Thursday, September 27, 2007

atarashii no atashi

pengen ngetik ini aja,
tah bener gak artinya

1mm closer


i am ready to break my own words
i am ready to freeze
i am ready to crush
i am ready to..
but,
i am ready to open my mind


{weak enough to surrender, but not blind enough to put that line a head: Desperately getting stronger and stronger and stronger... till all people around recognize and understand how important you are to them}**


Yah, dengan sedih sekaligus senang, aku melanggar janji menyegel blog ini mpe akhir oktober..
Abis, ga ngepek si, ngeblog apa ga..
Sebulaneun ini eike bener-bener gak ngetik! (*nggak ngeblog, gak neA, gak.. ko curhat geneee? Alah, udah biasa thoo! ;p)
Sampe ini hari, baru menapak satu milimeter
(*duh, plis plis plissss.. jangan tanyakan lagi progress TA tiap kita ketemu! =P ) *




ternyata,
Tugas Asyik tak cukup mempan untuk kepala batu saya
jadi, moga Tugas Ajaib kali ini mampu menebus kebebasan saya dari jerat kampus
Ahh,.. sebegitu berharganya kah saya sampai kampusku ogah meluluskan saya cepat-cepat?
(*euleuh, bukan denk! Hehe, (*calon..) engineer kampring mendekati bego kayak saya ini memang kudu diperam dulu masak-masak di dalam kampus, biar ga berkeliaran di tengah masyarakat dan membuat keonaran: jembatan ambruk, pipa bocor, AC meleduk.. (*conversation ma yenchan dan pe-KP SIpil)
Hikss..


kebenaran pertama yang saya temui pekan ini adalah:
bimbingan ternyata percik-percik pencerahan yang seharusnya saya kejar
bukannya malah dijauhi kayak wabah

(wadow, siap lapor tiap dua hari sekali?!? Ummm,.. ehehe, nanti dulu deh!)



*untuk yang bilang " mayanlah dari pada 1nano, dimaapkancoz udah kena suap kaos singapor.. yeyeyeye =p

**duh, kangen Gaara.. hayaah! {selera yang aneh!} kegilaan yang berasal dari Shippuden dalam misi melarikan diri.. Ma', gimana atuh? Nginep di kamarmu lagi ya? :D

Pembelajaran Dosis Tinggi

" hamil adalah hal paling menyenangkan yang terjadi dalam hidupku.."

Quote dari seorang teman yang nikah dan hamil pas kuliah,
Yup, selamat menikmati masa-masa berat yang membahagiakan
Semoga setiap letih dan ujian yang dihadapi menambah kesyukuran kita,
betapa berharganya memiliki seorang ibu =)
Mungkin dengan demikian, baru kan kita rasa penghayatan menjadi Ibu yang sebenarnya...


**untuk mbak yang baru jadi calon ibu sebulan, dan teteh-teteh lainnya
* bukan brati aq mo nikah cepet2 n segera mencicip pengalaman itu lho.. =|

Thursday, August 30, 2007

Mesin Ketik Setia

Bosan sih sebenernya nulis tentang rumah mulu. tapi yang datang justru ilham-ilham tentang rumah, jadi yasud..

selain silaturrahim, agenda saat pulang kampung adalah mengurus surat-surat pengantar dari desa. berhubung saat itu sang Bapak sedang ampek sama salah seorang personel kantor desa yang resek, maka berangkatlah saya dengan segenap kemampuan yang ada. membesar-besarkan hati (*takut trauma kebagian petugas yang resek) dan membangun pikiran positif (*toh sampai hari ini selalu ada 'orang baik' di antara orang-orang resek tadi). Sudah jam 9, hari Jum'at, (*artinya tinggal dua jam sebelum kantor tutup) tapi sama-sekali belum ada petugas. Duh, masak gara-gara Carik mantu seluruh personel ikutan libur.. Budaya kita memang menggumunkan..

