9:10 AM 4/4/2007
.. apakah rencana-rencana menjadi menu sarapanmu?
dan teman menjelang tidurmu?
tapi miskin dalam amalmu?
lalu buat apa ada rencana?
rencana yang buruk hari ini,
lebih baik dari pada rencana yang sempurna esok hari..
ibda' binafsika, yaa ikhwaati..
do it now!
[mengingat sudah pertengahan semester tapi TA tak satu hurufpun sudah dibaca..]
(udah lama banget ndak bikin dreamlist.. T____T)
Wednesday, April 04, 2007
Kata Mereka..
seorang pejuang sejati tidak pernah mengenal kata akhir dalam berjuang
ia tidak memerlukan gemuruh tepuk tangan,
tidak akan lemah karena cacian,
dan tidak bangga dengan penghargaan
siap menjadi golongan ini?
[Jeina Syarif, 29 November 2006]
oleh-oleh dari sunyi malam
jangan pernah takut untuk meminta..
karena Alloh pasti ngasih segalanya..
semoga aku selalu menjadi hamba yang pandai bersyukur..
aamiin
[Indah Widya, 25 November 2006]
goresan di buku pelangi
ia tidak memerlukan gemuruh tepuk tangan,
tidak akan lemah karena cacian,
dan tidak bangga dengan penghargaan
siap menjadi golongan ini?
[Jeina Syarif, 29 November 2006]
oleh-oleh dari sunyi malam
jangan pernah takut untuk meminta..
karena Alloh pasti ngasih segalanya..
semoga aku selalu menjadi hamba yang pandai bersyukur..
aamiin
[Indah Widya, 25 November 2006]
goresan di buku pelangi
Honto..?
Begin this day with bunch of new spirit
So long distance to overcome…
And so much new experience to try
Just live a little longer,
And see…
I’ll do it my best!
To the very last of my breath
And for any dreams that I haven’t see it true,
I do will
Make it true
One day!
(udah lama banget ndak bikin dreamlist.. T____T)
So long distance to overcome…
And so much new experience to try
Just live a little longer,
And see…
I’ll do it my best!
To the very last of my breath
And for any dreams that I haven’t see it true,
I do will
Make it true
One day!
(udah lama banget ndak bikin dreamlist.. T____T)
kinda Stupid, but it's T.R.U.E
12:03 AM 4/2/2007
I'm a nobody, nobody is perfect, therefore I'm perfect.
There are 3 kinds of people in this world...those you want things to happen, those that make things happen, and those who just wonder what the hell happened!
There are 3 kinds of people: those who can count and those who can't.
If electricity comes from electrons, does morality come from morons?
Why is "number" abbreviated as "no"? When there is no "o" in number?
Kenapa nggak ada drive B, abis drive A, langsung C, D, E... ?
I'm a nobody, nobody is perfect, therefore I'm perfect.
There are 3 kinds of people in this world...those you want things to happen, those that make things happen, and those who just wonder what the hell happened!
There are 3 kinds of people: those who can count and those who can't.
If electricity comes from electrons, does morality come from morons?
Why is "number" abbreviated as "no"? When there is no "o" in number?
Kenapa nggak ada drive B, abis drive A, langsung C, D, E... ?
