Sunday, March 18, 2012

I Need Kagebunshin!

Again.
This feeling's kind of creepy.
This feeling..
When I look at my blog wall and stuck with this boring template

LOL

Oh God, when will I make time to overhaul this blog?

My New Passion?

Setelah lama membiarkan blog ini membatu dan memfosil (ciaah!) akhirnya saya ngidam nulis-nulis juga. Kali ini, tentang kegemaran baru saya di dunia per-make up-an. Eits, bukan berarti saya jago dandan lho ya? Justru sebaliknya. Sebagai katakecil yang telat puber (*sigh*), udah terkenal banget kalo saya ini orangnya selebor bin ajaib. Jangankan pake standar make up minimalis yang versi menjaga kesehatan kulit tea, pake bedak pun saya ogah! Tapi semua berubah sejak negara api menyerang (lho?).

Berawal dari tersandungnya saya pada salah satu merek lokal yang dikampanyekan dalam sebuah seminar kemuslimahan di kampus saya, saya pun mulai melirik kemungkinan bahwa di dunia ini ada makhluk bernama bedak. Ehem. Tapi melirik saja lho ya. Lalu, dua tahun kemudian (yup, Anda tidak salah baca!) saya pun mengikuti beauty class yang diadakan produsen tersebut. Dan mulailah minat terpendam saya menunjukkan batang ekornya. Ya, saya tertarik dengan dunia make up artist. Bukan hanya karena ingin, tapi juga karena butuh!

Butuh. Itu dia. Sebagai seorang dengan "pilihan-pilihan" khusus seperti saya (cara berbusana, cara berias, dst) saya membutuhkan "kebebasan berekspresi" yang sesuai dengan pilihan saya tersebut. Misal, saat suatu acara dan tidak ingin make up yang terlalu tebal tapi ternyata kepentok dengan make up artist berdarah seniman yang tak mau diganggu gugat; atau kita tidak mau mencabut alis tapi perias keukeuh sureukeuh mengatakan bahwa alis kita harus dipangkas demi keestetikaan nasional; atau kerudung kita disulap jadi bunga mawar.. (euh, bisa ya?) Ya, semua yang saya sebutkan itu adalah masalah nyata yang seringkali ditemui. Dan saya tidak mau mengalaminya.

Maka saya pun mencoba berbuat; kecil memang; dan baru untuk diri saya sendiri dulu. Hihi. Walaupun masih acakadut dan seringkali malas.. Setidaknya, saya mulai belajar untuk belajar (waduh, mbulet nya..). Saya mencoba belajar dari tutorial di YouTube ataupun blog yang membahas trik dan info tentang make up. Memang, paling simple dan mudah ternyata adalah dengan mengikuti jejak para blogger yang mendedikasikan dirinya terhadap dunia ini. Malah banyak di antaranya yang suka memberikan give away juga.. (silakan langsung meluncur ke blog LovelyLueLue, XiaoVee, atau DiaryofroductJunkie untuk mengetahui salah satunya).

Harus saya akui, dunia tata rias ternyata tidak semudah itu dipelajari. Tapi karena rasanay sudah menjadi bagian dari passion saya, (ya, ini adalah bentuk lain dari melukis! Pada kanvas yang super unik!) saya akan berusaha terus menapaki jalan ini. Ganbatte! Banzaaai..! *,* Hehe..

Yups, I found this interesting!

Follow my blog with Bloglovin

Friday, January 13, 2012

Biar Bibir Tidak Mudah Kemarau

Pernah tersiksa dengan bibir kering kerontang *lebay*?
Saya sih sering =,="
Maklum, udara Bandung yang dingin kadang membuat saya malaaas sekali minum.
Jadi, ya.. begitulah.. :D Terpaksa mencari "jalan lain" untuk menyelamatkan bibir dari kekeringan yang bikin tidak nyaman, bahkan kadang sampai perih itu. Setelah sekian lama berkelana ke seluruh penjuru dunia, ternyata untuk mencegah bibir pecah *kayak gelas aja!!* ini caranya sederhana pisan.. Berikut adalah hal yang pernah saya lakukan, dan rasanya sih cukup berhasil:

