adalah label halal MUI, dan langsung dapat! Setelah diterawang dan diraba (euleuh, kayak meriksa uang saja), ternyata bungkusnya asli. Asli membuat saya tertarik dengan material yang digunakan. Menurut penilaian saya, materialnya relatif tebal sehingga akan mampu menjaga kualitas makanan dan aman. Dari segi pilihan warna pun sangat menyegarkan mata.

Walaupun desainnya masih sangat "mainstream" bungkus mi instan, saya bisa membayangkan tumpukan Sotoji ini di rak supermarket, dan rasanya masih cukup "stand out" dibanding produk lain yang sejenis. Namun, alangkah sayangnya jika material kemasan yang bagus tadi hanya sekali pakai dan langsung dibuang. Kemasan bisa dibuat lebih menarik dan menantang, keluar dari pakem yang sudah umum. Kemasan juga bisa dijadikan media promosi dan positioning yang kuat.

Bayangkan jika Sotoji punya logo (siapa yang meragukan kesaktian apel bekas gigitan yang mengasosiakan gadget tercanggih, misalnya?) yang kuat dan tercantum dalam kemasan tersebut, katakanlah tokoh kartun berbentuk jamur yang khas. Atau alih-alih petunjuk cara memasak yang sudah umum dan mungkin tidak lagi dibaca konsumen karena sudah hafal di luar kepala, Sotoji menggunakan space tersebut untuk menghibur konsumen. Misal; komik dua kakak beradik yang berebut masak dan makan mi. Atau tuliskan, cara masak: Robek bungkusnya, keluarkan minya, lalu teriak, "Maaaaak... masakin Sotojiiiiiii...." Atau bisa juga diisi dengan tips dan resep berbahan dasar Sotoji. Atau, doronglah konsumen untuk hidup hirau hijau dengan memberi tips apa yang sebaiknya konsumen lakukan terhadap bungkus tersebut; mulai dari menggunakan kembali untuk crafting, lihat website tertentu untuk pengolahan limbah, dan lain sebagainya.

Memang hal ini memerlukan kreativitas dan investasi yang besar, namun, percayalah, dalam persaingan mi yang sangat ketat hal ini bisa menjadi nilai tambah yang luar biasa. Apalagi sebagai produk baru yang masuk ke pasar yang sudah padat, hal-hal mudah dan murah (dalam jangka panjang) yang bisa mencuri perhatian konsumen, adalah kesempatan yang amat sayang untuk dilewatkan. Orang mungkin tidak akan membeli dan memakan mi karena kemasannya, tapi kemasan yang unik membuat orang berhenti untuk melihat produk baru tersebut. Kalau orang sudah melihat, orang akan mempertimbangkan akan mencobanya ataukah tidak. Kalau orang sudah mencoba, ini bisa menjadi jalan masuk untuk membuat orang menjadi pelanggan setia. (Hajuuuuh.. Sok tau banget ya katakecil ini. Tapi sungguh, inilah yang saya rasakan sebagai konsumen.)


Kemasan Sotoji memang sudah memiliki poka yoke yang memudahkan untuk dibuka, namun masih susah dicari. Usul saya, alih-alih berupa satu irisan atau sayatan, akan lebih terlihat jika berupa dua sayatan yang saling memotong dalam bentuk V. Terutama untuk kemasan bumbu minyak. Saya terpaksa menggunakan gunting untuk membukanya karena sulit dibuka dengan tangan kosong.


MI

Awalnya, begitu tahu Sotoji ini berupa mi putih, saya sempat down karena memang kurang suka dengan mi putih. Tapi setelah saya coba, ternyata ini bukan mi putih yang biasa. Teksturnya lebih kenyal, sehingga tidak mudah hancur. Sotoji juga tidak menyerap kuah (alasan mendasar mengapa saya tidak suka mi putih), namun tetap lunak dan tidak keras. Boleh dibilang, Sotoji adalah mi putih instan pertama yang membuat saya jatuh hati. Mi putih juga ternyata lebih "dingin" di perut.