Monday, April 02, 2007
Pajajaran, Mata, Kaki, dan Hati
"Bacalah kitabmu, dan “Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu”. (QS.Al-Israa:14)"
Dua orang pria muda berjalan beriringan di track lari KONI, sementara sekelompok muda mudi hanya menonton di tribun, tertawa-tawa. Halte kosong, mungkin ini keberuntunganku setelah tadi berdiri bermenit-menit menunggu pertigaan Pajajaran lengang, sekadar untuk menyeberang. Udara pukul tiga belas dua puluh masih mengandung gerah. Angin semu yang dihembuskan motor dan mobil yang melaju kencang setidaknya meringankan kepekatan panas siang ini. Yah, duduk bengong sendirian di halte yang baru kali ini aku singgahi. Masih beberapa puluh menit lagi menuju waktu yang aku janjikan untuk adik les privatku. Cukuplah untuk sekedar menikmati sisi lain Bandung, suasana yang agak janggal untuk kota yang sudah tiga tahun ini aku hijrahi. Yah, Pajajaran dengan KONI, GOR, dan beberapa institusi yang belakangan aku tahu bergerak di bidang sosial, pemberdayaan para tuna netra. Memang, tak jauh dari sini ada rumah sakit mata Cicendo. Mungkin, seiring dengan hal itu, tumbuh juga kepedulian terhadap penderita amanah tuna tersebut, yang diwujudkan dalam beberapa sekolah luar biasa dan panti Wyata Guna. Tampaknya sekolah luar biasa itu tidak dikhususkan untuk penderiat tuna netra saja, karena pada pekan sebelumnya ketika saya mencoba menyusuri jalan ke arah rumah sakit Cicendo terus ke arah stasiun Bandung aku berpapasan dengan beberapa anak berseragam SMP yang berbicara dengan bahasa isyarat. Mereka terlihat bercanda dan bergembira, seperti layaknya anak-anak menikmati masa remajanya. Dan sekarang, di seberang jalan, aku lihat seorang tuna netra berjalan keluar dari kantor panti yang sudah saya sebutkan tadi. Seorang gadis berkerudung menuntun bapak setengah tua yang tidak memakai tongkat itu. Aku masih ingat, beberapa menit yang lalu bapak tadi masuk panti dengan sebuah tongkat di tangannya, sama seperti ibu-ibu berjilbab yang berjalan sendirian dengan dua buah tas tersampir di pundaknya itu. Dua wajah yang nampak suram di kedua matanya, namun berpendaran bahagia dengan lengkung menghiasi bibir mereka. Subhanallah..
Mungkin tak sering saya menyadari, tak semua orang di dunia ini mampu menikmati indahnya pelangi yang akhir-akhir ini memang semakin langka. Seperti juga tak semua manusia diberi kesempatan untuk menikmati ajaibnya efek Doppler. Juga tak setiap orang, diberi kemudahan untuk berlari di track seperti dua pria muda tadi. pun tidak semua orang bisa bebas tertawa seperti muda-mudi yang bergerombol di tribun. Maka saya merasa sangat beruntung, sekaligus bergetar ngeri. Bersyukur untuk nikmatNYA yang jarang, meskipun tak kan pernah bisa, saya perhitungkan. Ngeri mengingat banyaknya amanah yang harus saya pertanggungjawabkan. Iya. Semakin banyak yang kita punya, semakin besar tanggungan yang harus kita 'bayar'. Beberapa saat kemudian, sembari memainkan Snake II, satu-satunya game yang mengasyikkan di Nokia 1100 saya, mata saya tak sanggup menyembunyikan keterperangahannya. Seorang lelaki usia tiga puluh limaan dengan pakaian lusuh dan sebuah kantong keresek hitam di tangannya, berjalan tergesa melewati halte, terus menaiki jembatan layang melintas ke seberang jalan raya. Beberapa waktu berselang, kembali dia melintas dengan rute dan ketergesaan yang sama. Naluri saya mengatakan ada yang salah dengan kejiwaan orang ini. Astaghfirullah.. Mengapa mata ini justru menggiring akal pada praduga-praduga dzonni. Kembali saya terpekur, mudahnya diri ini terpedaya: don't judge the book by it's cover! Meskipun kebanyakan isi buku yang saya lihat di masa sekarang ini memang sudah tergambar dari covernya. Cover yang lux dan resmi, atau penuh dengan gambar seperti comberan meluap, tak bisa dikenali lagi apa ide dasar desainernya. Atau plontos tanpa sentuhan rasa. Dan memang begitu juga isinya. Lho lho lho? Kok loncat ke desain cover buku? Hehehe, beginilah susahnya punya otak acak abstrak. Untungnya, dengan begitu saya jadi lebih bisa menikmati hidup, this life is an harmony. Nothing (?) goes as your plan, but it's okay. Anyway, sudah saatnya ke tempat les.