  1. Pakailah lip balm sebelum tidur. Jika tidak ada, bisa diganti dengan minyak zaitun atau madu. Yang paling penting: harus teratur!
  2. Kalau sel kulitnya sudah banyak yang mati, bersihkan dengan lap khusus yang bahannya lembut. Jangan terlalu sering juga, nanti jadi makin sensitif dan lebih rawan iritasi.
  3. Pijat daerah atas dan bawah bibir dengan cara dijepit oleh dua jari tangan kanan dan kiri bergantian, yang digerakkan ke arah luar beberapa kali agar peredaran darahnya lancar.
  4. Kalau habis makan pedas, usahakan tidak membuat bibir terluka/ terkena zat yang sifatnya keras, karena kulitnya menjadi lebih sensitif.
Saya yakin semua sudah tau hal-hal di atas. Yang jadi masalah adalah bagaimana merutinkan perawatannya XD
Yeah..

"Drunken" Katakecil dan Masjid

Entah kenapa, setiap kali saya ‘bertemu’ dengan masjid baru, ada-ada saja hal konyol yang terjadi. Tidak semuanya selalu saya ingat, memang. Tapi kalau diingat-ingat, banyak juga hehehe. Semoga ini tidak menandakan bahwa saya tidak berjodoh dengan masjid (hiks..). Well, yang saya ceritakan di bawah ini tidak selalu tentang masjid yang masjid (nah lho.. bingung kan?) tapi juga tentang mushola. Kalo nggak salah, masjid itu definisinya yang digunakan untuk sholat Jum’at juga, sedangkan mushola hanya digunakan untuk sholat saja, tidak dipergunakan untuk jama’ah sholah Jum’at. CMIIW. Pokoknya di sini mah disamain aja lah…

Konyol 1: Salah Masuk

Entah sudah berapa kali, dan di mana saja, saya lupa. Yang masih segar di ingatan saya adalah waktu saya mau ikut suatu pengajian waktu SMA di sekolah lain. Setelah tanya-tinyi akhirnya nampaklah juga itu masjid sekolah. Ucluk-ucluk, setelah setengah mengitari masjid, nampaklah ada pintu yang terbuka. Langsung masuklah saya sambil salam. Heu.. Saya pikir apa saya datangnya kepagian ya, kok isinya ikhwan semua…? Dan para ikhwan itu pun melihat dengan pandangan aneh sembari menyuruh saya ke ruangan sebelah (eh apa ngusir saya yak? Ndak tau lah...). Dengan tampang penuh dosa (haatchiing!) pindahlah saya. Huahaha.. setelah masuk ruang sebelah baru saya tau kalo ruangan masjidnya dipisah.. Dan saya salah masuk ke pintu ikhwan..! (untung saya nggak pernah SKSD tiba-tiba gabung duduk ke majelis mereka.. huahaha.. yaa.. walaupun tampang saya.. yaaa.. ganteng juga siih.. haaatchiing!).

Konyol 2: Salah Tempat

Kalo yang di atas kan kejadiannya memang di sekolah lain. Wajar lah. Kalo yang ini… di perpustakaan kampus!!! Udah anak kuliahan! Alah mak! Ceritanya, setelah lama tidak ke kampus, hari itu saya sedang ketiban ilham harus ketemu pembimbing tugas akhir. Lalu mampirlah saya ke perpus yang tadinya mirip kakus tapi sekarang sudah lebih bagus itu. Buat apa? Yang jelas bukan untuk minjem duit. Karena kalo mau minjem duit ya ke bank aja. Bangsanya bank Amir, bank Beni, bank Candra, etc.. (sudah mulai tewur....).