Tekstur jamur dalam Sotoji sendiri cukup kenyal, sedikit mengingatkan saya pada rasa ayam. Memang, jamur mengandung glutamat alami yang memberi rasa gurih. Saya memasak jamurnya bersamaan atau setelah mi dimasukkan ke dalam air mendidih. Bagi Kawan yang tidak suka atau tidak bisa memakan yang terlalu liat, coba masukkan jamur terlebih dahulu dan tunggu 1-2 menit, baru masukkan mi agar teksturnya lebih lembut.


PORSI

Porsi yang dibuat oleh Sotoji sangat pas bagi saya, tidak terlalu banyak, juga tidak kurang. Apalagi tingkat kerapatan jamur terhadap mi, wuiiih, asoi! Tadinya saya pikir jamurnya akan seuprit seperti pada umumnya garnish mi: asal bisa diklaim rasa tertentu. Yang satu ini tidak. Dia total mengusung "kejamurannya".


RASA

Setelah jadi dan mencicip satu sendok, saya menyesal sekali mengapa tidak punya persediaan cabe dan jeruk untuk menambah mantabnya hidangan ini. Sungguh, ditambah irisan cabe merah dan asamnya perasan air jeruk, ini bisa menjadi mi yang sempurna untuk disantap saat hujan melanda. Rasa kuahnya sendiri, karena saya suka banyak kuah, tidak terlalu tajam. Padahal saya sudah menggunakan seluruh bumbu yang disediakan Sotoji. Biasanya, saya hanya memasukkan separuh bumbu mi yang saya makan. Bagi orang yang tidak suka asin dan rasa yang menyengat seperti saya, ini adalah berkah yang mensugesti saya bahwa mi ini kandungan MSG-nya rendah. Namun, bagi Kawan yang sangat suka asin, siap-siap saja menambahkan garam atau mengurangi jumlah airnya. Satu lagi yang saya suka dari mi ini adalah warna bumbunya yang mirip sekali dengan bubuk kunyit alami. Saya juga terbersin-bersin waktu tak sengaja menghirup bubuk cabenya; bau cabe kering asli! Bawang goreng sendiri tidak kasatmata dalam Sotoji karena sudah dicampur dalam minyak bumbu. Padahal saya berharap ada bawang goreng renyah yang bisa ditaburkan di atas mi.


Jika ada kekurangan yang cukup mengganggu saya dalam Sotoji, itu adalah tidak adanya sesuatu yang "kriuk" saat memakan mi ini. Jadi Kawan harus menyediakan sendiri pelengkapnya. Tahukah Kawan apa yang muncul pertama kali saat saya meliurkan (hush!) sesuatu yang kriuk itu? Sesuatu itu adalah kripik usus khas Malang, kota kelahiran saya. Atau kripik jamur tiram, khas Malang lagi. Atau kripik kentang. Atau keripik ubi yang asin. Wuduuuh.. Nyummyyy.. Mudah-mudahan ke depannya Sotoji bisa menambahkan pelengkap siap tabur ke dalam paket minya. Apalagi kalau rasanya dibuat lebih bervariasi. Saya sangat penasaran dan menunggu-nunggu Sotoji goreng. Kayak apa ya rasanya?


Di balik rasanya yang menggoda, ada satu misteri yang disimpan oleh soto eksotis ini: jangan tanya saya soal harga! Sungguh mati, saya sudah salto dan tiarap mengubek-ubek websitenya untuk tahu hal tersebut. Namun fakta itu tidak saya temukan juga. Akhirnya saya pun bersemedi dan meminta wangsit dari mBah Gugel yang Agung. Didapatkanlah gosip bahwa 1 dus isi 20 bungkus Sotoji bisa diboyong cukup dengan 60.000 perak saja, atau kalau per bungkus bisa dibandrol 3.500 perak. Murah? Nggak juga. Tapi worth it!