Fuuuh, batal lagi. Parahnya, adik lesku baru ngasih tau kalau dia lagi di luar kota setelah aku kongkow-kongkow hampir tiga per empat jam sambil nonton TV, plus baca cerpen dan berita-berita tidak penting di koran yang tergeletak begitu saja di atas meja. Secangkir teh manis yang tak habis saya minum kutinggalkan begitu saja. Fyuuhhh.. tak bisa terus begini! Saya harus segera menemukan usaha baru yang lebih prospektif! Agak terlalu berat untuk otak yang condong lebih care pada social enterpreneurship seperti saya ini. Langkah cerdas, keras, dan ikhlas untuk mencetak lembaran hijau.. merah.. fyuuh.. Saya susuri jembatan layang yang sengaja di desain tanpa undak-undak untuk memudahkan tuna netra menyeberang dengan permenungan yang tak jauh beda dengan saat saya berangkat. Dengan matahari yang masih sama garang. Dan kantong yang masih sama kosong [hahaha... ;p]. Menyusuri jalan Pajajaran dengan sisi dan arah yang berkebalikan dengan awal saya datang, saya perhatikan, ternyata jalan ini sangat tidak menyenangkan untuk orang yang mengandalkan rabaan tongkat dalam berjalan. Bagaimana tidak, pohonan dibiarkan (* oups, sengaja dinK!) tumbuh di tengah trotoar, sementara beberapa bagian jalan berlubang, ada juga gundukan batu sisa bahan bangunan dibiarkan teronggok. Saya yang dapat melihat saja harus berkali-kali berzigzag mencari lintasan yang nyaman untuk sepatu (teman) saya yang sudah lumayan keramat ini. Dan trotoar macam ini hampir ada diseluruh pinggiran jalanan Bandung. Setidaknya di wilayah ini lebih baik, masih ADA trotoar yang lumayan lebar. Mata saya kembali tertusuk, seorang lelaki dengan pakaian yang tidak sepantasnya tidur menantang matahari di trotoar depan Kimia Farma. Beberapa langkah lagi saya akan berbelok ke arah jalan Wastukencana lalu melupakan semua yang saya lihat, dengar, dan kecap beberapa saat yang lalu. Tapi lelaki tadi (mungkin) masih akan terus di sana, terngungun di tengah aliran kendaraan, menjaga kerawanan jiwanya utuh tak terjamah. Lalu menyisakan tanya, siapa yang harus bertanggung jawab atas dirinya? Masyarakat? Masyarakat yang mana? Negara? Negara yang seperti apa? Atau malah (memang) dia tidak pernah berpikir. Hanya akan menagih di akhirat nanti, pada saya, polisi, pedagang, sopir, anak SMA, Anda dan semua yang lalu lalang di sana: 'Yaa Alloh.. mereka waktu itu melihatku seperti ini dan seperti itu.. tapi jangankan mereka yang memiliki otak waras itu memberi saya tempat berteduh, menawari saya makan atau memberi saya pakaian pun mereka enggan.. Yaa Alloh, adakah yang pantas untuk orang-orang yang cuma bisa memandang dan berkeluh atas diri mereka sendiri itu? Adakah yang pantas untuk orang-orang yang cuma bisa bergumam kasihan tapi mampu mendandani anaknya dengan segala rupa.. Orang-orang yang mampu makan es krim sementara berpikir belasan kali untuk memberi sedekah seharga sebutir pemen yaa Alloh.. Aku minta keadilanmu.. "
Rabb, bebaskan hamba dari prasangka
Bebaskan hamba dari kekhawatiran atas masa depan
bebaskan hamba dari kelemahan..
Dan rizkikan hamba Qiyamul lail..
Rizkikan hamba tilawah..
Rzkikan hamba kesyukuran
Rizkikan hamba dzikir yang tiada berputusan...
