Thursday, June 10, 2010

Ever since...





Yang di atas ini adalah gambar para korban yang sudah masuk dalam peredaran darah saya..
Hm, I'm bit maniac bout this food *tapi tenaaaang.. nggak saban hari kok saya nyorat-nyoret telor kayak gini.. heuheu.. I still remember my first 'ornamented egg'.. I got it from my Aunty..
Halah.. Sebenernya ini dipublish sekedar sambil lalu karena inget: Oh My God! On May I only leave one entry! Do I believe it...? Hmm, believe it or not, whether the computer whatsoever is in your hand or not, it's not the determining factor of your writing productivity.. Your mind-state is! Haduh.. ini nulis juga sambil ngaco.. bye bye lah.. Bong, maen sama yang di atas ini dulu ya.. I'll leave you behind for a while.. Kalo laper, caplok aja yang gondrong tuh.. Saya merenungkan hidup saya dulu kawan ^^ Adios..

Sunday, May 02, 2010

may may MAY!

I am ready to give up
I am ready to give in
But,
Is there anything left to give...?
:D

Monday, March 29, 2010

Kusuri wa...

Sesungguhnya, hanya dengan mengingat Allah, hati akan tenang.
now surely by Allah's remembrance are the hearts set at rest.
N'est-ce point par l'évocation d'Allah que se tranquillisent les coeurs.
im Gedenken Allahs ist's, daß Herzen Trost finden können.

al-Ra'd [13]: 28

Sunday, March 28, 2010

Lewat Angin

Ketika dia berkata,
Lalu semua buhul pun terurai jadi laku
Dan bicara jadi do’a

Tuhanku yang Agung,
Jagalah wanita mulia di ujung sana..
Cintailah ia melebihi cintaku padanya
Dan cintailah ia melebihi cintanya kepadaku

Amiin

Friday, March 26, 2010

Re~sensi Novel: State of Fear

Judul Novel : Kondisi Ketakutan

Judul Asli : State of Fear

Genre : Fiksi Ilmiah

Penulis : Michael Crichton

Alih Bahasa : Arif Subiyanto

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tempat/ Tahun Terbit : Jakarta, Maret 2009

Jumlah Halaman/ Ukuran : 632 halaman, 23x15 cm


Apakah alam ini seimbang?

Atau justru sebaliknya? Tak pernah seimbang?

Lalu di manakah posisi manusia?


Orang yang merusak alam karena bodoh dan tidak tahu, atau karena sok tahu lalu membuat aksi keliru, sama berbahayanya”, begitu kata MC. Setelah Anda membaca novel ini, Anda pasti akan sepakat dengannya. Betapa manusia adalah makhluk istimewa yang penuh dengan keterbatasan, yang bahkan tidak memiliki pengetahuan yang memadai mengenai tempat tinggalnya, baik di masa lalu, masa kini, maupun (kemungkinan besar) di masa mendatang. Lingkungan adalah sebuah sistem super besar yang senantiasa berubah dan bergerak: tidak pernah setimbang. Dinamika lingkungan tersebut, termasuk di dalamnya pengaruh geologis dan iklim, telah menempatkan manusia sebagai subjek sekaligus objek yang sangat rentan. Diterbitkan pertama kali pada tahun 2004, novel ini masih cukup hangat dan pas untuk disantap para pemerhati dan pecinta lingkungan hidup. Tapi saya bacanya yang versi English, though ^^;


Pemikiran yang coba diusung MC ini bertentangan dengan pandangan yang dianut secara umum. Global warming, benar-benar nyatakah teori tersebut? Ataukah sekedar akal-akalan politis ekonomis demi menciptakan sebuah teror bagi semua negara di dunia? Mengapa kita harus mencemaskan fenomena alam yang normal yang baru akan terjadi lebih dari seribu tahun yang akan datang? Ada apakah di balik semua itu? Sebuah konspirasi? Or what? Hmm, saya sempat ngobrol tidak serius tapi serius dengan kawan bologi saya, dan beliau bilang memang menurut sebagian penelitian, bumi ini cenderung turun temperaturnya.


