Friday, November 15, 2013

Bumi dan Air

Aku mencintanya seperti air
Dan ia mencintaku seperti bumi
Aku mengabut, membeku, mendidih, membadai...
Menari, merinai, memerangkap pelangi...
Dan ia setia pada bahasa diam
Membendung telaga, melipat riam, menahan ombak
Memecah biji, menumbuhkan pepohon...
Menadah hujanku, dan membimbing mata airku dengan tapaknya
Baginya cinta adalah pembuktian tanpa teorema
Tak kenal kata

Tuesday, November 12, 2013

Siklus

Manusia mendapatkan satu hal: Hidup. Lalu ia kehilangan banyak hal dalam menjalaninya.
Maka jatuhlah satu sayap dari langit untuknya: Sabar. Lalu ia tetap ada saat hidup dilucuti darinya satu per satu.
Hingga turunlah sayap yang kedua: Syukur. Baru ia tahu segala sesuatu yang tadinya bernama hidup, yang berada di luar dirinya, yang hilang satu per satu itu sebenarnya sedang berubah menjadi substansi internal; Sang Aku manusia yang lebih baru. Semoga juga lebih baik.

Dalam dan Kecil

Musuh dari para penulis serius adalah microblogging dan mekanismenya adalah menumpulkan semangat untuk mengeksplorasi pikiran, mendangkalkannya sebagai komoditas pendulang komentar dan dukungan semu. Aih, aku bicara tentang diriku sendiri.

Mengeja Hujan

Aku akan mengajarimu menulis tentang hujan
Bukan
Bukan karena engkau tak pernah melihat hujan
Tapi karena dirimu terlalu tahu tentang hujan
Ketika engkau terlalu tahu tentang sesuatu,
Otakmu tidak lagi mengeja sesuatu itu satu per satu...
Ia akan melengkapi titik-titik air yang belum kau lihat itu
Dengan skenario miliknya sendiri

Saat engkau terlalu tahu akan sesuatu
Kebenaran yang engkau percayai di sarafmu akan mengkudeta kebenaran yang baru bersemi di tanah nyata

Seperti hujan itu
Bagimu ia hanya jutaan milyaran klon titik air
Yang sambang antara langit dan bumi
Tapi ia bukan
Ia adalah jutaan milyaran lakon unik individual
Tak pernah sama satu epik dan melodrama setiap tetesnya
Hanya penciptaNya yang tahu
Tapi engkau tak selayaknya lupa itu

Beringin dan Anggrek

Pohon raksasa yang akarnya mengelilingi kota itu, asalnya hanya batang kecil rapuh dari tunas biji yang lebih kecil lagi. Ia berjuang melewati berbagai musim dan gangguan. Hanya tanaman kerdil macam anggrek, pakis-pakisan, dan keluarga benalu yang tumbuh dengan menumpang pada mereka yang lebih besar. Atau pohon-pohon yang tumbuh secukupnya yang menjadi pohon biasa; mediocre. Jadi kawan, jika kau ingin menjadi sebesar pohon raksasa itu, jika mimpimu layak bercecabang menaungi alam, tak ada jalan lain selain menjalani prosesnya dengan ruh dan tubuhmu sendiri... Dirimu harus memulainya, dari seutas batang hijau yang sepele dan diabaikan... Mencengkeram bumi, memompa ke langit, menumbuhkan helai daun dan menangis di tiap levelnya... Hanya dengan begitu engkau akan menjadi besar.

Jadi jangan selalu merasa tersanjung saat ditawari untuk berdiri di pundak raksasa. Atau menjadi sekoci di kapal induk.. Kamu memang akan aman dan menggapai hal besar dengan mudahnya. Tapi petualanganmu akan berhenti di situ. Kamu punya pilihan lain juga... Menjadi pohon raksasa di atas bukit... Dan jangan selalu merasa kecil saat dirimu baru dua tiga helai daun diterpa angin. Bukan siapa dirimu sekarang; tapi ini soal mau apa engkau berikutnya...