[[ dengan rindu pada Muhammad.. Andai nur-mu yang mulia ada di sini, bercucurankah air matamu? ]]
Dua orang pria muda berjalan beriringan di track lari KONI, sementara sekelompok muda mudi hanya menonton di tribun, tertawa-tawa. Halte kosong, mungkin ini keberuntunganku setelah tadi berdiri bermenit-menit menunggu pertigaan Pajajaran lengang, sekadar untuk menyeberang. Udara pukul tiga belas dua puluh masih mengandung gerah. Angin semu yang dihembuskan motor dan mobil yang melaju kencang setidaknya meringankan kepekatan panas siang ini. Yah, duduk bengong sendirian di halte yang baru kali ini aku singgahi. Masih beberapa puluh menit lagi menuju waktu yang aku janjikan untuk adik les privatku. Cukuplah untuk sekedar menikmati sisi lain Bandung, suasana yang agak janggal untuk kota yang sudah tiga tahun ini aku hijrahi. Yah, Pajajaran dengan KONI, GOR, dan beberapa institusi yang belakangan aku tahu bergerak di bidang sosial, pemberdayaan para tuna netra. Memang, tak jauh dari sini ada rumah sakit mata Cicendo. Mungkin, seiring dengan hal itu, tumbuh juga kepedulian terhadap penderita amanah tuna tersebut, yang diwujudkan dalam beberapa sekolah luar biasa dan panti Wyata Guna. Tampaknya sekolah luar biasa itu tidak dikhususkan untuk penderiat tuna netra saja, karena pada pekan sebelumnya ketika saya mencoba menyusuri jalan ke arah rumah sakit Cicendo terus ke arah stasiun Bandung aku berpapasan dengan beberapa anak berseragam SMP yang berbicara dengan bahasa isyarat. Mereka terlihat bercanda dan bergembira, seperti layaknya anak-anak menikmati masa remajanya. Dan sekarang, di seberang jalan, aku lihat seorang tuna netra berjalan keluar dari kantor panti yang sudah saya sebutkan tadi. Seorang gadis berkerudung menuntun bapak setengah tua yang tidak memakai tongkat itu. Aku masih ingat, beberapa menit yang lalu bapak tadi masuk panti dengan sebuah tongkat di tangannya, sama seperti ibu-ibu berjilbab yang berjalan sendirian dengan dua buah tas tersampir di pundaknya itu. Dua wajah yang nampak suram di kedua matanya, namun berpendaran bahagia dengan lengkung menghiasi bibir mereka. Subhanallah..
Mungkin tak sering saya menyadari, tak semua orang di dunia ini mampu menikmati indahnya pelangi yang akhir-akhir ini memang semakin langka. Seperti juga tak semua manusia diberi kesempatan untuk menikmati ajaibnya efek Doppler. Juga tak setiap orang, diberi kemudahan untuk berlari di track seperti dua pria muda tadi. pun tidak semua orang bisa bebas tertawa seperti muda-mudi yang bergerombol di tribun. Maka saya merasa sangat beruntung, sekaligus bergetar ngeri. Bersyukur untuk nikmatNYA yang jarang, meskipun tak kan pernah bisa, saya perhitungkan. Ngeri mengingat banyaknya amanah yang harus saya pertanggungjawabkan. Iya. Semakin banyak yang kita punya, semakin besar tanggungan yang harus kita 'bayar'. Beberapa saat kemudian, sembari memainkan Snake II, satu-satunya game yang mengasyikkan di Nokia 1100 saya, mata saya tak sanggup menyembunyikan keterperangahannya. Seorang lelaki usia tiga puluh limaan dengan pakaian lusuh dan sebuah kantong keresek hitam di tangannya, berjalan tergesa melewati halte, terus menaiki jembatan layang melintas ke seberang jalan raya. Beberapa waktu berselang, kembali dia melintas dengan rute dan ketergesaan yang sama. Naluri saya mengatakan ada yang salah dengan kejiwaan orang ini. Astaghfirullah.. Mengapa mata ini justru menggiring akal pada praduga-praduga dzonni. Kembali saya terpekur, mudahnya diri ini terpedaya: don't judge the book by it's cover! Meskipun kebanyakan isi buku yang saya lihat di masa sekarang ini memang sudah tergambar dari covernya. Cover yang lux dan resmi, atau penuh dengan gambar seperti comberan meluap, tak bisa dikenali lagi apa ide dasar desainernya. Atau plontos tanpa sentuhan rasa. Dan memang begitu juga isinya. Lho lho lho? Kok loncat ke desain cover buku? Hehehe, beginilah susahnya punya otak acak abstrak. Untungnya, dengan begitu saya jadi lebih bisa menikmati hidup, this life is an harmony. Nothing (?) goes as your plan, but it's okay. Anyway, sudah saatnya ke tempat les.