Pokoknya saat itu saya kebelet mau sholat dhuha aja (kekekeke, tumben!) maka saya pun melenggang dengan kangkungnya (?) ke basement perpus yang dulunya adalah tempat nongkrong anak-anak TPB tapi da sekarang eh saat itu mah sepi. Karena saya masih ada wudhu, saya pun dengan pedenya langsung ke tempat yang jelas-jelas nampak sebagai mushola baru yang luas dan bersih dan berkaca-kaca itu (lebay). Setelah memarkir tas bawaan saya di shaf paling belakang, saya celingak-celinguk merasa mushola luas ini kok tidak ramah jama’ah wanita: tidak ada satu pun mukena selain satu butir sarung yang tidak berani saya periksa kehalalan dan kandungan karbon dioksidanya (tewur lagi). Ya sudah, akhirnya saya siap-siap takbiratul ihram. Hmm, mushola jam segini memang sepi, tapi auranya aneh.. bukan karena ada penampakan burger gratis atau nyai kunti bermukena putih.. tapi karena entah kenapa bapak-bapak yang baru masuk dan sudah bersiap sholat tadi sempat-sempatnya memalingkan muka padaku, kayak terkejut gitu. Uh…? Kenapa ya? Bae lah.. Saya pun sholat dengan seadanya (belum bisa sholat khusyu’ kayak kalian lah intinya, tapi sholat katakecil sama kok: diawali dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam, tanpa selingan loncat-loncatan). Gubruk gubruk gubruk.. beres.. berdoa.. beres… lalu dipikir-pikir, sayang juga kalo pergi ketemu dosen sekarang. Bentar lagi juga udah adzan. Males kalo ntar harus wudhu lagi, nyari tempat sholat lagi, dsb, dst, dll, dkk.

Lalu saya memutuskan menunggu dhuhur sambil entah ngapain saya lupa (*nggak berburu ikhwan lhoo.. sumpah! Nggak pernah denger ada ikhwan kampusku hilang diculik makhluk semacam cebong kan?*). Tapi aura kian aneh itu kembali menyergap. Saat beberapa ikhwan masuk, udah mau dhuhur, mereka menatap saya dengan pandangan yang berbeda. Terpana beberapa detik; pastinya bukan karena saya semanis jembatan ancol atau gimana lah, tapi karena sebab yang saat itu belum saya ketahui. Andai tahu, mungkin saya memilih makan pisang goreng di kantin sebelah saja dari pada malu hahaha.. (gak nyambung). Pokoknya, datanglah adzan dan saya pun ikut berjama’ah. Saya cuek katak walaupun terbetik tanya: lho, kok perempuannya saya sendiri?

Wes hewes hewes, sholat jama’ah dan seterusnya sudah beres. Saya pun keluar mau melanjutkan hidup saya. Baru beberapa langkah keluar mushola dan kaki saya pun lemes seperti kerupuk direndam larutan kalium sulfat dua setengah molar (belum pernah ada percobaannya sih..). Pokoknya lebih kaget daripada saat kalian mendengar berita Ledi Dai wafat deh. Dugh! Betul. Saya melihat tulisan tak berdosa di atas pintu di gang sebelah: WC/Mushola Khusus Wanita!!!! Huwaaa…?!?! Jadi? Jadi? Jadi…? Dari tadi itu sayaaa… oh nistaaaaa!!!!

Betul sodara-sodara! Saya baru ingat kalau di basement ini ada mushola khusus wanita, yang telah menjadi TKP kejadian konyol ke-tiga beberapa tahun sebelumnya.

Konyol 3: Salah Hadap

Bukan berarti dari seharusnya menghadap ke Alloh jadi menghadap ke iblis lho ya.. bukan..

Ini ceritanya saya habis praktikum, jaman saya masih anak bawang hijau (ada gitu?). Pokoknya saya masih fresh kinyis-kinyis from the lab. Jam udah menunjukkan angka lima, dan saya belum sholat ashar =,=” Maka, begitu memasuki mushola khusus wanita langganan saya (kali ini saya yakin lokasinya benar), saya langsung menaruh kaki saya di garis start, eh, maksudnya di bagian sajadah untuk kaki. Karena saking khusyu’nya mengejar waktu, saya tidak mengindahkan perasaan aneh yang baru saja menimpa jidat saya di mushola yang kosong itu. Bae lah.. Sholat lah saya dengan seada-adanya. Tapi tidak mengada-ada. Sampai di-finish-i dengan salam.