Dibuka dengan fragmen-fragmen pendek yang khas, dan cerita pun saling bertautan menanamkan benih penasaran tumbuh di benak para pembaca. Didukung ilustrasi grafik-grafik dan data ilmiah (16 lembar bibliografi disertai komentar pribadi penulis!) membuat novel ini sukar dibantah. Di awal, alur berjalan cukup lambat, namun setelah menamatkan novel ini, Anda tak akan menyesal karena akan mendapatkan jawaban dari semua misteri yang telah ditebar penulis di awal cerita.


Lebih dari novel-novel Michael Crichton yang lain, pesan yang ingin disampaikan Crichton lewat novel ini sangat masif dan tebal. Namun, Anda tak perlu khawatir akan mendapati teks-teks panjang yang bernada menggurui, karena semua pesan tersebut dikemas dengan baik dalam dialog antar tokohnya tanpa melibatkan para pembaca.


Kritik yang dilontarkannya di antaranya adalah mengenai lembaga pendidikan tinggi sebagai institusi yang seharusnya netral dan tidak terbelit hubungan yang rumit dengan pihak sponsor penyandang dana. Dalam catatan akhirnya, Michael Crichton menekankan bahwa saat ini yang lebih dibutuhkan oleh bumi adalah semakin banyak orang yang bekerja nyata bagi lingkungan, bukan sekedar teori-teori yang dipoles sesuai pesanan para pendonor yang tak lain dan tak bukan para pemilik industri dan pemerintah.


Yang sangat saya sayangkan adalah penerjemahan judul novel ini menjadi Keadaan Ketakutan, yang terdengar kurang sastrawi. Padahal, jika judulnya dipertahankan tetap sesuai judul aslinya, akan lebih menjanjikan suatu permainan kata-kata yang menarik. Sebuah negeri yang selalu dicekam ketakutan? Ataukah keadaan ketakutan itu sendiri?



Hehe, baru beres diotak-atik sekarang.. padahal bacanya kapaaan gitu.. Mana ngga jelas ini teh yang diresensi buku yang Indonesia (*yang belum dibaca?!*) tapi pake 'data' dari yang versi English,..

Alhamdulillah..

Wednesday, March 24, 2010

Sebuah Percakapan Tanpa Saksi

++ Pokok'e, ngkok lek arek-arek wis podo mentas, ayok nabung ya Pak..
&& Gawe opo?
++ Yo digawe munggah kaji.. Opo maneh..?
&& Iso tha..? Wong saiki ilo wong lungo kaji iku dibatesi sampe umur suwidak limo.. Lha awak iki sakiki sak piro.. nutut tha..
++ Yo nutut ae Pak lek dikersakna Gusti Alloh...


Dan telaga-telaga itu mengalirlah ke kanal-kanal yang selama ini kering, nun padanya, yang di dalam sana. Moga roboh kuil ketakutan itu, berganti menara ketegaran yang jauh menghunjam.. Duh, wahai yang telah mengarungi usia, yang menapaki umur bambumu dalam rendaman arus kehidupan yang keras.. Telah liat tekadmu.. Apalah arti darah setampuk pinang ini..


Tanpa saksi, kecuali Engkau, Rabb..

Re~Sensi JWD: The Monkey Stone

Setelah beres 'menghukum' diri dengan punishment yang juga saya nikmati *haha*, saya tak bisa menahan godaan salah satu novel hasil petualangan-nekad-jadi-kolektor-amatir saya. Salah satu keping dari serial Lincoln Rhyme. Boleh dibilang, novel ini tidak semenegangkan The Bone Collector, tapi ada karakter 'surprise' yang khas, yang sejenis dengan gaya penulisannya dalam The Blue Nowhere. (*haha, alhamdulillaah.. Judul yang ini pun telah berhasil saya dapatkan.. ^^*)

Bercerita tentang perburuan seorang smuggler yang terlibat dalam penyelundupan manusia alias imigran gelap yang kejam dan tak segan-segan membunuh klien atau siapapun yang menghalangi tujuannya. Rhyme, tentunya masih bersama Detektif Amelia Sachs, dengan kejelian pengamatan berdasarkan deduksinya sebagai ahli forensik berhasil menggagalkan misi pembunuhan berantai sang penjahat yang diberi kode Ghost tersebut. Tapi korban telah terlanjur berjatuhan. Apa dan siapa sebenarnya Ghost ini? Bagaimana kisah selengkapnya? Baca sendiri ya.. Sayangnya sepertinya belum ada edisi Indonesianya, so, musti bersabar =) haha..