Fuuuh, batal lagi. Parahnya, adik lesku baru ngasih tau kalau dia lagi di luar kota setelah aku kongkow-kongkow hampir tiga per empat jam sambil nonton TV, plus baca cerpen dan berita-berita tidak penting di koran yang tergeletak begitu saja di atas meja. Secangkir teh manis yang tak habis saya minum kutinggalkan begitu saja. Fyuuhhh.. tak bisa terus begini! Saya harus segera menemukan usaha baru yang lebih prospektif! Agak terlalu berat untuk otak yang condong lebih care pada social enterpreneurship seperti saya ini. Langkah cerdas, keras, dan ikhlas untuk mencetak lembaran hijau.. merah.. fyuuh.. Saya susuri jembatan layang yang sengaja di desain tanpa undak-undak untuk memudahkan tuna netra menyeberang dengan permenungan yang tak jauh beda dengan saat saya berangkat. Dengan matahari yang masih sama garang. Dan kantong yang masih sama kosong [hahaha... ;p]. Menyusuri jalan Pajajaran dengan sisi dan arah yang berkebalikan dengan awal saya datang, saya perhatikan, ternyata jalan ini sangat tidak menyenangkan untuk orang yang mengandalkan rabaan tongkat dalam berjalan. Bagaimana tidak, pohonan dibiarkan (* oups, sengaja dinK!) tumbuh di tengah trotoar, sementara beberapa bagian jalan berlubang, ada juga gundukan batu sisa bahan bangunan dibiarkan teronggok. Saya yang dapat melihat saja harus berkali-kali berzigzag mencari lintasan yang nyaman untuk sepatu (teman) saya yang sudah lumayan keramat ini. Dan trotoar macam ini hampir ada diseluruh pinggiran jalanan Bandung. Setidaknya di wilayah ini lebih baik, masih ADA trotoar yang lumayan lebar. Mata saya kembali tertusuk, seorang lelaki dengan pakaian yang tidak sepantasnya tidur menantang matahari di trotoar depan Kimia Farma. Beberapa langkah lagi saya akan berbelok ke arah jalan Wastukencana lalu melupakan semua yang saya lihat, dengar, dan kecap beberapa saat yang lalu. Tapi lelaki tadi (mungkin) masih akan terus di sana, terngungun di tengah aliran kendaraan, menjaga kerawanan jiwanya utuh tak terjamah. Lalu menyisakan tanya, siapa yang harus bertanggung jawab atas dirinya? Masyarakat? Masyarakat yang mana? Negara? Negara yang seperti apa? Atau malah (memang) dia tidak pernah berpikir. Hanya akan menagih di akhirat nanti, pada saya, polisi, pedagang, sopir, anak SMA, Anda dan semua yang lalu lalang di sana: 'Yaa Alloh.. mereka waktu itu melihatku seperti ini dan seperti itu.. tapi jangankan mereka yang memiliki otak waras itu memberi saya tempat berteduh, menawari saya makan atau memberi saya pakaian pun mereka enggan.. Yaa Alloh, adakah yang pantas untuk orang-orang yang cuma bisa memandang dan berkeluh atas diri mereka sendiri itu? Adakah yang pantas untuk orang-orang yang cuma bisa bergumam kasihan tapi mampu mendandani anaknya dengan segala rupa.. Orang-orang yang mampu makan es krim sementara berpikir belasan kali untuk memberi sedekah seharga sebutir pemen yaa Alloh.. Aku minta keadilanmu.. "
Rabb, bebaskan hamba dari prasangka
Bebaskan hamba dari kekhawatiran atas masa depan
bebaskan hamba dari kelemahan..
Dan rizkikan hamba Qiyamul lail..
Rizkikan hamba tilawah..
Rzkikan hamba kesyukuran
Rizkikan hamba dzikir yang tiada berputusan...
[[ dengan rindu pada Muhammad.. Andai nur-mu yang mulia ada di sini, bercucurankah air matamu? ]]
Thursday, March 29, 2007
SuRaM

Seperti bunga ini, indah tapi suram
Begitu rasanya,,,
huwa,,, huwa,,, huwaa,,,
=(( ---> icon berleleran air mata versi YM!