Hmmm, apa ya? Ada yang aneh..

Setelah berpikir dan mencoba memahami keadaaaaan…………….. oups!!! Saya baru ingat! Di mushola ini sajadah digelar menyamping agar muat dipakai bersama-sama saat berjama’ah! Artinya? Itu sajadah tidak menghadap kiblat! Tapi sembilan puluh derajat dari kiblat! Auuuuuu.. T-T Memang kondisi mushola yang kiblatnya miring itu mengacaukan sense of direction saya, tapi kan harusnya ngga segitunya.. karena saya kan sudah sering memakai mushola ini.. duuuh.. *meratap ratap*. Untung saya masih hidup segar bugar sampai sekarang (apa coba?). Saya nggak inget waktu itu akhirnya saya sholat lagi apa gimana.. Haha.. *jdugh* Emang harusnya gimana yak? (*mentuil yang tau hukum fiqih*).

Konyol 4: ..???

Halo?!? Wooii.. Memangnya tiga kekonyolan belum cukup apa? Sudahlah, yang lain-lainnya biar jadi kenang-kenangan saya dan Raqib Atid saja :D Lain kali saya up date kalo keingetan lagi (jangan lagi-lagi nambah baru dah..)!


#posting pertama di 2012

Alhamdulillaah

Tuesday, December 06, 2011

Ore no Tanjoubi Purezento..

Dengan sok gayanya, waktu boss-biss saya nanya saya mau kado ultah apa, saya selalu bilang: apa aja, asal yang bisa dipake dan BUKAN BUKU!

Hari itu, sehari setelah milad saya, setelah makan bersama di salah satu stand kandidat ketua IA (*hahahaha.. meuni polos amat*), kami pun berlari-lari mengejar mobilku... (*emang soundtrack anime?*) Maksud saya, kami pun segera mampir ke Indonesia Book Fair. Salah satu boss bermaksud berburu marmut mabuk. Biss yang lain.. ngapaian ya? Saya juga nggak nanya beliau mau nyari apa. Tapi naga-naganya sih nyari-nyari (penjaga stand) yang seger bin cerah =D (*ouupss*) tapi kenemunya malah komik komik dan komik. Mungkin semua yang ganteng dan seger sudah menjadi komik (maap ya boss Y**chan). Begitulah.


Karena sudah bertekad tidak ingin kado buku (selain buku yang sudah saya tag ke salah satu boss), maka saya pun menghadiahi diri saya sendiri satu buku (??????). Silakan bingung. Pokoknya saya menghadiahi diri saya sendiri novel MC yang A Case of Need tea, di stand buku second langganan saya. Dan saya berhasil melawan semua godaan. Saya selalu menggeleng tiap ditawari boss buku sebagai hadiah milad :D


Begitu seterusnya.


Dan seterusnya.


Dan seterusnya.


Dan seterusnya.


Sampai kami ikut mabuk karena nggak nemu-nemu marmut.
Dan kaki kami sudah bersemut-semut. (????)


Intinya kami keluar menghirup udara segar dan makan kue dan ngobrol geje, sembari menunggu salah satu boss yang ilang di jalan. setelah kami kembali reunited menjadi tiga serangkai, kami pun masuk lagi.


Lalu...



Terjadilah...



Hal paling naas sepanjang hari itu!










Tak sengaja lihat satu buku diper!
Lalu temperatur katakecil pun mulai naik.
Eh.. ada satu lagi...
katakecil makin kelimpungan...
Eeeeeh....?!?!?!?
Whaaaaat......???



wooooooooooooooooooooooooooow...



semua judul yang belum masuk koleksi katakecil ada di sittuuuuuuuu.....


pingsan lah si katakecil


bo'ong deng








yang jelas dia membawa pulang begitu banyak buku yang sampai sekarang pun masih membuat dia melayang-layang..

