Friday, February 19, 2010
Seperti yang ini..
--
If you can still see things clearly, it only means one thing: you didn't go fast enough!
-cangkir Risk Taker Nur-
Friday, February 12, 2010
The 'Come Back'
Friday, January 29, 2010
Wake Me Up,
bukan pula hayalan mengawang,
dan semua kepalsuan itu usai sudah kita tanggalkan...
bangunkan aku..
mungkin saat itu
nalarku sudah akan sempurna menjejak TanahNya
-=remaining_full_rainbowed_sky=-
end of January, medio Shaffar
Friday, January 15, 2010
Ingin Kukatakan: ...Seperti Alloh Sedang Memelukku!
Seperti hari-hari ini, Kawan..
Kita meniti denting itu, berharap gelegar itu cuma geletar saat utusanNYA menyampaikan salam;
"Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai.."
Tapi denting itu begitu jarang terdengar, seperti beeper infrasonik yang tenggelam ditindas background noise yang kelewat kejam; sedang gelegar itu terbang mengawang lupa daratan, seperti ketukan bom ultrasonik yang diabaikan. Maka jadilah aku, terseok menanti iluminansi jauh di ujung lorong hari; dengan senang hati berkubang lumpur saat lautan di depan (nampak) terlalu menantang..
Jika detik yang berderik dan gelegar yang tak ingin kita kenang (namun selalu membayang-bayangi) itu begitu licin tuk dipegang dalam ingatan; apatah lagi DIA yang denganNya segala yang tiada menjadi ada.. Dengan bahasa apa harus kuocehkan TanganNya-TanganNya yang ajaib itu..?!? Yang tersisa hanya sebuah kesadaran, seperti yang kujadikan judul paragraf-paragraf hina ini..
-hmm, meracau after M.A.Newton session-
Monday, January 11, 2010
Taun Baru, Masih Demam?

CE: Halah, kayak gini ini mau aja ya orang ikutan..
CS: Ya ini mah buat yang hapenya udah generasi baru, mana bisa untuk hape awak..
SC: (*tetap asyik maem, padahal dalam hati bilang he-eh*)
CE: Jaman sekarang ini orang mesbuq mulu.. di mana-mana..
CS: Eh, tau nggak.. aku dikasih tau temanku.. Ceritanya tentang tukang bakso nih.. dia tuh sambil jualan tetep pesbukan lho.. dikit-dikit apdet statusnya kek semacam ini: "waduh, kok lagi sepi ya.. pada ke mana ni yang beli", atau "wah, bakso di tuuut (*tempatnya sendiri*) enak banget lho.." pokoknya gitu-gitu lah
CE: Waduh niat banget... (*membayangkan tangan kiri sang tukang ngetik di hape, tangan kanan melayani pembeli*)
CS: Iya.. padahal kalian tau nggak, hapenya tu model kayak punyaku yang ngga bisa GPRSan gitu-gitu...
CE: Oh iya? Masak? Canggih juga..
SC: (*tetap dalam hati; pake three kali.. yang model pake sms itu lho*)
CS: (*ngakak*) Tau nggak gimana caranya?
CE: ??
SC: ???
CS: Iya, jadi gini.. dia ngirim sms ke ceweknya.. ceweknya itu penjaga warnet gitu deh.. jadi ceweknya ini yang ngapdetin statusnya..
CE: hahah... niat banget.. mau-maunya si ceweknya..
SC: huahaha.. jadi hikmahnya:
- jangan jadi pacar tukang bakso (*yang gila pesbuq*)
- carilah penjaga warnet aja
*based on true accidents, hanya kata-kata saja yang diubah demi keamanan daya ingat saya*
pic by: ben heine
awakening
...I'll rise my hand to heaven...
as always
thank you Alloh, for all this learning process
-keep ikhlas, bong!-
Wednesday, December 30, 2009
Hore.. Pin Hari Ibu!
thanks to freeda yang udah bermurah hati mau memakai desain dudul saya.. dan thanks to mas-mas yang nyeting gambar yang bersangkutan menjadi sedemikian ini ;p
yows.. walaupun saya nggak kebagian pinnya U-U
Re-Sensi: Timeline
Michael Crichton lagi..
Hehe, udah lama banget bacanya.
Jadi lupa euy.
Halah..
Oke, ayo kita gosipin om MC dulu.
Sejujurnya, saya (*overloaded with prejudice*) seringkali menaruh ‘buku-buku’ fiksi MC yang berbau ‘fantasi’ di daftar terbawah prioritas baca saya (*relatif terhadap buku sejenis MC lho ya, hohoho.. kalo terhadap yang lain sih, tetap yang teratas lah..*). Sebutlah The Lost World, Jurassic Park, termasuk Timeline ini! Yow. Saya adalah tipe orang yang tidak bisa (*apa tidak suka?*) membaca buku ‘fantasi’ yang tidak punya dasar logika yang kuat. Mungkin ini alasan terbesar kenapa saya tidak pernah tertarik untuk membeli buku fiksi ilmiah buatan anak negeri. {(*beuh.. perasaan kamu memang nggak pernah beli buku deh, Bongki! Kerjaanmu kan minjem…?*) (*Aduh, Bongka! Diem kenapa sih…?*)}
Tapi setelah saya membacanya, hm, walaupun tetap saja tidak seratus persen sejalan dengan pemahaman saya mengenai waktu, novel ini membuktikan bahwa prejudice saya salah. Sebenarnya yang bikin saya lega adalah catatan penulis di akhir buku yang menegaskan pendapat pribadinya mengenai konsep waktu, yang ternyata sejalan dengan pandangan saya. Hoho, akhirnya MC sendiri mengakui bahwa novelnya ‘hanyalah’ novel =D (*Ya iyalah novel, bukan dodol nangka! Tapi, kalo mau dijadikan bungkus dodol nangka, bisa juga..*)
Kisah yang dirajut dengan dasar mesin waktu dan penelitian arkeologi ini jauh lebih kompleks dari The Terminal Man. Berlatar belakang abad pertengahan Inggris, setting dan kisahnya membetot rasa penasaran saya atas nasib para tokohnya. Baca sendiri aja ya.. Hepi ending kok.. huehehe.. (*lari..*)
(*Bongka’s side kick: sebenarnya waktu itu asa ada banyak ‘hikmah’ yang didapatkan setelah membaca novel ini. Tapi sekarang sudah lupa. Hiks. Jadi sedih. Mungkin kapan-kapan kalo saya sempat membaca versi originalnya, akan ketemu lagi dan dituliskan dengan baik dan benar. Mungkin saja.*)
Note: Semua yang dipetik-petik dan dibintang-bintang adalah benar pada saat tulisan ini naik publish dan tidak membahayakan organisme apapun dalam proses pembuatannya, termasuk spesies langka si Bongka maupun si Bongki. Percayalah.
trims untuk yang udah minjemin bukunya.. JKK