Mengapa saya bilang harga segitu mahal? Karena standar mi pada umumnya mentok di harga 1.700 perak. Mengapa saya bilang harga segitu worth it? Cobalah tengok label 100% produk Indonesia. Setahu saya, bahan baku mi kuning adalah gandum (which is, musti diimpor dari luar negeri) sedangkan bahan baku mi sohun dalam Sotoji ini (sejauh penelusuran saya) adalah kacang hijau, kemungkinan besar dari produk nasional. Jadi produk ini sehat bagi perekonomian nasional.

Warna soun yang putih bening dan tidak banyak mengembang mengindikasikan tidak adanya zat pewarna dan pengembang dalam mi ini. Hasil rebusannya pun bening dan tidak berminyak, sehingga saya tidak membuangnya. Dengan demikian, asumsi saya mi ini lebih aman dan sehat bagi tubuh. Dengan merangkum semua kelebihan yang saya tulis di atas, saya simpulkan harga yang dipatok tersebut adalah sangat pantas.


Bagaimana? Kawan tertarik untuk mencobanya? Jangan hanya ngiler, segeralah menjadi early adapter. Langsung saja meluncur ke website Sotoji atau mention twitter Bapak @rsugito atau @sotoji_. Tidak mau? Banyak-banyak do'ain saya menang lomba ini, kali aja saya mau berbagi hadiahnya bersama Kawan semua dengan mentraktir makan Sotoji. Kali aja lho.. Cuma kali... Makanya, buruan beli sendiri biar pasti... Pasti ketagihan!


Disclaimer:
Berhubung sudah kondangnya kedodolan saya dalam bidang fotografi, saya tidak ingin menurunkan citra Sotoji dengan hasil jepretan saya yang tergolong abstrak, jadi saya culik saja gambar-gambar di atas langsung dari website resmi Sotoji di http://sotoji.com. Semoga Sotoji berkenan.

Sunday, March 18, 2012

I Need Kagebunshin!

Again.
This feeling's kind of creepy.
This feeling..
When I look at my blog wall and stuck with this boring template

LOL

Oh God, when will I make time to overhaul this blog?

My New Passion?

Setelah lama membiarkan blog ini membatu dan memfosil (ciaah!) akhirnya saya ngidam nulis-nulis juga. Kali ini, tentang kegemaran baru saya di dunia per-make up-an. Eits, bukan berarti saya jago dandan lho ya? Justru sebaliknya. Sebagai katakecil yang telat puber (*sigh*), udah terkenal banget kalo saya ini orangnya selebor bin ajaib. Jangankan pake standar make up minimalis yang versi menjaga kesehatan kulit tea, pake bedak pun saya ogah! Tapi semua berubah sejak negara api menyerang (lho?).

Berawal dari tersandungnya saya pada salah satu merek lokal yang dikampanyekan dalam sebuah seminar kemuslimahan di kampus saya, saya pun mulai melirik kemungkinan bahwa di dunia ini ada makhluk bernama bedak. Ehem. Tapi melirik saja lho ya. Lalu, dua tahun kemudian (yup, Anda tidak salah baca!) saya pun mengikuti beauty class yang diadakan produsen tersebut. Dan mulailah minat terpendam saya menunjukkan batang ekornya. Ya, saya tertarik dengan dunia make up artist. Bukan hanya karena ingin, tapi juga karena butuh!

Butuh. Itu dia. Sebagai seorang dengan "pilihan-pilihan" khusus seperti saya (cara berbusana, cara berias, dst) saya membutuhkan "kebebasan berekspresi" yang sesuai dengan pilihan saya tersebut. Misal, saat suatu acara dan tidak ingin make up yang terlalu tebal tapi ternyata kepentok dengan make up artist berdarah seniman yang tak mau diganggu gugat; atau kita tidak mau mencabut alis tapi perias keukeuh sureukeuh mengatakan bahwa alis kita harus dipangkas demi keestetikaan nasional; atau kerudung kita disulap jadi bunga mawar.. (euh, bisa ya?) Ya, semua yang saya sebutkan itu adalah masalah nyata yang seringkali ditemui. Dan saya tidak mau mengalaminya.