Syukurlah, beberapa saat menanti, datanglah juga salah seorang oknum kantor desa itu. Langsung diserbu para penunggu surat sakti, syukurlah saya dapat giliran pertama (*secara saya datang yang pertama kali, yeah!). Dan mulailah bapak asisten carik (*entah apa jabatan yang sebenarnya) itu mewawancarai saya, sambil menyiapkan kertas (*ya ampun, berapa gsm tuh? tipis bangeed!) dan mesin KETIK MANUAL! Gila, benar saja, lima belas menit belum beres juga ketak-ketok tuts mesin ketik tuwir eta! Hayah, padahal kalau pake komputer, cukup bikin satu template untuk tiap jenis surat, tak-tik-tak-tik beres isi form-nya, klik print, dhok.. kasih tanda tangan dan cap. Jadi nggak sabar. Tapi inilah kenyataannya. Sang Tukang Ketik dengan tampang mantan militer dan tangan yang penuh dihiasi macam-macam tato terus mencap aksara satu persatu, beberapa kali memakai tipe-ex yang dia perlakukan seolah-olah tongkat sakti nan tiada tara.


Akhirnya beres sudah. Sekilas kulihat Pak Nari yang berperan sebagai kurir sekaligus tetangga pengertian itu mengedikkan mata, isyarat agar aku langsung pergi. Tapi jiwa penasaran menggerakkan lidahku pada Bapak Pengetik: "Biaya administrasinya berapa, Pak?". Rupanya Pak Nari belum menyerah, tepat sebelum kalimat saya mencapai tanda tanya, beliau sudah menyibukkan Bapak Pengetik dengan job berikutnya. Hehe, padahal kan saya mau tahu, benarkah yang dibilang Bapak saya, sebagai bagian dari lubang-lubang tikus birokrasi, Bapak Pengetik yang dikenal tanggap money ini akan tetap meminta bayaran meskipun sudah ada peraturan tidak boleh ada pungutan untuk pembuatan surat semacam yang saya minta ini. Makasih deh, Pak. Kebetulan saya memang cuman bawa tiga ribeng.. Padahal kalau Bapak Pengetik benar-benar minta, nggak akan cukup tuh. Walaupun saya prihatin untuk kerja keras yang harus dilakukan jari-jari para carik desa, toh saya tetap nggak mau terjebak lubang birokrasi. Semoga Alloh saja yang membalas, kudoakan cepat ada yang menyumbang seperangkat komputer untuk desa itu. pentium dua saja sudah memadai. Tapi, saya ragu mereka akan bisa mengoperasikannya. Oalah..

The Blue Nowhere

Dunia Maya yang diciptakan oleh Jeffery Deaver ini layak saya sejajarkan dengan Prey-nya Crichton, tapi yang ini lebih berliku-liku ala rollercoaster: ramuan kisah yang mengejutkan di setiap bab siap mengguncang rasa penasaran kita, susah ditebak. Saya benar-benar menyelesaikannya dalam dua kali baca: semalaman, dipotong tidur, dan paginya sampai sekitar jam 10an. Covernya yang biru dengan pola chip sangat khas "machine", menegaskan kentalnya unsur komputer dalam kisah 640 halaman ini.