Bagi yang udah pernah baca Rising Sun-nya MC, mungkin bisa membandingkan bagaimana karakter dua penulis ini dalam mengeksplorasi budaya timur; Rising Sun berlatar komunitas Jepang di Amerika, sedang Monkey Stone berlatar warga China dan pecinan juga di Amerika.

Karena?

Janggal sekali rasanya saat mata ini tertumbuk sebuah rambu peringatan di sana, di pusat riwuhnya Jakarta sana.. Kukira sedetik itu aku telah terlempar ke jaman feodal Batavia, atau setidaknya pelosok Jogja sana. Tapi tidak. Ini sekarang, saat ini.


HATI-HATI
KELUAR MASUK
KENDARAAN ISTANA

Hmm...

Agar Istimewa

Sebuah tanya tiba-tiba hinggap di kepala saya yang kecil ini..
Mengapa, mengapa duhai Rabb, Engkau jadikan proses kelahiran manusia ini begitu menyusahpayahkan? Tidak hanya bagi ibu (yang baginya tiga kali kebaikan) tapi juga bagi bapak dan keluarga besarnya..? Ketika jasad, bahkan ruh seorang ibu menjadi tak karuan, (walaupun di dalamnya menyimpan keindahan), tapi bukankah adalah sangat sangat mudah bagiMU membuatnya ringan-ringan saja? Atau kenapa tidak Engkau mudahkan proses itu bagi hambaMU yang beriman, dan Engkau sulitkan bagi hambaMU yang ingkar saja...?

Lalu kepala kecil ini merasa sedikit ringan..
Bila Dia memudahkan proses itu bagi hambaNYA yang beriman, dan menyusahkannya bagi hambaNYA yang ingkar, niscaya semua manusia akan memilih menjadi beriman.. Tak akan berani dia ingkar secara nyata.. Lalu gagal lah skenario hidup yang adalah 'ujian' ini..

Bila Dia jadikan proses itu biasa-biasa saja, maka biasa-biasa pula mungkin kita menyambutnya. Tak ada kegembiraan, tak ada kekhawatiran, tak ada persiapan. Lagi pula, Dia bukannya ingin menciptakan anak manusia yang biasa saja, apalagi yang banyak tapi lemah tak berharga (seperti cacing atau plasmodium atau spons atau patrick eh bintang laut yang dengan mudah dapat memperbanyak diri*). Dia mendesain makhluk manusia ini untuk tugas istimewa, maka Dia istimewakan proses kejadiannya, agar orang tuanya memelihara dan mendidiknya dengan istimewa. Seperti ini misalnya.


*) tanpa bermaksud merendahkan hakikat dan hikmah penciptaan makhlukNYA yang lain, insyaALLOH.. Astaghfirulloh

Tuesday, March 23, 2010

Melangkahlah Terus..

Dan di sinilah kutemukan jawaban itu.
Telah lama kucari, mengapa Ruhul Quddus itu mengulang perintahnya hingga tiga kali? Tidakkah dia telah faham bagaimana keadaan Rasul Ummiy itu?
Rabb, setiap pertanyaanku pasti ENGKAU jawab..
Aku hanya harus bersabar merenda tiap keping puzzle hidup ini..
^^ Begitu kan, Rabb?

Alhamdulillah

Lalu seperti katanya dan katanya, biar tak ada lagi lelah :)


-=dari Mabit Ashabul Qur'an @Salman, dengan SAF=-