Wednesday, October 31, 2012

Hujan dan Badai

Tuhan, aku menangis
Patah hati
Saat aku meminta hujan
Dan Engkau memberiku badai


Setelah aku kehilangan semuanya
Aku jadi sanggup melakukan apapun

Dan aku tersenyum
Syukur
Atas kekuatan dan dikuatkan
Walau masih terus menangis

Rindu pelangi....


Suatu hari suatu tahun antara 27 Sept dan 27 Okt

Thursday, September 27, 2012

The Tie

When to be happy is a struggle you must conquer,
then you know you are ALIVE....




Thank You, Allah..
I know You hold my dreams, still..
And I shall never lose heart....






Di pelataran surgaNya, kelak, kita kan bertemu kembali
untuk pertama kali dan selamanya, insyaAllah...

~FmGA

Friday, August 31, 2012

Takdir (?)

Tadi sore lewat jendela messenger adik saya mengabarkan sebuah berita kecil, lengkap dengan ikon cengirannya yang selebar dunia: telah mampir ke rumah (orang tua saya) sebuah kartu ucapan selamat Idul Fitri dari seseorang yang sebut saja bernama mbak Muti (mungkin nama sebenarnya), eks teman sekamar di asrama dulu. Kabarnya lagi, itu kartu super unik luar biasa: diduga dan disangka kartu tersebut dibuat oleh anak kecil (yang saya duga dan saya sangka adalah anak mbak Muti sendiri.. eh salah, anak mbak Muti dan suaminya.. Nggak mungkin kan kalo mbak Muti sendiri bisa punya anak? #Eh...) Ya pokoknya begitulah, saya tak sabar ingin segera melihat  wujud kartu ajaib tersebut. Mudah-mudahan masih ada saat saya pulkam nanti...

Yang membuat saya menuliskan tulisan ini, adalah secuil info tambahan dari adik saya: itu kartu SALAH ALAMAT! Bentul sengkali sowdarah sowdaraaah! SALAH ALAMAT! Bukan alamat palsu! (emangnya saya ayu tuing tuing?)

Ceritanya, saya yang dudul ini mengacaukan alamat rumah (orang tua saya) dengan alamat kosan saya waktu mengisi data base asrama. Tapi kenapa tetap bisa nyampe ke tangan orang rumah saya?!? Nah itulah misteri Ilahinya..

Rupanya Pak Pos menafsirkan Jalan Kebon Bibit NO. XX yang nota bene alamat asli kosan saya di Bandung sebagai sebuah perusahaan tempat pembibitan tanaman di daerah tempat tinggal saya. Nyasarlah surat itu ke sana. Padahal sungguh hidup, hal itu tidak ada kaitan fisisnya sama sekali dengan rumah (orang tua) saya. Tapi karena Bapak sering ada urusan "bisnis" yang mengharuskan pergi ke PT Pembibitan tersebut, entah bagaimana, nyampe juga itu surat ke tangan Bapak saya. Voila..

Rizqi..
Yang sudah menjadi bagianmu, akan menjadi bagianmu
Tak kan tertukar, insyaAllah


P.S. Salam rindu untuk semua crew Asrama, terutama Muthie dan Si Kecilnya yang lucu.. 

Wednesday, August 15, 2012

riBeut

Kalian bisa menjadi apa saja dan siapa saja. Tapi kalian tidak bisa menjadi aku. Hanya aku yang bisa menjadi diriku sendiri. Seperti halnya aku tidak bisa menjadi kalian.. Halah.. 

Wednesday, July 25, 2012

Engkau Bertanya Tentang Cinta?


Jadi engkau bertanya tentang cinta?
Cinta itu seperti kepak sayap kupu-kupu, Anakku..
Sederhana seperti hembusan nafasmu
Tapi ianya sanggup getarkan titian baja
Yang aku curiga, 
Ia pertama recah, antara Kaf dan Nuun...

Thursday, July 19, 2012

Satu Hari di Pasar Baru

Ini adalah kejadian pendek yang sangat sederhana, namun menyentakkan saya. Sudah lama sekali saya ingin menuliskan cerita ini. Tapi apa daya, malas itu lebih berkuasa = =" Duh.. Karena saat ini saya menuliskannya dengan kondisi perut kosong melompong, jadi harusnya saya masih bisa menghayatinya.. (Background: biola menyayat-nyayat. Halah..)