Cerita dibuka dengan peristiwa penculikan dan pembunuhan Lara Gibson, sang Ratu penjaga diri, oleh seorang laki-laki ahli social engineering yang kemudian dikenal sebagai Phate (*dengan Ph tetap dibaca 'ph', bukan f.. Ejaan sangat besar artinya). Identitas Phate yang sebenarnya adalah Jon Patrick Holloway, sang Wizard hacker yang tergelincir menjadi kracker (*killer cracker) karena keasyikan main game Access dan mulai susah membedakan antara dunia nyata dan dunia game. Phate yang tergila-gila pada drama dan dianugerahi bakat akting yang luar biasa ini menjadi buronan Detektif Frank Bishop, yang dibantu oleh Wyatt Gillette, hacker muda luar biasa yang dulu satu gang dengan Phate dan tengah menjalani hukuman penjara. Hanya Wyatt yang sanggup menandingi kepiawaian Phate, meskipun Wyatt sering ketinggalan langkah akibat kecanggihan Trapdoor, program demon penyusup buatan Phate yang memungkinnya mengobrak-abrik sistem data ISLEnet. Intrik demi intrik atas mengatasi, seolah adu kecerdasan antara kedua hacker ini tiada putusnya membuktikan filosofi hidup mereka: Akses adalah Dewa. Direcoki oleh birokrasi, ciri khas novel heroik gaya Amrik, Wyatt terus mengejar Phate hingga bentengnya yang terakhir: kematian Phate yang tragis di gudang 'museum' komputernya sendiri justru oleh tangan ketiga yang tidak disangka-sangka! Siapa? Lagi-lagi, baca sendiri saja. Si phate yang berasal dari keluarga yang kering kasih sayang ini sakti luar biasa sampai-sampai setelah kematiannya pun dia bisa membuat SHAWN (*nggak asyik kalau saya ceritakan, lebih menantang kalo Anda temukan sendiri) membajak tim SWAT untuk melakukan operasi penangkapan terhadap Wyatt dan keluarganya. Ujungnya happy ending sih, tapi ketegangan dan prosesnya itu yang menarik. Bumbu-bumbu romantika yang terselip sepanjang cerita pun dikemas manis mendukung cerita, sama-sama mengejutkan hingga halaman yang terakhir!


Setting Silicon Valley dan pekatnya sisi teknis cukup membuka wawasan kita tentang dunia komputer dan cyber, yang oleh Jeffery, lewat mulut Wyatt, dikatakan sebagai the blue nowhere. Blue untuk listrik yang menjadi sumber energinya, juga untuk kepedihan ironik seorang maniak yang bisa menciptakan identitas sebagai siapapun. Biru untuk keabsurdan dunia yang tak bisa dipegang, tapi cukup ada untuk membuat kita terluka, dipecat dari pekerjaan, bahkan kehilangan nyawa. Dan Nowhere untuk kehampaan dunia yang maya, tak ada dimana-mana selain di batok kepala.

Pokoknya rugi deh kalo gak baca =p , tapi jangan pinjem sama saya, karena saya juga dapetnya minjem, hehehe..


Membaca kisah ini membuat saya benar-benar merindukan sebuah kisah anak negeri, yang pepat dengan baluran ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan. Bukan dongeng-dongeng mimpi yang sekarang merajai tivi, yang bisa ditebak pola judulnya: si A (nama manusia) dan xxx (nama benda ajaib bertuah). Oh, masak iya harus aku yang mulai nulis tandingan novel ini? Ogah ah, mending kamu aja =D

Berkaca (II)

kata adikku namanya Pak Wiyono. Guru baru di sekolah alumniku dulu, megang PPKn. saya sendiri nggak pernah bertemu langsung dengan orangnya, tapi toh itu nggak penting, karena saya tidak bermaksud membahas tentang apa-apa yang bisa dilihat dari orang ini. Semua yang ada di sini dibingkai dengan: "kata adikku, atau kata temannya adikku yang maen ke rumah".

Diluar jam mengajar, guru itu masih melakonkan profesinya sebagai wartawan. entah wartawan mana. yang jelas, beliau punya cukup banyak link ke orang-orang penting. ini juga saya nggak tahu, orang penting yang mana. orang penting lokal di kerajaan Malang, barangkali. yang jelas, beberapa adik kelasku cukup terbantu saat memasuki sebuah universitas di sana, berkat poci-poci beliau dengan sang rektor. Di luar kelas, pak guru satu ini sangat dekat dengan siswanya. sudah tak terhitung berapa kali anak-anak muda sekolah pinggir sawah itu menjadikan rumah guru lajang tersebut sebagai posko untuk menyelesaikan tugas-tugas mereka. itu artinya akses komputer dan printer gratis sampai ke kertas-kertasnya. dan itu rupanya yang menjadikan beliau sangat dikenal di kalangan siswanya. Entah apa kelebihannya yang lain, kuping saya sudah luber.

satu hal yang saya sangat ingin menggaris bawahi, setelah mencetak miring dan menebalkan kalimat ini: "Tapi kalau ketemu jangan kaget lho, mbak. Pokoknya nggak ndayani. Nggak akan nyangka kalau dibalik penampilannya yang segitu (*saya bingung bagaimana harus menerjemahkan: koyo ngono dengan tanda petik) beliau adalah seorang yang hebat .."