=D


Yosh! Mission bin malakiah success!

Thank you utk boss-biss yang sudah menghadiahi saya buku-buku di atas ;9 sluuuuuurp...



*gedje*

**gambar nggak sengaja di-mirror biar nggak bikin ngiler orang lain

Sunday, December 04, 2011

Yang (Memilih) Berbahagia

Kurasa usianya akhir dua puluhan, atau mungkin awal tiga puluhan. Pakaiannya terlalu sederhana untuk ukuran pegawai kantoran, tetapi terlalu bersih dan rapi untuk orang yang kerja kasar. Tangannya kosong, tidak nampak tas atau bawaan apapun. Jadi aku tidak bisa menebak profesinya apa. Hari sudah mencapai kelelahannya yang paling telak, tetapi lelaki itu seperti pagi yang baru menetas: wajahnya cerah sumringah. Aku punya dua tebakan untuk menjelaskannya: dia sedang jatuh cinta, atau dia sedang jatuh cinta (itu mah idem atuh! =,="). Tapi aku tidak tahu dia jatuh cinta kepada apa. Yang jelas, padat, rikuh, dan lelahnya kota ini tidak sanggup mengekang rembesan rasa itu dari aura tubuhnya: ringan, penuh senyum, dan.. bahagia...


Inilah kebiasaan baruku: mengamati orang-orang Jekardah; terutama kited berada di angkutan umum seperti Kopaja ini. Sangat jarang aku melihat ekspresi seperti itu. Kalau galau, hm, ekspresi itu ada di mana-mana. Maka mataku susah lepas dari objek yang satu itu (*uhmm, mana praktik teori menjaga pandangan, katakeciiiil?*). Bukannya apa-apa. Aku hanya penasaran dan tak bisa tidak jadi merenung: sebenarnya bahagia itu apa? Mengapa dia bisa menjadi seperti itu? Apakah dia memilihnya? Tapi rupanya renunganku sia-sia karena aku tak bisa bertanya langsung padanya. Tapi kurasa dia memang memilih untuk berbahagia saja, regardless any background that may appear behind him. Dunno.


Satu lagi kebiasaanku: mengamati dan membaca graffiti dan lukisan yang ada di tembok-tembok, juga truk yang melintas. Ini juga termasuk ekspresi kegundahan masyarakat, yang seringnya terlalu jujur. Kapan-kapan aku ingin membikin kumpulan catatannya. Hmm...



Semoga aku semakin banyak melihat wajah-wajah bahagia di kota ini.
Aamiiin..

Mau Malak Malah Dipalak

Hari itu aku berencana pergi mengunjungi salah satu boss (hahaha) di daerah senayan sana. Untuk apa lagi kalau bukan untuk memalak traktiran. Sigh =D

Berangkat dari bilangan Kalibata sekitar jam 8 malam, temanku menyarankanku naik Kopaja yang lewat jalur Gatsu, dari pada kena macet kalau lewat jalur kopaja 57. Yups. Baru beberapa menit duduk di Kopaja, dua pengamen masuk lah. Dan menyanyi lagu yang aku tidak kenal. Usai genjreng-genjreng, mulailah dia berbla-bla-bla, dan menodongkan plastik ke muka tiap penumpang. Lama sekali dia menodongkannya. Uhh.. Pemalakan terselubung?!? Entahlah. Ada sebersit enggan tapi aku sudah menyiapkan segepok uang (*huahhahahaha, boong deng, sebutir doang*) mengingat ini hari Jum'at dan aku memang sudah berniat ingin memberi. Bereslah urusan yang ini.


Beberapa saat kemudian, naiklah lagi dua orang. Salah satu menunggu di belakang, dan yang lainnya berdiri di depan. Dia berblabliblu, dan bilang hal yang intinya dia mau menyanyi dengan suaranya yang pas-pasan. Tapi bukan suara nyanyian yang keluar, malah dia langsung keliling menodongkan topi sambil mengumumkan:

"Ayo.. jangan sampai karena uang seribu dua ribu tas Anda, HP Anda hilang.."


