Monday, June 20, 2005

< Just ....>

7/23/2004 7:01 PM
Last Edited :6/16/05 10:03:28 PM


/* kejahatan terencana (?)

Sakti Wibowo bilang bahwa menikah adalah suatu keajaiban ..
Kalo aku bilang.. ya nggak tahu lah..
Wong aku belom pernah menikah.. hehe..
Tapi , sejauh yang aku lihat ya memang ajaib =)
Bagaimana tidak..
Dua jiwa dalam dua badan bisa dilebur menjadi satu ..
Atau apalah.. pokoknya istilahnya semacam itu
Aku nggak ngerti

7/26/2004 4:01:31 PM
plus edited :6/16/05 10:05:18 PM

yup
setelah beberapa hari ga nyentuh komputer , akhirnya ..!!
ada juga kesempatan buat nerusin tulisan yang di atas
tapi kayaknya, dah ga nyambung lagi dengan arahan semula deh,
dah beda sikonnya..
ga pa pa yah, habis gimana lagi?
yang penting nulis
yok ! Ganbatte kudasai


apa yah .. sebenernya, aku bingung mo nulis apa, hehe.. kan dah aku bilang kalo aku ga punya pengalaman pribadi.. tapi kalo pengalaman hasil pengamatan sih ada..
nikah itu memang ajaib
suatu kali, pas liburan, aku maen ke rumah temen sekelasku yang tinggal di Bekasi, kebetulan kakaknya yang baru menikah juga lagi ada di sana. Suaminya yang biasanya kuliah di luar negeri pun sedang liburan. Lengkaplah keluarga mereka, plus satu tamu tak diundang.. (*aku..) hehe,..

Nah, besoknya, aku dianterin ke tempat keluargaku di Jakarta dengan mobil. Sekalian nganter ipar temenku itu belanja oleh-oleh buat balik ke LN. Mbak Ren, nama mBaknya temenku itu, yang megang kemudi. Soalnya, Kak Din, suaminya, ga bisa nyetir. Padahal mBak Ren kan lagi hamil muda tuh. Wajar aja kalo beliau lemes dan mudah marah. Udah githu, malah harus nganterin dan nunggu Kak Didin ngurus titipan ini itu buat temen-temennya di LN. Pfuuh, ditambah suasana Jakarta yang emang panas itu, lengkaplah pemicu kekesalannya. Yah, rada marahan gituh ceritanya. Ampe mBaknya ngomong, “Mas, cepetan belajar nyetir napa? Kan kalo gini aku yang capek.. “ (*sory, aku lupa redaksionalnya yang pas.. ) Suasana jadi rada getas (*waduh, nggak enak banget ada di sana saat itu..hikz.. aku dan Ra temanku, plus Yu, adiknya nomor dua yang duduk di jok belakang cuma bisa nyengir doang.. ) Sebenernya temenku dah nawarin nggantiin nyetir.. cuman, terus terang aku lebih milih disetirin ma Mbak Ren yang marahan dari pada disetir Ra.. Bisa ghazwat! Orang ngga’ ada angin ngga’ ada badai aja dia nyetirnya bisa akrobatik kok.. =P (*sorry, Ra.. b’chanda kok… Aku tau kamu jago maen Underground..)

Ya gitu deh.. Ajaibnya, eh, pas Kak Dinnya pamitan pergi ke tempat tujuannya, mBak Renanya malah senyum..
Tiba-tiba wajahnya yang sedari tadi merengut ilang gitu ajah.. bahkan pake salaman cium tangan segala.. kayaknya aktris paling hebat pun ngga’ bisa berakting semacam itu.. Whehehe.. sekarang ganti Ra yang protes.. “Ih.. mBak.. tadi marah-marah.. kok sekarang senyum-senyum sih?”
mBaknya hanya senyum, menyeloroh..”Makanya Ra, cepetan nikah.. biar tau.. berantem itu bumbunya rumah tangga lagi, de’.. “

Aneh banget.. hihihihi…


….Moga Jundi kecil kalian ‘kan jadi cahaya bagi negeri ini …..
Barokalloh!




Banyak yang Ingin Ditulis...

... mungkin malam ini ,
kan jadi saksi ....

REcharGE

Barangsiapa yang menyadari akan kematian, maka segenap musibah dan kerisauan dunia akan terasa kecil baginya.

(Al-Ghazali)

<<>>

6/16/05 6:54:33 AM

Hm, kalo aqu perhatiin.. postinganku akhir-akhir ini kok soal nikah mulu si?
Hiks..
Sebenernya itu tulisan-tulisan lama yang udah pernah dipublish di blogku yang laen, (*yang sekarang nasibnya udah ngga’ aktif )
Dari pada numpuk ga guna, mending dijadiin satu disini , ya tho?
Tapi… awas berviruuusss….
Hehehe..
<< THE SHADOW >>

...nEvEr EvEr surrEndEr...
<< A SHORT STORY >>

...nEvEr EvEr surrEndEr...