ya, mungkin hati yang besar tidak akan cukup jika dibungkus dengan dzahir yang 'biasa' saja, adikku. Mungkin Alloh membungkusnya dengan kasat mata yang akan mengundang tasbih dan permenungan: bahwa kita sering kali tertipu indra kita sendiri yang berkubang nafsu. Semoga Alloh merahmati beliau, dan memberi saya kesempatan untuk belajar langsung dari beliau, di kesempatan ziarah yang entah.

Don't judge the book by it's cover.

Berkaca

Ini seharusnya catatan semester kemaren.. ^^

Dia adalah teman seangkatanku, sekelas juga dalam beberapa kuliah. Dan saya benar-benar bersumpah bahwa saya tidak punya hubungan darah dengan orang ini (*hm, well, kalau hubungan satu Moyang Adam-Hawa bisa disebut sebagai satu keturunan..) jadi apapun yang saya katakan tentang dia sama sekali diluar semangat primordialisme. Kita biasa menemukan orang semacam dia di barisan terbelakang kelas kita, sekaligus di barisan terdepan orang yang menyediakan diri mengurus suatu acara. Tidak terancam cumlaude, tapi rasa-rasanya selalu dicap pintar. Jika orang sejenisnya ini memasuki pasar, maka bisa dipastikan dia tak akan keluar dengan cepat: pertama karena terlalu sibuk tawar menawar sampai penjualnya bosan, dan kedua karena diinterogasi dulu oleh satpam yang curiga tampang seperti dia ini berpotensi mengancam keselamatan tas pembeli lainnya :D, hehehe.. (*piss.. piss.. ) Kita bisa menemukan orang semacam dia ini di pojok kampus, dengan celana jeans cenderung belel dan alas kaki yang dijepit, tertawa menyapa semua orang. (*Ya, sejujurnya saya menuliskannya di sini karena dialah satu-satunya orang [baca: cowok] yang selalu menyapa dan bertukar salam dengan saya ketika berpapasan.. bukannya pura-pura tidak melihat, atau sok-sok tidak kenal =p). Maka jangan heran, ketika dia memegang jabatan pupuhu di sebuah organisasi kesenian kampus, unit itu terlihat semarak (*satu hari tak sengaja saya lihat dia sedang melatih anak buahnya gladi resik, dengan wajah sangar yang tak pernah kuduga dimilikinya..) Ketika presentasi kuliah Epro pun hanya dia yang membawakan tema yang lain dari yang lain: etika profesi di bidang Kedokteran (*padahals seingats sayas tugasnyas adalahs etikas profesis di bidangs engineerings! tapi karena dia membawakannya dengan sangat baik, bapak dosen yang terkenal galak (*uhuk, saha nya'?) nampak anteng-anteng saja..). Dia bukan ketua angkatan, tapi saya sangat ingat dia beberapa kali memastikan saya ikut acara angkatan (*hahaha, betapa tampang pembelot saya ini susah disembunyikan..). Ya, seorang koleris-sanguinis sempurna yang saya prediksikan akan menempati posisi yang sangat berarti kelak (*entah di bidang apa..). Dan satu percakapan pendeknya dengan Damar, teman saya yang lain, nyata-nyata menyentakkan saya,persisnya saya lupa tapi kira-kira begini:"Eh, sekarang Salman membina pengemis ya? Yang jualan mi ayam di belakang asrama itu masih jalan? Nah, kitu bagus.. nyata.. bla bla bla..". Tak kusangka kata-kata itu keluar dari mulutnya, (*meskipun aku tahu dia adalah seorang yang sangat rajin berjamaah shalat di Salman), mengingat tak banyak orang yang beraktivitas di Salman yang cukup peduli dengan hal itu. Ternyata seorang seperti dia melihat jauh lebih dalam dari yang biasa kita lihat. Dan tanpa malu saya akui, saya benar-benar melihat karakter yang *seharusnya* dimiliki oleh seorang penyeru perubahan ada pada dirinya: menyatu dengan lingkungan sosialnya, ada saat dibutuhkan, menepis jarak tak nampak antara sang 'dewa' (*tanda superpetik!) dan sasaran perubahan yang awam. Tanpa mengesampingkan kekurangan-kekurangannya, saya benar-benar harus berusaha mengklon sifat-sifatnya itu. Semoga.