Maka saya pun mencoba berbuat; kecil memang; dan baru untuk diri saya sendiri dulu. Hihi. Walaupun masih acakadut dan seringkali malas.. Setidaknya, saya mulai belajar untuk belajar (waduh, mbulet nya..). Saya mencoba belajar dari tutorial di YouTube ataupun blog yang membahas trik dan info tentang make up. Memang, paling simple dan mudah ternyata adalah dengan mengikuti jejak para blogger yang mendedikasikan dirinya terhadap dunia ini. Malah banyak di antaranya yang suka memberikan give away juga.. (silakan langsung meluncur ke blog LovelyLueLue, XiaoVee, atau DiaryofroductJunkie untuk mengetahui salah satunya).

Harus saya akui, dunia tata rias ternyata tidak semudah itu dipelajari. Tapi karena rasanay sudah menjadi bagian dari passion saya, (ya, ini adalah bentuk lain dari melukis! Pada kanvas yang super unik!) saya akan berusaha terus menapaki jalan ini. Ganbatte! Banzaaai..! *,* Hehe..

Yups, I found this interesting!

Follow my blog with Bloglovin

Friday, January 13, 2012

Biar Bibir Tidak Mudah Kemarau

Pernah tersiksa dengan bibir kering kerontang *lebay*?
Saya sih sering =,="
Maklum, udara Bandung yang dingin kadang membuat saya malaaas sekali minum.
Jadi, ya.. begitulah.. :D Terpaksa mencari "jalan lain" untuk menyelamatkan bibir dari kekeringan yang bikin tidak nyaman, bahkan kadang sampai perih itu. Setelah sekian lama berkelana ke seluruh penjuru dunia, ternyata untuk mencegah bibir pecah *kayak gelas aja!!* ini caranya sederhana pisan.. Berikut adalah hal yang pernah saya lakukan, dan rasanya sih cukup berhasil:

  1. Pakailah lip balm sebelum tidur. Jika tidak ada, bisa diganti dengan minyak zaitun atau madu. Yang paling penting: harus teratur!
  2. Kalau sel kulitnya sudah banyak yang mati, bersihkan dengan lap khusus yang bahannya lembut. Jangan terlalu sering juga, nanti jadi makin sensitif dan lebih rawan iritasi.
  3. Pijat daerah atas dan bawah bibir dengan cara dijepit oleh dua jari tangan kanan dan kiri bergantian, yang digerakkan ke arah luar beberapa kali agar peredaran darahnya lancar.
  4. Kalau habis makan pedas, usahakan tidak membuat bibir terluka/ terkena zat yang sifatnya keras, karena kulitnya menjadi lebih sensitif.
Saya yakin semua sudah tau hal-hal di atas. Yang jadi masalah adalah bagaimana merutinkan perawatannya XD
Yeah..

"Drunken" Katakecil dan Masjid

Entah kenapa, setiap kali saya ‘bertemu’ dengan masjid baru, ada-ada saja hal konyol yang terjadi. Tidak semuanya selalu saya ingat, memang. Tapi kalau diingat-ingat, banyak juga hehehe. Semoga ini tidak menandakan bahwa saya tidak berjodoh dengan masjid (hiks..). Well, yang saya ceritakan di bawah ini tidak selalu tentang masjid yang masjid (nah lho.. bingung kan?) tapi juga tentang mushola. Kalo nggak salah, masjid itu definisinya yang digunakan untuk sholat Jum’at juga, sedangkan mushola hanya digunakan untuk sholat saja, tidak dipergunakan untuk jama’ah sholah Jum’at. CMIIW. Pokoknya di sini mah disamain aja lah…