A MEmoRY

à memory,3/9/2004 10:41:02 PM

Tapi aku tahu ada yang hilang
Sedikit jiwa di sudut jalan panjang
Sebuah persinggahan dikala lara
Dan perhentian dikala lelah
Aku bingung,
Pantai ini untuk siapa
Atau ada mentari kedua?
Atau bulan kembali terbelah?
Bintang enggan bercanda…
Ada banyak kebodohan – kebodohan sudah dibuat
Tak akan hapus biar berjejak
Tak sembuh luka di awang-awang
Seperti lukisan nyata
Karya termegah
Puisi setentang mentari
Berani mati
Tertusuk duri ..
Kesakitan ini tak kan mendua
Dia raja
Dalam raga
Dalam jiwa

aku ragu dan ragu lagi
masihkah ada harap tersisa
di puing istana kita
esok aku akan berlari ke sana..
membawa sejumput rindu
dan rasa kehilangan
yang bersandar di tiang pancang
aku torehkan sebaris luka inidalam larik – larik tanpa seri
seperih hujan bulan Desember
yang tak pernah lupa memberi kecupan
anak gerimis dirundung cemburu
segala kering cinta di ujung jari
kusalurkan di tajam mata pena ini
darahku adalah tintanya
nafasku adalah nafasnya…
aku rindu pulang
ke rumah kita,
hanya ke rumah kita..
atau tiada lagi salam menunggu di balik pintu?
aku tergugu (oh haruskah?)
aku tuliskan semuadengan hati patah (..)
dan mata hati jengah ,
enggan mengalah
pada separuh diri
aku takkan memetik bintang
karena bintang itu sudah pernah bersinar
di hati kita,di hatimu
atau masih tak percaya ?
segala ragu
ingin ku kirim padamu
karena begitu yakinku
kokohmu kan leburkannya jadi debu
ah..
resah ini tiada pelabuhan !
bidadarinya enggan jejak bumi
rasa sakit tinggalkan nyeri
menusuk tiada henti..berat ,
lebih berat,makin berat,
atau paling berat ?
dengan segala kesah
dan keluh yang tak bermuara
akan gundahku yang berkelana
menjemput sepotong do’a
tanpa nyawa

-qit-

==

lama, dikubur masa

Anis Matta Bilang..

Mencintai itu Keputusan
Oleh : Anis Matta

Lelaki tua menjelang 80-an itu menatap istrinya. Lekat-lekat. Nanar. Gadis itu masih terlalu belia. Baru saja mekar. Ini bukan persekutuan yang mudah. Tapi ia sudah memutuskan untuk mencintainya. Sebentar kemudian ia pun berkata, “ kamu kaget melihat semua ubanku? Percayalah! Hanya kebaikan yang akan kamu temui di sini.” Itulah kalimat pertama Utsman Bin Affan ketika menyambut istri terakhirnya dari Syam, Naila. Selanjutnya adalah bukti.
Sebab cinta adalah kata lain dari memberi... sebab memberi adalah pekerjaan... sebab pekerjaan cinta dalam siklus memperhatikan, menumbuhkan, merawat, dan melindungi itu berat... sebab pekerjaan berat itu harus ditunaikan dalam waktu lama.. sebab pekerjaan berat dalam waktu lama begitu hanya mungkin dilakukan oleh mereka yang memiliki kepribadian kuat dan tangguh... maka setiap orang hendaklah berhati-hati saat mengatakan, “Aku mencintaimu.” Kepada siapa pun!
Sebab itu adalah keputusan besar. Ada taruhan kepribadian di situ. “Aku mencintaimu,” adalah ungkapan lain dari, “Aku ingin memberimu sesuatu.” Yang terakhir ini juga adalah ungkapan lain dari ,”Aku akan memperhatikan dirimu dan semua situasimu untuk mengetahui apa yang kamu butuhkan untuk tumbuh menjadi lebih baik dan bahagia... aku akan bekerja keras untuk memfasilitasi dirimu agar bisa tumbuh semaksimal mungkin... aku akan merawat dengan segenap kasih sayangku proses pertumbuhan dirimu melalui kebajikan harian yang akan aku kulakukan padamu... aku juga akan melindungimu dari segala sesuatu yang dapat merusak dirimu dan proses pertumbuhan itu...” Taruhannya adalah kepercayaan orang yang kita cintai terhadap integritas kepribadian kita. Sekali kamu mengatakan kepada seseorang , “Aku mencintaimu,” kamu harus membuktikan ucapan itu. Itu deklarasi jiwa, bukan saja tentang rasa suka dan ketertarikan, tapi terutama tentang kesiapan dan kemampuan melakukan pekerjaan-pekerjaan cinta: memperhatikan, menumbuhkan, merawat , dan melindungi.
Sekali deklarasi cinta tak terbukti, kepercayaan hilang lenyap. Tak ada cinta tanpa kepercayaan. Begitulah bersama waktu suami atau istri kehilangan kepercayaan kepada pasangannya. Atau anak kehilangan kepercayaan kepada orang tuanya. Atau sahabat kehilangan kepercayaan kepada kawannya. Atau rakyat kehilangan kepercayaan kepada pemimpinnya. Semua dalamsatu situasi : cinta yang tidak terbukti. Ini yang menjelaskan mengapa cinta yang terasa begitu panas membara di awal hubungan lantas jadi redup dan padam pada tahun kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya. Dan tiba-tiba saja perkawinan bubar, keluarga berantakan, persahabatan berakhir, atau pemimpin jatuh karena tidak dipercaya rakyat.
Jalan hidup kita biasanya tidak linear. Tidak juga seterusnya pendakian. Atau penurunan. Karena itu konteks di mana pekerjaan-pekerjaan cinta dilakukan tidak selalu kondusif secara emosional. Tapi di situlah tantangannya: membuktikan ketulusan di tengah situasi-situasi yang sulit. Di situ konsistensi diuji. Di situ juga integritas terbukti. Sebab mereka yang bisa mengejawantahkan cinta di tengah situasi yang sulit, jauh lebih bisa membuktikannya dalam situasi yang longgar.
Mereka yang dicintai dengan cara begitu, biasanya merasakan bahwa hati dan jiwanya penuh seluruh. Bahagia sebahagia-bahagianya. Puas sepuas-puasnya. Sampai tak ada lagi tempat untuk yang lain. Bahkan setelah sang pencinta mati. Begitulah Naila. Utsman telah memenuhi seluruh jiwanya dengan cinta. Maka ia memutuskan untuk tidak menikah lagi setelah suaminya terbunuh. Ia bahkan merusak wajahnya untuk menolak semua pelamarnya. Tak ada yang dapat mencintai sehebat lelaki tua itu.