Saya sedang mengantarkan teman saya dari Malang berburu oleh-oleh di Pasar Baru, saat seorang pedagang tas keliling itu mendekati kami dan mencoba menawarkan dagangannya. Pedagang ini kelihatannya sudah cukup berusia, namun dunia mengajarkan saya satu hal: Jangan pernah percaya begitu saja dengan permainan garis dan warna di wajah orang-orang jalanan. Karena waktu seringkali berbuat licik dan diam-diam menambahkan jejak di usia yang tidak mereka jalani. Jadi saya taksir mungkin masih sekitar usia adik saya yang ke-dua. Dia kelihatan lega saat teman saya menunjukkan ketertarikan pada dagangannya,  memutuskan untuk berhenti dan melihat-lihat. Tawar-menawar pun terjadi. Cukup alot. Saya lupa angka tepatnya, tapi tas yang asalnya 20 ribuan itu telah turun harkat dan martabatnya ke angka 15 ribuan. Di sinilah masalah menjadi liat. Teman saya keukeuh minta harga 13 ribu. Sedangkan pedagang itu bertahan di angka 14 ribu. 

Setelah serangkaian bharatayudha, dengan berat hati, dan suara agak lemah, sang pedagang pun akhirnya melepas tas itu dengan harga 13 ribu. Saya yang dari awal memang hanya berperan menjadi pengawal tanpa skill perang harga, hanya trenyuh dan terkagum-kagum dengan adegan perang kilat yang menunjukkan kelihaian kedua belah pihak nan fantastis itu. Tepat saat teman saya merogoh tas untuk membayar tas tersebut, datanglah seorang pengamen semi peminta-minta (if you understand what I mean). Teman saya pun membayar belanjaannya, mendapat kembalian, sambil memilih tas yang akan diambilnya. Pengamen itu pun menodongkan mesin kasirnya (if you know what I mean). Teman saya dan saya sendiri sudah seperti cacing habis digelitikin semut merogoh semua saku dan dompet yang mungkin menjadi persembunyian benda bulat dari logam yang biasanya diberikan kepada orang-orang yang berprofesi demikian. Tapi nihil. Akhirnya teman saya pun memberikan uang kertas dua ribu kembalian pedagang tadi. OH, IF YOU SEE WHAT I SEE.. Saya melihat ada perasaan yang tak bisa saya lukiskan dengan kata-kata di mata pedagang tadi. Pundaknya yang turun, dan wajahnya yang mendung cukuplah meruntuhkan haru di hati saya. Setiap ribu rupiah yang dia perjuangkan dengan mati-matian, ternyata bisa begitu mudahnya didapatkan orang lain yang modalnya sungguh sederhana (jika saya bilang tanpa modal itu dianggap terlalu kurang ajar.) Saya hanya menjadi saksi tak berguna di sana, tapi saya pun mendapatkan bagian perasaan bening itu...

Ah, ingatlah wahai tiap inci tulang yang menegakkan tubuhku..
Wahai tiap tetes darah yang berhutang budi pada hidup,
Engkau ditumbuhkan dari sari pati makanan yang didapatkan dari pertempuran demi pertempuran semacam itu...
Dalam dirimu ada hak yang bukan milikmu...
Ingatlah selalu, ingatlah selalu...




#Ditulis sembari mendengar indahnya melodi perbedaan ide sidang orang-orang bijak bestari di tivi ini... Ditinggalkan dengan janji akan mengeditnya saat otak sudah lebih jernih. Wangsul rumiyiin..

Wednesday, July 18, 2012

Today is...

Hari ini nyengajain diri pulang lebih awal dari biasanya, dengan niat bulat mau beresin "orderan" orang-orang.. Mudah-mudahan selamat sampai di tempat.. Haha.. *blogging juga salah satu side job kok jadi it's okay* halah

Wednesday, June 20, 2012

Setengah Delapan

Setengah dari delapan tidak selalu berarti empat.
Kadang ianya adalah tiga, atau bisa juga nol.
Tergantung bagaimana kita membaginya.

Mungkin begitu juga hidup ini.
Ada banyak cara untuk memahami takdirNya...

Information is Power

"Browser Anda tidak lagi didukung oleh Blogger. Beberapa bagian Blogger tidak akan berfungsi dan Anda mungkin mengalami masalah.
Jika Anda mengalami masalah, coba Google Chrome. | Tutup"

Ow ow...

Begitu ternyata :)

Mungkin memang benar..
Kekuasaan itu cenderung korup.
Dan kekuasaan nyatanya toh tidak hanya melulu tentang politik.

Di sini pun "kekuasaan" mulai menunjukkan hegemoninya.

 

Obrolan Para Hari

Berkata Pagi kepada Petang: "Engkau masih terlalu muda"
dan Pagi pun melenggang menenteng Matahari di tangan kirinya
Lalu ketika Waktu terjaga dan Matahari menangis kelelahan,
Petang hanya menatap sendu, "Umurku sudah purna..."

Bukankah begitu Hari-Harimu, Anak Muda?
Semua seperti mimpi yang mampir silih ganti, bukan?

Sampai Takdir mempertemukanmu dengan Dia