Dialah Heryana Rinaldi Hidayat

Selamat Selamat..

bulan-bulan ini adalah musim resepsi bin walimahan. ada beberapa undangan dari teman, tapi hiks, sayangnya saya nggak bisa datang.. sedih deh (*ketinggalan program perbaikan gizi =P)

jadi lewat sini saja saya doakan: barokaLLAHu lakum, semoga dengan bersatunya jiwa-jiwa baru akan lebih kuatlah bangunan da'wah ini.. =)

maka selamat menikmati perjuangan baru untuk teh Euis dan K' Arif, teh Icha dan k' Umar, Akh Rendy dan istri, Akh Mahfud dan istri, ukhti Tri dan suami, dan insyaAlloh teh Rita dan suami, juga sahabat-sahabat yang lain yang belum kusebutkan, yang mungkin belum termasuk kloter ini.. hihi, tenang, masih ada musim yang akan datang =D (*barengan aku, huehehehe..)

Ayat-Ayat Cinta

ah, sudah lupa kalau saya mau menulis tentang ayat-ayat cinta. sekarang cuma bisa mengatakan ini: heran kok bisa buku ini lewat dari sensor para aktivis muslim padahal di halaman 387 Fahri yang baru beberapa menit menikahi Maria bisa-bisanya mengatakan: " .. Cintaku kepadamu seperti cintanya seorang penyembah kepada sesembahannya.."

Hallowww?? Ada yang bisa menjelaskan kepada saya, atas dasar apa kalimat di atas dianggap bebas dari muatan syirik?

Friday, August 24, 2007

Manggil orang


[peringatan keras! Lagi-lagi tulisan nggak penting =p]

Kenapa ya saya ini susah sekali memberi panggilan ke orang yang sebaya kakak laki-laki: mas, kang, kak, dan kanca-kancanya.. Mungkin karena seluruh keluarga saya perempuan, di keluarga besar pun saya yang biasa dituakan dan dipanggil mbak (*Ibu saya anak pertama, Bapak anak laki-laki pertama yang bertahan hidup) bahkan oleh adik-adik sepupu saya yang usianya belasan tahun lebih tua. Lelaki muda yang saya kenal baik hanya Cak Win bersaudara yang tak lain dan tak bukan adalah keluarga sekaligus tetangga yang mengasuh saya sejak masih orok. Makanya jangan heran kalau saya jarang sekali memanggil kakak angkatan (*dari SMP, SMA, sampai kuliah) dengan panggilan penghormatan di atas. Sebisa mungkin saya menghindari kata sapa yang harus diucapkan secara langsung. Rasanya aneh, ada yang menggelitik saat mengucapkannya. Ya, saya seringnya memanggil cowok dengan namanya langsung! Tapi nggak mungkin juga kan seterusnya saya manggil orang yang lebih tua kayak gitu..

Maka, di tanah Bandung ini, saya belajar memanggil Mas pada beberapa orang yang memang "secara rasa" kata Mas itu sudah menjadi bagian dari namanya, karena sejak awal saya dengar namanya memang begitu dan selalu dipanggil seperti itu: Mas Her, Mas Syarif, dan Mas-Mas Pembina Salman lainnya :) lumayan kan? dan sekarang sudah mulai merambah ke tukang fotokopian, tukang bakso, tukang.. ;p hehe, still along way to go.. Jadi maaf, kalau ada 'orang tua' yang tersinggung saya panggil nama langsung, mohon dimaafkan..


[ditulis karena teringat pada penghuni baru rumah kami yang bingung harus aku panggil apa.. haruskah kuikuti jejak adikku yang memanggilnya:"wong iku" halaah..]