-- Menyadap sepotong asa dari Pohon Tarbawi, Februari pekan perdana --
Selamat kepada Anda semua yang telah memutuskan untuk ‘MENCINTAI’, tidak sekedar mencintai... hingga yang ada hanyalah : “Aku akan memperhatikan diriMU dan semua situasiMU untuk mengetahui apa yang KAMU butuhkan untuk tumbuh menjadi lebih baik dan bahagia... aku akan bekerja keras untuk memfasilitasi diriMU agar bisa tumbuh semaksimal mungkin... aku akan merawat dengan segenap kasih sayangku proses pertumbuhan diriMU melalui kebajikan harian yang akan aku kulakukan padaMU... aku juga akan melindungiMU dari segala sesuatu yang dapat merusak diriMU dan proses pertumbuhan itu...”
Dan ternyata... MU di sini adalah MU yang sungguh tak butuh apa-apa dari kita. Kitalah yang membutuhkanNYA. Selamat! Selamat buat Anda semua yang memutuskan untuk MENCINTAI-NYA, kekasih sejati kita!

SEbuah PErtanyaan


Ada sebuah pertanyaan yang cukup menarik,
Pada suatu rel kereta api yang bercabang dua, bermainlah sekelompok anak,16 anak bermain pada jalur kiri yang masih aktif dilalui kereta api, 1 anak bermain sendirian pada jalur kanan yang sudah tidak terpakai lagi.di ujung percabangan yang membagi jalur menjadi dua ada sebuah tuas yang dapat memindahkan jalur kereta api dari kiri ke kanan.Tiba-tiba suatu kereta dengan kecepatan tinggi melaju menuju arah percabangan itu dan tentu akan melalui jalur kiri yang biasa dilewati. Celakanya disana adalah tempat 16 anak tersebut bermain. Jika kita berada di dekat tuas yang dapat memindahkan jalur kereta api dari kiri kekanan, apa yang akan kita lakukan? Akankah kita menarik tuas untuk menganti jalur menjadi jalur kanan yang disana terdapat 1 anak saja? Atau kita akan membiarkan kereta melalui jalur kiri dimana terdapat 16 anak?
Kebanyakan orang akan memilih menarik tuas itu dan mengorbankan 1 anak yang berada di jalur kanan. tapi, tepatkah apa yang dilakukan itu? Coba kita lihat dari persepsi setiap pihak yang ada dalam kasus tersebut.
Jika kita anak yang sendirian di jalur kanan: apa yang kira-kira ada dibenak kita? mungkin seperti ini, saya berada pada jalur yang aman, TIDAK AKAN ADA kereta yang menabrak saya. saya bisa bermain sepanjang hari dengan tenang dan aman, karena saya berada pada jalan yang benar. Lalu tiba-tiba saya tertabtak kereta yang seharusnya tidak melalui jalur yang saya tempati.
Jika kita satu dari 16 anak yang di jalur kiri:saya tahu jalur ini berbahaya, tapi disini banyak teman saya, saya pasti tidak apa-apa. kalau terjadi apa-apa selalu ada teman saya yang menanggungnya bersama saya. saya selalu cemas kalau terjadi sesuatu saat saya bermain pada rel yang berbahaya ini.Setelah jalur rel diganti:hari ini ternyata aman, besok saya bermain ditempat yang sama saja, toh tidak terjadi apa-apa. kereta ternyata tidak melalui jalur kiri.
Jika kita penarik tuas:saya bingung, apabila saya tarik, anak yang tidak bersalah akan mati padahal dia benar, tapi jika tidak saya tarik, banyak anak-anak yang POTENSIAL benar (meskipun saat ini masih salah) akan mati.
Sahabat beginilah hidup, terkadang kita salah mengambil keputusan, kita mengorbankan orang-orang benar-benar mau berjuang dalam kebenaran. dan kita mendukung yang bersalah. Maafkan saya jika saya menyia-nyiakan kebenaran dan perjuangan kalian...
(sumber anonymous)