Selagi Hujan

Hal yang rindu ingin dilakukan di sore berhujan dan petir seperti ini, adalah duduk selonjor di kamar entah adik atau ibu, ngariung rame-rame kami-kami para wanita keluarga Mu'arif. Mengobrolkan hal ngga jelas dan ngga penting. Atau, kala-kala Bapak pun turun dari tahtanya dan mengguncangkan ruang tengah atau ruang tamu kami dengan candaan atau lesannya yang menggatalkan.
Iya. Rindu ngobrol tidak penting dengan ibu. Ibu yang melahirkan saya, maupun ibu yang melahirkan setengah diri saya yang lain :) sedang apa gerangan mereka? Saya kira di hari hujan seperti ini, mereka akan memasak sesuatu yang panas. Kudapan dari ubi atau kolak yang manis, membuat nyaman udara yang dihirup keluarga yang bernaung di bawah sayap-sayap mereka. Bagaimana ini? Begitu kuatnya figur mereka hingga anaknya yang kini sudah terbang ke sarang lain ini, bukannya membuat sup panas untuk udara rumahnya sendiri malah asyik merindu hawa mereka. Ah... May I be on your track too, moms... Soon...

Sparkling Life Barricade

Monday, November 11, 2013

Welcome Back, Bong!

Alhamdulillah sudah memasuki 1435 H. Semoga tahun ini lebih baik dari yang sudah-sudah dan makin rajin ngeblog.. Yosh!

Aamiiin

Tuesday, June 04, 2013

Temu Kangen

Laaamaaa sekali ngga nulis :)
Kebanyakn mikrobelogging di pesbuk, cenah..
But yess.. I miss ngelantur panjang lebar di blog..
Sooo...
My next project adalah me-re:sensi komik-komik lokal Indonesia yang menurut saya wajib dikenal dan dibaca oleh anak negeri.
Penasaran?
Tagih saya dunks.. biar ga males *haduh*
Hehehe..
*Grooooooooooooooook*

Wednesday, May 15, 2013

Lima Ratus

Pagi itu, didorong oleh hasrat terpuji memenuhi nafsu sarapan yang tak terbendung (oiiii.... Mau dibuat jadi blog apa ini, Bong? Lama tidak menulis, bahasamu sungguh censored friendly.. Sigh.. #abaikan!) aku pun berjuang menempuh 1367 langkah (bohong, ngga dihitung -,-" ) menuju sumber mata jajanan sarapan nun di RW seberang sana. Setelah bubur ayam dan kue-kue bersemayam di kantong, di jalan pulang pun sesuatu menanti. Ia adalah panggilan jiwa yang tak bisa diabaikan: nasi kuning, yosh! Ah, sebenarnya bukan godaan nasi kuningnya, tapi penjualnya yang gadis cilik manis itu membuat saya merasa ingin membeli dagangannya (o really? Why salivating then?). Yup, jam sepagi ini dia menjaga lapak kecilnya yang hanya berupa meja kecil dan kursi plastik di tepi jalan itu. Saat teman-teman cilik seusianya berseliweran di depannya berangkat sekolah dengan seragam mereka yang juga manis (note: tidak saya jilatin satu-satu, hanya perkiraan.) Saya kira dia pun menyambi membaca buku tulis entah apa. Aku tidak begitu ingat.

So there I go. Memancing uang yang tersisa dari kantongku. Aih shimatta. Hanya ada 4500 padahal harga nasi kuning yang sudah aku pegang itu 5000 perak. Membatalkannya tidak akan meruntuhkan gengsiku (karena memang tidak punya), tapi itu akan meninggalkan rasa tidak enak di lidah (maksud e opo?)

Ya, begitulah. Akhirnya di kantong yang lain aku temukan juga kertasnya Bank Endonesah pecahan besar. Si anak manis dengan wajah gusar menyatakan seluruh uang yang ia hitung dari kalengnya tidak cukup sebagai kembalian. Aku pun tersenyum dan mengambil uang dari tangannya itu setelah menaruh uangku di meja. Lalu aku cepat-cepat berlalu sebelum anak itu beres berpikir tentang apa yang sebenarnya terjadi (ehm, sebenarnya aku cepat-cepat pergi sebelum pikiran burukku menjadikan anak itu sebagai sandera dan penebus menjadi-jadi).

Begitulah.

Kadang kita tidak menghargai arti receh 500 rupiah, sampai kita tahu bahwa 1 M tidak akan menjadi 1 M jika kurang 1 sen saja. Ah, pelajaran yang manis untuk cebong yang jarang beramal ini.

Note super penting: saya ngga makan bubur ayamnya lho.. Beneran saya ngga sarapan sebanyak itu.. Cuma nasi kuning, kue manis dua, gorengan dua, lalu... Eh.. Hehehe... :)

 

Tuesday, February 19, 2013

Nak, Ibumu akan membawamu ke tempat-tempat yang tinggi
Hingga engkau yakin
Sayap kecilmu akan sanggup menembus awan

Tapi Ayahmulah yang akan mengajarimu menegakkan punggung
Dan menjejak bumi



Sunday, February 03, 2013

yubisaki

Temani aku menangis
Dalam hati
Saat ini...