Konyol 1: Salah Masuk

Entah sudah berapa kali, dan di mana saja, saya lupa. Yang masih segar di ingatan saya adalah waktu saya mau ikut suatu pengajian waktu SMA di sekolah lain. Setelah tanya-tinyi akhirnya nampaklah juga itu masjid sekolah. Ucluk-ucluk, setelah setengah mengitari masjid, nampaklah ada pintu yang terbuka. Langsung masuklah saya sambil salam. Heu.. Saya pikir apa saya datangnya kepagian ya, kok isinya ikhwan semua…? Dan para ikhwan itu pun melihat dengan pandangan aneh sembari menyuruh saya ke ruangan sebelah (eh apa ngusir saya yak? Ndak tau lah...). Dengan tampang penuh dosa (haatchiing!) pindahlah saya. Huahaha.. setelah masuk ruang sebelah baru saya tau kalo ruangan masjidnya dipisah.. Dan saya salah masuk ke pintu ikhwan..! (untung saya nggak pernah SKSD tiba-tiba gabung duduk ke majelis mereka.. huahaha.. yaa.. walaupun tampang saya.. yaaa.. ganteng juga siih.. haaatchiing!).

Konyol 2: Salah Tempat

Kalo yang di atas kan kejadiannya memang di sekolah lain. Wajar lah. Kalo yang ini… di perpustakaan kampus!!! Udah anak kuliahan! Alah mak! Ceritanya, setelah lama tidak ke kampus, hari itu saya sedang ketiban ilham harus ketemu pembimbing tugas akhir. Lalu mampirlah saya ke perpus yang tadinya mirip kakus tapi sekarang sudah lebih bagus itu. Buat apa? Yang jelas bukan untuk minjem duit. Karena kalo mau minjem duit ya ke bank aja. Bangsanya bank Amir, bank Beni, bank Candra, etc.. (sudah mulai tewur....).

Pokoknya saat itu saya kebelet mau sholat dhuha aja (kekekeke, tumben!) maka saya pun melenggang dengan kangkungnya (?) ke basement perpus yang dulunya adalah tempat nongkrong anak-anak TPB tapi da sekarang eh saat itu mah sepi. Karena saya masih ada wudhu, saya pun dengan pedenya langsung ke tempat yang jelas-jelas nampak sebagai mushola baru yang luas dan bersih dan berkaca-kaca itu (lebay). Setelah memarkir tas bawaan saya di shaf paling belakang, saya celingak-celinguk merasa mushola luas ini kok tidak ramah jama’ah wanita: tidak ada satu pun mukena selain satu butir sarung yang tidak berani saya periksa kehalalan dan kandungan karbon dioksidanya (tewur lagi). Ya sudah, akhirnya saya siap-siap takbiratul ihram. Hmm, mushola jam segini memang sepi, tapi auranya aneh.. bukan karena ada penampakan burger gratis atau nyai kunti bermukena putih.. tapi karena entah kenapa bapak-bapak yang baru masuk dan sudah bersiap sholat tadi sempat-sempatnya memalingkan muka padaku, kayak terkejut gitu. Uh…? Kenapa ya? Bae lah.. Saya pun sholat dengan seadanya (belum bisa sholat khusyu’ kayak kalian lah intinya, tapi sholat katakecil sama kok: diawali dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam, tanpa selingan loncat-loncatan). Gubruk gubruk gubruk.. beres.. berdoa.. beres… lalu dipikir-pikir, sayang juga kalo pergi ketemu dosen sekarang. Bentar lagi juga udah adzan. Males kalo ntar harus wudhu lagi, nyari tempat sholat lagi, dsb, dst, dll, dkk.

Lalu saya memutuskan menunggu dhuhur sambil entah ngapain saya lupa (*nggak berburu ikhwan lhoo.. sumpah! Nggak pernah denger ada ikhwan kampusku hilang diculik makhluk semacam cebong kan?*). Tapi aura kian aneh itu kembali menyergap. Saat beberapa ikhwan masuk, udah mau dhuhur, mereka menatap saya dengan pandangan yang berbeda. Terpana beberapa detik; pastinya bukan karena saya semanis jembatan ancol atau gimana lah, tapi karena sebab yang saat itu belum saya ketahui. Andai tahu, mungkin saya memilih makan pisang goreng di kantin sebelah saja dari pada malu hahaha.. (gak nyambung). Pokoknya, datanglah adzan dan saya pun ikut berjama’ah. Saya cuek katak walaupun terbetik tanya: lho, kok perempuannya saya sendiri?