Hm, mungkin aku masi termasuk orang yang bakal ….

(Calon) Suamiku : part2

6/16/05 12:22:28 AM YUPPPPHHH..

Nyambung neeh… kebetulan barusan habis ngomongin hal setema dengan yang di atas ituh! Hehe, yang di atas teh nulisnya kapan .. disambungnya kapan.. Ah.. wiyos lah!
Asrama Putri Kanayakan, ba’da maghrib, ex – ruang makan
+ Teh.. teh.. memangnya kalo Teteh liat, saya cocoknya sama orang yang tipenya kayak gimana?
- Walah.. kok nanya githu? Memangnya kamu mau nikah?!?
+ Lho.. orang cuman nanya kok .. udah lama nee ga introspeksi diri..hehe
x Yang setia!
+ Hwo..?!?!
- Iyah … is mah kayaknya perlu sama orang yang setia
+ (manggut-manggut)
x (ketawa)
- iya ih.. jadi inget Kakak.. Kakakku kan setia banget!
x oh iyah?
- iya.. pas SPMB aja saya ditungguin sampai selesai.. sampai ke air aja ditungguin di depan pintu.. dijagain… kangen ih!
x itu aja buat is!
+ - x (KETAWA ngga’jelas..)
- Eh! Tapi jangan euy! Ntar kasian Kakakku..
+ iyah.. pagi-pagi dah ku teriakin : DAH MASAK BELOM? CUCIAN? MANA INI.. MANA ITU…. Hahaha… orangnya kan alus banget!
- makanya jangan sampe deh! Kasian ntar Kakakku!
x hehehe…. Iya!
+ Teh.. saya nanyanya serius! Emang, kalo menurut sudut pandang teteh, pasnya saya dengan orang yang kayak gimana…
- yang jelas ikhwan..
+ iya lah.. mana ada akhwat yang mau sama saya .. hehe..
-ehm, is itu ya.. hm, gimana ya.. kamu itu orangnya harus… emm…
+ ????
-susah… yang jelas harus orang yang lebih kuat dari is
+ ???
+ hahhaha.. maksudnya biar kalo is males bangun subuh tinggal tuing .. diciduk make jari tengah sama jempol.. trus dilempar ke kamar mandi gitzu?
x ho?
- ya ngapain.. maksudnya biar dia manggil satpam trus ndeportasi kamu ke air.. =( maksudnya, lebih kuat keteraturannya… lebih tegas…
+ ;P bisa lebih real lagi ga.. ga kebayang ..contoh sapa githu… ato.. yang orangnya segalak Umar yah?
-hm, bukaaan… tipe-tipe ‘Ali kali yah..
+ hehehe.. saya jarang banget baca shiroh sahabat… tahunya saya, ‘Ali tuh pinter, tegas juga .. yah.. stadium galaknya di bawah Umar sih.. hehe.. parah ya.. nggak ngenal shahabat..hm, ‘Ali.. ‘Ali…
- kita paling tahunya sahabat ya sekedar yang diceritain aja, ngga’lengkap..
+ iya iya.. Kenapa Rosul justru mempercayakan Putri Kesayangannya pada ‘Ali ?!?
+++ hehe.. dan buyarlah forum sekaligus pertanyaan awal yang kulempar…
= = =

‘apa iya? Jadi yang seperti ‘Ali, toh ..
di luar hujan, masih seperti semalam .. tapi tidak mimpiku..