#Jekate, feb forth, tiga belas tahun setelah millenium baru
FmGA!

Friday, November 16, 2012

vestige

x: i love you..
y: but i don't you...
x: take it easy.. I'll love you enough for both of us...


#compiled, dunno from where and where... and a song, possibly..


maybe one day i'll be on that strong leg, watching your distant back and whispering clear to my own ears:  

i too, on the same boat with you, dear Strong-Heart....

Monday, November 12, 2012

do m(y)estical

aku akan menjadi udara yang tak pernah kau lihat
atau tanah yang tiap saat engkau pijak

seperti itulah
jika engkau mengerti maksudku

Wednesday, November 07, 2012

Hollow #1

Tidak dicintai adalah derita yang tidak bisa diwakilkan pada kata-kata dan tak bisa kau bagi dengan siapapun...

Thursday, November 01, 2012

To: Mothers...

Entri "IBU" adalah kata yang membuat kata "TIDAK" bertalak tiga dengan kata "BISA".
Once you are a mother, to convey that you "CAN NOT" is an abstinence...
Or not?

----Masih bergumam tentang kekuatan badai. The Chaos. 

Wednesday, October 31, 2012

Hujan dan Badai

Tuhan, aku menangis
Patah hati
Saat aku meminta hujan
Dan Engkau memberiku badai


Setelah aku kehilangan semuanya
Aku jadi sanggup melakukan apapun

Dan aku tersenyum
Syukur
Atas kekuatan dan dikuatkan
Walau masih terus menangis

Rindu pelangi....


Suatu hari suatu tahun antara 27 Sept dan 27 Okt

Thursday, September 27, 2012

The Tie

When to be happy is a struggle you must conquer,
then you know you are ALIVE....




Thank You, Allah..
I know You hold my dreams, still..
And I shall never lose heart....






Di pelataran surgaNya, kelak, kita kan bertemu kembali
untuk pertama kali dan selamanya, insyaAllah...

~FmGA

Friday, August 31, 2012

Takdir (?)

Tadi sore lewat jendela messenger adik saya mengabarkan sebuah berita kecil, lengkap dengan ikon cengirannya yang selebar dunia: telah mampir ke rumah (orang tua saya) sebuah kartu ucapan selamat Idul Fitri dari seseorang yang sebut saja bernama mbak Muti (mungkin nama sebenarnya), eks teman sekamar di asrama dulu. Kabarnya lagi, itu kartu super unik luar biasa: diduga dan disangka kartu tersebut dibuat oleh anak kecil (yang saya duga dan saya sangka adalah anak mbak Muti sendiri.. eh salah, anak mbak Muti dan suaminya.. Nggak mungkin kan kalo mbak Muti sendiri bisa punya anak? #Eh...) Ya pokoknya begitulah, saya tak sabar ingin segera melihat  wujud kartu ajaib tersebut. Mudah-mudahan masih ada saat saya pulkam nanti...

Yang membuat saya menuliskan tulisan ini, adalah secuil info tambahan dari adik saya: itu kartu SALAH ALAMAT! Bentul sengkali sowdarah sowdaraaah! SALAH ALAMAT! Bukan alamat palsu! (emangnya saya ayu tuing tuing?)

Ceritanya, saya yang dudul ini mengacaukan alamat rumah (orang tua saya) dengan alamat kosan saya waktu mengisi data base asrama. Tapi kenapa tetap bisa nyampe ke tangan orang rumah saya?!? Nah itulah misteri Ilahinya..

Rupanya Pak Pos menafsirkan Jalan Kebon Bibit NO. XX yang nota bene alamat asli kosan saya di Bandung sebagai sebuah perusahaan tempat pembibitan tanaman di daerah tempat tinggal saya. Nyasarlah surat itu ke sana. Padahal sungguh hidup, hal itu tidak ada kaitan fisisnya sama sekali dengan rumah (orang tua) saya. Tapi karena Bapak sering ada urusan "bisnis" yang mengharuskan pergi ke PT Pembibitan tersebut, entah bagaimana, nyampe juga itu surat ke tangan Bapak saya. Voila..

Rizqi..
Yang sudah menjadi bagianmu, akan menjadi bagianmu
Tak kan tertukar, insyaAllah


P.S. Salam rindu untuk semua crew Asrama, terutama Muthie dan Si Kecilnya yang lucu..