HaPe ku yang ijo
Yang imut
yang bergambar ganja..
dan bertuliskan "light it, smoke it.. RELAX!"
ngadat mulu!
mati terus kalo diidupin!
Apakah karena bermuatan madat
makanya..
huhuhu.. O Alloh please!
Don't kill this greeny-stupid thing!
I need it!
huhuhu...
Debu di Tanah Impian
9:19 AM 3/28/2007
debu-debu purba masih menjangkau remuk redam hati kita
udara ini pernahkah menyelinap di paru-paru orang suci empat belas abad yang lalu?
pagi ini kita bayangkan di antara sejuta debu itu
ada satu yang menyelindap diam-diam
jatuh laksana embun ke daunan
debu yang sama pernah mengucuri darah syahid Hamzah
debu yang juga sempat melekat di jubah Sang Umar
atau kalau boleh lagi bermimpi,
debu yang juga telah menyambangi nafas Sang Rasul Pilihan
debu yang mengabarkan kepada kita:
cintaNYA yang abadi masih memayungi penggalan alam ini
mungkin dia telah melalui beribu perjalanan
menjadi saksi sejarah yang berpulang:
dari kematian telah diciptakan
menuju kematian dipurnakan
masih debu yang sama
empat belas abad silam
mengedar di antara paru-paru kita yang gosong
pekat abu dosa dan asap nista
:menghirup udara yang sama tak lagi membuatmu seteduh mereka
ketika pulang kita hanya tetirah raga,
bukan lagi mengembalikan jiwa
:kubah itu bukan untuk dikagumi
:batu itu bukan untuk dibanggakan
atau,
kita hanya sekedar ingin menyambung nama?
dua huruf di depan seakan stempel kesalihan kita?
dan talbiyah itu telah gadai, rupanya..
[][][] entah kapan bisa 'pulang' memenuhi panggilanMU..
semoga diberikan keberkahan..
semoga sebelum dua puluh lima dapat kucium wangi jejak Muhammad,
tepat di mana dia dulu berpijak.. [][][]
debu-debu purba masih menjangkau remuk redam hati kita
udara ini pernahkah menyelinap di paru-paru orang suci empat belas abad yang lalu?
pagi ini kita bayangkan di antara sejuta debu itu
ada satu yang menyelindap diam-diam
jatuh laksana embun ke daunan
debu yang sama pernah mengucuri darah syahid Hamzah
debu yang juga sempat melekat di jubah Sang Umar
atau kalau boleh lagi bermimpi,
debu yang juga telah menyambangi nafas Sang Rasul Pilihan
debu yang mengabarkan kepada kita:
cintaNYA yang abadi masih memayungi penggalan alam ini
mungkin dia telah melalui beribu perjalanan
menjadi saksi sejarah yang berpulang:
dari kematian telah diciptakan
menuju kematian dipurnakan
masih debu yang sama
empat belas abad silam
mengedar di antara paru-paru kita yang gosong
pekat abu dosa dan asap nista
:menghirup udara yang sama tak lagi membuatmu seteduh mereka
ketika pulang kita hanya tetirah raga,
bukan lagi mengembalikan jiwa
:kubah itu bukan untuk dikagumi
:batu itu bukan untuk dibanggakan
atau,
kita hanya sekedar ingin menyambung nama?
dua huruf di depan seakan stempel kesalihan kita?
dan talbiyah itu telah gadai, rupanya..
[][][] entah kapan bisa 'pulang' memenuhi panggilanMU..
semoga diberikan keberkahan..
semoga sebelum dua puluh lima dapat kucium wangi jejak Muhammad,
tepat di mana dia dulu berpijak.. [][][]
Tentang Seseorang dan Orang-Orang Lainnya
dan aku lihat dirimu di sana
duduk di singgasana intelektualitas,
bersama para penggede yang satu titik nanti akan kamu lampaui kebesarannya
lalu lagu itu kembali menggema
kutipan-kutipan indah, efek samping dari penyakitmu yang kelewat kutu buku itu
tapi kata-kata indah tidak cukup untuk membuat otak-otak di kubangan ini menetas!