What the.....?!?!
Dia mengulang kata-kata itu sambil terus menodongkan topi ke muka orang-orang. Aku rasakan orang-orang lebih sigap dan cepat mengisi topi itu, dibanding kejadian pertama. Mbak cantik sebelahku yang pada saat kejadian pertama tidak mau memberi berbisik padaku, "Sudah.. kasih aja.. kasih aja...". Aku bisa merasakan urgensi dalam nada bicaranya, menyembunyikan rasa takut yang tidak begitu nyata. Aku tidak membawa terlalu banyak uang kecil (*hmm, semua uang saya berukuran sebesar pintu atau seluas gorden*). Jadi aku harus menggali-gali di halaman belakang rumah dulu (*geurrrrhhh*) sampai akhirnya aku dapat potongan emas yang bisa aku serahkan pada duo pemalak maut ini (emas apaan? duit logam gopekan?). Hmm.. Mungkin ini bukan pertama kalinya aku dipalak di angkutan umum. Tapi seingatku ini yang pertama kali saat aku pergi sendirian di Jekardah, malam hari pulak...


Aku beruntung kena palak ini. Karena aku jadi diingatkan lagi soal kode etik bepergian bagi seorang muslimah. Tentang urgensi punya body guard bla bla bla.. (*lho..? mulai ngawur tho ngomongnya...!*). Memang, the never sleep city ini membawa ancaman lain bagi tukang maen seperti saya. Yang jelas, dan yang penting, walaupun kena palak, toh proyek malakin boss-biss saya berhasil dengan sangat sukses =D hahaha.. menggendut beberapa gram gak apa-apa lah.. =D



Terima kasih untuk biss dan boss yang sudah mentraktir saya...

Rumah Sakit Mol

Kaki shopaholic kami melarikan kami ke mol di daerah Senayan (padahal mah cuma mau window shopping bari berburu drunken series-nya Mang Pidi Baiq tea..). Pintu masuknya mengingatkan kami pada sistem pemeriksaan di bandara. Mol itu sendiri tidak punya terlalu banyak keunikan, walaupun memang secara struktur bangunan dan desain interior terbilang megah; seperti jamaknya mol di kota metro ini.


Yang aneh, menurut kami, adalah mol ini membuat kami merasa seperti sedang di rumah sakit! Apa pasal? Di sini banyak sekali "suster" berbaju putih-putih atau dengan kombinasi hijau atau pink pastel (tidak termasuk suster ngesot pastinya!). Mereka juga mendorong-dorong "kursi" beroda. Memakai masker penutup mulut juga. Betul. Kami sama herannya, tapi nggak sampai melongo dan ngiler kayak kamu (hush.. fitnah!). Siapa mereka? Kenapa di mari?


Rupanya mereka adalah makhluk-makhluk yang khusus disewa oleh dewa-dewa untuk menggendong-gendong, memberi susu formula, dan mengganti popok anak-anak mereka saat mereka sibuk berbelanja. hmm. Bukan ya?


Foto menyusul insyaAlloh, ntar saya dikira HOAX lagi =D tapi nagihnya ke orang ini ya...

Thursday, December 01, 2011

Special Day

Ini adalah hari yang sangat istimewa karena Desember hari ke-dua jatuh bersama hari Jum'at. Yuhuuu.. Dua-duanya hal yang sangat saya suka.. Hal ini baru akan terjadi lagi kira-kira, umm... kapan ya? *Celingak celinguk nyari astronom etc, dll, dkk, dsb* hahaha.. tau deh.. Yang penting saya nikmati yang hari ini aja =D dengan "yasinan" bersama ibu-ibu pejabat.. Haha.. Yo.. Have a great day, minnasan.. Alhamdulillah.. Shiawase ni natta =)