Wes hewes hewes, sholat jama’ah dan seterusnya sudah beres. Saya pun keluar mau melanjutkan hidup saya. Baru beberapa langkah keluar mushola dan kaki saya pun lemes seperti kerupuk direndam larutan kalium sulfat dua setengah molar (belum pernah ada percobaannya sih..). Pokoknya lebih kaget daripada saat kalian mendengar berita Ledi Dai wafat deh. Dugh! Betul. Saya melihat tulisan tak berdosa di atas pintu di gang sebelah: WC/Mushola Khusus Wanita!!!! Huwaaa…?!?! Jadi? Jadi? Jadi…? Dari tadi itu sayaaa… oh nistaaaaa!!!!

Betul sodara-sodara! Saya baru ingat kalau di basement ini ada mushola khusus wanita, yang telah menjadi TKP kejadian konyol ke-tiga beberapa tahun sebelumnya.

Konyol 3: Salah Hadap

Bukan berarti dari seharusnya menghadap ke Alloh jadi menghadap ke iblis lho ya.. bukan..

Ini ceritanya saya habis praktikum, jaman saya masih anak bawang hijau (ada gitu?). Pokoknya saya masih fresh kinyis-kinyis from the lab. Jam udah menunjukkan angka lima, dan saya belum sholat ashar =,=” Maka, begitu memasuki mushola khusus wanita langganan saya (kali ini saya yakin lokasinya benar), saya langsung menaruh kaki saya di garis start, eh, maksudnya di bagian sajadah untuk kaki. Karena saking khusyu’nya mengejar waktu, saya tidak mengindahkan perasaan aneh yang baru saja menimpa jidat saya di mushola yang kosong itu. Bae lah.. Sholat lah saya dengan seada-adanya. Tapi tidak mengada-ada. Sampai di-finish-i dengan salam.

Hmmm, apa ya? Ada yang aneh..

Setelah berpikir dan mencoba memahami keadaaaaan…………….. oups!!! Saya baru ingat! Di mushola ini sajadah digelar menyamping agar muat dipakai bersama-sama saat berjama’ah! Artinya? Itu sajadah tidak menghadap kiblat! Tapi sembilan puluh derajat dari kiblat! Auuuuuu.. T-T Memang kondisi mushola yang kiblatnya miring itu mengacaukan sense of direction saya, tapi kan harusnya ngga segitunya.. karena saya kan sudah sering memakai mushola ini.. duuuh.. *meratap ratap*. Untung saya masih hidup segar bugar sampai sekarang (apa coba?). Saya nggak inget waktu itu akhirnya saya sholat lagi apa gimana.. Haha.. *jdugh* Emang harusnya gimana yak? (*mentuil yang tau hukum fiqih*).

Konyol 4: ..???

Halo?!? Wooii.. Memangnya tiga kekonyolan belum cukup apa? Sudahlah, yang lain-lainnya biar jadi kenang-kenangan saya dan Raqib Atid saja :D Lain kali saya up date kalo keingetan lagi (jangan lagi-lagi nambah baru dah..)!


#posting pertama di 2012

Alhamdulillaah

Tuesday, December 06, 2011

Ore no Tanjoubi Purezento..

Dengan sok gayanya, waktu boss-biss saya nanya saya mau kado ultah apa, saya selalu bilang: apa aja, asal yang bisa dipake dan BUKAN BUKU!

Hari itu, sehari setelah milad saya, setelah makan bersama di salah satu stand kandidat ketua IA (*hahahaha.. meuni polos amat*), kami pun berlari-lari mengejar mobilku... (*emang soundtrack anime?*) Maksud saya, kami pun segera mampir ke Indonesia Book Fair. Salah satu boss bermaksud berburu marmut mabuk. Biss yang lain.. ngapaian ya? Saya juga nggak nanya beliau mau nyari apa. Tapi naga-naganya sih nyari-nyari (penjaga stand) yang seger bin cerah =D (*ouupss*) tapi kenemunya malah komik komik dan komik. Mungkin semua yang ganteng dan seger sudah menjadi komik (maap ya boss Y**chan). Begitulah.