mereka, aku, dan kamu
mungkin hidup dalam dimensi yang sama
tapi tetap saja,
proyeksi kita bersilangan sekian derajat!
beberapa di antara kita mendekati bejat!
aku lihat tahta yang itu tidak lagi berdaya
tinggal selongsong kilau miskin makna
meringis aku
membayangkan tiga puluh ribuan nyawa,
tiga bulanan lagi akan bersabung memperebutkannya
lalu jutaan yang tak pernah sempat berlaga
mengais-ngais sisa koran yang dibuang mereka-mereka yang kalah
atau mengasak sisa pesta si menang
terhenyak aku sadari,
pikiranku sendiri telah busuk
terlalu prematur memandang mentari pagi:
apa benar masih akan ada esok hari?
kembali mataku berpijak
di matamu yang bertirai kaca
entah, mungkin bahasa kita beda
hingga kau tak bisa menangkap kupu-kupu yang sekarang berseliwangan
dengan kelepak transparan keperakan
mungkin sebanyak mereka-mereka yang akan berebut menara itu,
tahta gading yang membuatmu bersinar siang kemarin
26.03.07
duduk di singgasana intelektualitas,
bersama para penggede yang satu titik nanti akan kamu lampaui kebesarannya
lalu lagu itu kembali menggema
kutipan-kutipan indah, efek samping dari penyakitmu yang kelewat kutu buku itu
tapi kata-kata indah tidak cukup untuk membuat otak-otak di kubangan ini menetas!
mereka, aku, dan kamu
mungkin hidup dalam dimensi yang sama
tapi tetap saja,
proyeksi kita bersilangan sekian derajat!
beberapa di antara kita mendekati bejat!
aku lihat tahta yang itu tidak lagi berdaya
tinggal selongsong kilau miskin makna
meringis aku
membayangkan tiga puluh ribuan nyawa,
tiga bulanan lagi akan bersabung memperebutkannya
lalu jutaan yang tak pernah sempat berlaga
mengais-ngais sisa koran yang dibuang mereka-mereka yang kalah
atau mengasak sisa pesta si menang
terhenyak aku sadari,
pikiranku sendiri telah busuk
terlalu prematur memandang mentari pagi:
apa benar masih akan ada esok hari?
kembali mataku berpijak
di matamu yang bertirai kaca
entah, mungkin bahasa kita beda
hingga kau tak bisa menangkap kupu-kupu yang sekarang berseliwangan
dengan kelepak transparan keperakan
mungkin sebanyak mereka-mereka yang akan berebut menara itu,
tahta gading yang membuatmu bersinar siang kemarin
26.03.07
Tuesday, March 27, 2007
Kilatan Jiwa
.. semoga jiwa ini benar-benar bergerak!
bukan sekedar bergerak-gerak!
karena jika jiwa ini besar,
maka raga tak akan pernah lelah mengikuti kehendaknya..!
[] taushiyah beberapa ikhwah, pekan ini ]]
ada keinginan, banyak jalan
tak ada keinginan, banyak alasan..!
[[ promo pemira km itb, pekan ini ]]
bukan sekedar bergerak-gerak!
karena jika jiwa ini besar,
maka raga tak akan pernah lelah mengikuti kehendaknya..!
[] taushiyah beberapa ikhwah, pekan ini ]]
ada keinginan, banyak jalan
tak ada keinginan, banyak alasan..!
[[ promo pemira km itb, pekan ini ]]
Monday, March 26, 2007
Alhamdulillah
Pekan ini..
Hanya A>L>H>AM>D>U>L>I>L>L>A>H...
untuk semua ni'mat
dan
untuk semua cobaan..
yaa 4JJ1
Engkau sayang sekali padaku..
(*
untuk malam yang pekat
dan
untuk hari yang kering
ampuni hamba yaa Rabb..
*)
Hanya A>L>H>AM>D>U>L>I>L>L>A>H...
untuk semua ni'mat
dan
untuk semua cobaan..
yaa 4JJ1
Engkau sayang sekali padaku..
(*
untuk malam yang pekat
dan
untuk hari yang kering
ampuni hamba yaa Rabb..
*)
Subscribe to:
Posts (Atom)