Biar aku wakilkan mu menangis..
Menangis bukan kebiasaanmu
ah, toh menangis juga bukan dosa..
Biar aku wakilkan mu menangis..
Menangis bukan kebiasaanmu
ah, toh menangis juga bukan dosa..
If you want to turn back time,
It’s not always because what u’ve done is bad..
Or u regret..
May be you just want to make it even better
Desu ne?
Hmm, mungkin lebih seru novelnya kali ya? Yang jelas saya cukup mengerti kenapa akhwat satu itu sampai berlumuran air mata (*gosipnya!*) saat pertama kali membaca novelnya. Nggak ada resensi untuk film ini, hmm,, apa ya? pokoknya gitu deh.. khas romansa barat ya gitu deh.. (*lo tu mo ngomong apa sih Bong...?*) Ya gitu deh,,, heuheu... secara sinematografi nih pelem mungkin di masanya bagus kali ya.. pokoknya aura-aura kejadulannya itu membuat egh,, apa sih? ya gitu deh.. pokoknya ya gitu deh, heuheu...
Dangkal, begitu kata teman sang perekomendasi. Tapi kepalang dibuat penasaran akan nasib tokoh-tokohnya, saya tetap berniat akan memburu lanjutannya. Trilogi fiksi yang bersetting Jepang di masa feodal ini mejadikan pertikaian berdarah antar klan sebagai benang merah. Rumit dan kaya deskripsi yang ‘Jepang banget’, cukup mengejutkan mengingat buku ini lahir dari tangan seorang Inggris yang menetap di Australia. Simak uraiannya berikut ini:
...Rumah mulai melantunkan lagunya di malam hari: bunyi piring yang dicuci, anjing diberi makan, beberapa orang penjaga yang sedang duduk mengawasi. Aku mendengar langkah pelayan ketika membentangkan alas tidur, bunyi sempoa dari ruang depan saat si pemilik rumah menghitung penghasilannya hari ini. Alunan malam mulai berkurang dan nadanya menjadi teratur: tarikan nafas orang yang sedang tidur, umumnya dengkuran, dan kadang desahan. Suara-suara orang dalam kesehariannya sangat menyentuh jiwaku. Aku memikirkan keinginan ayahku untuk hidup seperti orang biasa. Menangiskah dia saat aku lahir?
Begitulah dunia di telinga Takeo, si anak ajaib keturunan Kikuta yang memiki kemampuan pendengaran yang sangat tajam, mampu berada di dua tempat sekaligus, dan mampu menghilang. (*Hmm, mengingatkan saya pada salah satu tokoh di pelem Shinobi.. Ini pelem bagus lho :D masih setema dengan buku ini..*). Konflik terus bergulir di sekitar Takeo yang menjadi sentral tarikan kepentingan: pertalian darah dengan Kikuta yang memaksanya menjadi bagian dari Tribe pembunuh, hutang budinya pada Shigeru yang mengharuskannya menjadi pewaris Klan Otori, dan inti jiwanya yang tumbuh di bawah asuhan ibunya yang ‘bersih’ menurut kepercayaan Hidden yang melarang segala bentuk kejahatan dan pembunuhan. Penasaran?
Dan David melihat pantulan dirinya di dalam mata si Tukang Kayu, dan di sana dia bukan lagi lelaki tua, melainkan anak kecil, sebab seorang lelaki selalu merasa sebagai anak kecil di hadapan ayahnya, betapapun tuanya dia, betapa lama pun mereka telah berpisah.
Buku ini mengajarkan banyak hal, kebanyakan lewat kontemplasi-kontemplasinya yang ironis, menyindir tanpa memvonis. Manungsa tan kena kinira, begitu tetua orang Jawa bilang. Manusia itu tidak bisa diduga. Dalam buku ini, Connolly menggambarkan sifat-sifat manusia melalui perlambang tokoh-tokoh, dengan memutarbalikkan semua dongeng konvensional yang sudah kita percayai. Pada awalnya, cerita bergelayut seperti meniti titian di atas sungai: perlahan dan hati-hati. Sampai-sampai saya bertanya-tanya: buku ini apa bagusnya? Tapi begitu masuk ke ‘menu utama’, barulah saya mengerti mengapa teman saya sang perekomendasi tidak mampu menaruh buku ini sebelum tamat. Dua tahun lalu buku genre ini akan langsung saya singkirkan dari prioritas bacaan saya. Tapi sekarang, sejak HP-nya JKR, saya tak gentar lagi membaca buku-buku serupa.
Mau?
Postingan tentang buku favorit saya ini diikutsertakan dalam The Hunger Games Giveaway yang diadakan oleh Elfrida Chania