Karena sudah bertekad tidak ingin kado buku (selain buku yang sudah saya tag ke salah satu boss), maka saya pun menghadiahi diri saya sendiri satu buku (??????). Silakan bingung. Pokoknya saya menghadiahi diri saya sendiri novel MC yang A Case of Need tea, di stand buku second langganan saya. Dan saya berhasil melawan semua godaan. Saya selalu menggeleng tiap ditawari boss buku sebagai hadiah milad :D


Begitu seterusnya.


Dan seterusnya.


Dan seterusnya.


Dan seterusnya.


Sampai kami ikut mabuk karena nggak nemu-nemu marmut.
Dan kaki kami sudah bersemut-semut. (????)


Intinya kami keluar menghirup udara segar dan makan kue dan ngobrol geje, sembari menunggu salah satu boss yang ilang di jalan. setelah kami kembali reunited menjadi tiga serangkai, kami pun masuk lagi.


Lalu...



Terjadilah...



Hal paling naas sepanjang hari itu!










Tak sengaja lihat satu buku diper!
Lalu temperatur katakecil pun mulai naik.
Eh.. ada satu lagi...
katakecil makin kelimpungan...
Eeeeeh....?!?!?!?
Whaaaaat......???



wooooooooooooooooooooooooooow...



semua judul yang belum masuk koleksi katakecil ada di sittuuuuuuuu.....


pingsan lah si katakecil


bo'ong deng








yang jelas dia membawa pulang begitu banyak buku yang sampai sekarang pun masih membuat dia melayang-layang..

=D


Yosh! Mission bin malakiah success!

Thank you utk boss-biss yang sudah menghadiahi saya buku-buku di atas ;9 sluuuuuurp...



*gedje*

**gambar nggak sengaja di-mirror biar nggak bikin ngiler orang lain

Sunday, December 04, 2011

Yang (Memilih) Berbahagia

Kurasa usianya akhir dua puluhan, atau mungkin awal tiga puluhan. Pakaiannya terlalu sederhana untuk ukuran pegawai kantoran, tetapi terlalu bersih dan rapi untuk orang yang kerja kasar. Tangannya kosong, tidak nampak tas atau bawaan apapun. Jadi aku tidak bisa menebak profesinya apa. Hari sudah mencapai kelelahannya yang paling telak, tetapi lelaki itu seperti pagi yang baru menetas: wajahnya cerah sumringah. Aku punya dua tebakan untuk menjelaskannya: dia sedang jatuh cinta, atau dia sedang jatuh cinta (itu mah idem atuh! =,="). Tapi aku tidak tahu dia jatuh cinta kepada apa. Yang jelas, padat, rikuh, dan lelahnya kota ini tidak sanggup mengekang rembesan rasa itu dari aura tubuhnya: ringan, penuh senyum, dan.. bahagia...


Inilah kebiasaan baruku: mengamati orang-orang Jekardah; terutama kited berada di angkutan umum seperti Kopaja ini. Sangat jarang aku melihat ekspresi seperti itu. Kalau galau, hm, ekspresi itu ada di mana-mana. Maka mataku susah lepas dari objek yang satu itu (*uhmm, mana praktik teori menjaga pandangan, katakeciiiil?*). Bukannya apa-apa. Aku hanya penasaran dan tak bisa tidak jadi merenung: sebenarnya bahagia itu apa? Mengapa dia bisa menjadi seperti itu? Apakah dia memilihnya? Tapi rupanya renunganku sia-sia karena aku tak bisa bertanya langsung padanya. Tapi kurasa dia memang memilih untuk berbahagia saja, regardless any background that may appear behind him. Dunno.


Satu lagi kebiasaanku: mengamati dan membaca graffiti dan lukisan yang ada di tembok-tembok, juga truk yang melintas. Ini juga termasuk ekspresi kegundahan masyarakat, yang seringnya terlalu jujur. Kapan-kapan aku ingin membikin kumpulan catatannya. Hmm...



Semoga aku semakin banyak melihat wajah-wajah bahagia di kota ini.
Aamiiin..